Melekatkan Pancasila
Foto: Tuah Aulia Fuadi

MUDANEWS.COM – Sebanyak 17 provinsi, 39 kota dan 15 kapubaten di Indonesia sebentar lagi, tepatnya 27 Juni 2018, akan melangsungkan pesta demokrasi akbar yakni pilkada serentak 2018. Segala persiapan dan tahapannya sudah dimulai Bulan Agustus 2017 kini.

Namun, persaingan antar calon kepala daerah baik tingkat provinsi, kabupaten atau kota jauh sebelumnya sudah memanas. Perang lewat baliho atau spanduk sudah dimulai dan terus akan memanas hingga tahapan pencoblosan nanti.

Salah satu yang akan mengikuti pesta demokrasi akbar tersebut adalah Kabupaten Batubara. Masyarakat dalam berbagai etnis, tentunya harus menjadi pelopor melaksanakan pemilihan Bupati dan Wakil bupati secara baik dan konsekuen sesuai dengan Pancasila.

Artinya, nilai Pancasila yang terdapat dalam sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” diimplementasikan dengan baik dan benar dalam pelaksanaan pesta demokrasi.

Sistem perwakilan dalam pemilihan kepala daerah memang sudah diubah menjadi sistem langsung, namun spirit musyawarah tetap menjadi nafas dari sila keempat Pancasila tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa pemilihan kepala daerah tidak akan membawa kegaduhan dan konflik baik ditingkat vertikal maupun horizontal. Sejatinya, pemilihan Bupati tersebut menjadi media agar saling mengenal, memahami, mencintai dan menyayangi antar sesama warga, berbagai etnis melalui musyawarah nantinya akan mencapai kemufakatan.

Secara faktual, pemilihan kepala daerah baik di tingkat pusat maupun daerah di Nusantara cenderung bertolak belakang dengan yang diharapkan di atas. Jauh dari cita-cita yang ingin dicapai oleh masyarakat kebanyakan, jauh dari nilai-nilai Pancasila. Pemilihan kepala daerah cenderung didominasi oleh saling mencurigai, menghasut, dan mencaci maki, iri hati, bully-membully, hingga kekerasan fisik antar pendukung calon kepala daerah pun tak terhindarkan. Sebuah potret pesta demokrasi yang kebablasan. Jauh panggang dari api.

Kabupaten Batubara, sekali lagi, seharusnya menjadi pelopor pelaksanaan pilkada yang jauh dari tindakan-tindakan tercela. Utamakan nilai dan spirit sila keempat Pancasila dalam berpesta. Masyarakat sebagai peserta pesta demokrasi pilkada serentak nantinya diharapkan dapat menunjukkan sikap warga yang “madani” (baca: beradab), jauh dari perilaku barbar dalam berdemokrasi; korupsi, kolusi dan nepotisme.

Menakar Kandidat Pilihan

Masa pencoblosan pemilihan Bupati Batubara memang masih dalam sepuluh bulan ke depan. Namun, para calon yang sudah beredar di masyarakat terhitung cukup banyak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa iklim demokrasi di tanah melayu ini terlihat sehat.

Siapapun yang punya niat dan kepentingan untuk memajukan dan mensejahterakan warganya boleh mendaftar untuk menjadi orang nomor satu. Dan KPUD sebagai pihak penyelenggara pemilihan umum daerah pasti akan mengakomodasinya, tentu setelah melewati beberapa persyaratan dan tahapan.

Sebut saja misalnya nama Ashari Ramadhan Batubara, seorang perantau pengusaha muda daerah setempat yang sukses di Jakarta, yang berani secara terang-terangan maju pada pilkada 2018-2023. Ia menawarkan visi Batubara Bertuah, Batubara sehat rakyat sejahtera, yakni; kreatif, energik, religius, edukatif dan nyaman. Tentu, dengan sejumlah program yang menguatkan visi tersebut.

Nama lainnya adalah Khairil Anwar, seorang mantan aktivis muda dengan segudang prestasi yang membanggakan. Visinya membawa Batubara Bermartabat. Ia pernah menjadi dosen, Ketua KPUD Batubara, disamping juga menjadi aktivis hukum ia juga pengacara di pemerintah daerah setempat . Aktivitasnya tidak jauh dari kajian dan riset. Salah satunya ia mendirikan Lembaga Bantuan hukum kepada masyarakat bawah, sebuah ciri khas anak muda Batubara yang konsen menghasilkan riset, pemberdayaan dan menebar ilmu pengetahuan.

Selain itu, ia juga dikenal aktif dalam forum yang mendorong keterbukaan informasi terkait sosialisasi keadilan hukum kepada masyarakat bawah. Maka wajar di tahun 2013 silam ia menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum daerah Batubara dan di tahun 2014 ia mulai terjun ke akar rumput sebagai representasi pengabdiaan diri kepada unsur masyarakat.

Atau kita sebut nama berikutnya, yakni Elfi Haris, Darwis, Bahar Siagian, mereka adalah birokrat dan ASN murni yang berpengalaman. Saat ini mereka sudah melintang di pemerintahan daerah hingga ke provinsi.

Mereka semua mempunyai visi untuk Batubara sebagai pusat perdagangan dan jasa yang maju serta berakhlakul karimah. Selain itu, mereka juga ingin mewujudkan Batubara sejahtera melalui pendidikan, kesehatan dan pembangunan infrastruktur. Visi dan misi tersebut pernah mereka paparkan pada tahapan penjaringan bakal calon akhir tahun ini.

Dan sejumlah nama lain bakal sebagai calon Bupati yang tentu memiliki elektabilitas yang kuat serta memiliki popularitasnya masing-masing ditengah masyarakat, Semisal Inf. Zulfan Ibrahim, Zahir, Sofyn Alwi, Ichwan, Hadi Suryono, Zulkarnain, M Yakub. Mereka tak kalah pentingnya dari tiga kandidat yang telah penulis sebutkan di atas; ada juga Saut Siahan, Harry Nugroho, Miarsih, Rizky Aryetta (Anak Kandung Bupati Batubara), Ok Iqbal Frima, Citra Mulyadi Bangun., dengan visi dan misi beragam yang membawa arah perubahan menuju iklim Batubara yang sejahtera dan beradab (madani).

Perlu penulis utarakan disini, agar pembaca tidak salah tafsir. Bahwa penulis tidak mempunyai preferensi siapa yang nantinya akan terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati yang akan masyarakat (publik) Batubara pilih. Yang jelas, pilkada Batubara harus berjalan dengan lancar, aman, tertib, melekatkan spirit dan nilai-nilai Pancasila, terutama sila keempat.

Alangkah bijak dan demokratisnya jika Bupati Batubara yang terpilih juga ikut merangkul rival politiknya yang kalah dalam rangka ingin memperkuat bagian, atau komponen dimana ia sangat kompeten dalam bidang tersebut. Jika demikian, saya kira kabupaten Batubara akan menjadi lebih kuat, kokoh dan solid. Masyarakat Batubara lah yang kemudian akan menikmati imbas dari jurus jitu tersebut.

Jurus jitu diatas adalah representasi dari nilai tertinggi dalam sila keempat Pancasila. Semua pihak menang. Rival politik adalah kawan baik untuk bersinergi membangun Batubara. Tidak ada kata kalah, semua pihak mempunyai kontribusi positif untuk membangun dan memajukan daerah ini bersama-sama. Bekerja sama, bahu membahu serta bergotong royong adalah nilai-nilai luhur dan mulia dari Pancasila.

Kabupaten Batubara harus menjadi model pilkada bagi kabupaten dan kota lainnya di Nusantara, yang menyelenggarakan pemilihan Bupati tanpa kekerasan dan konflik. Regulasi yang telah ditetapkan penyelenggara pemilihan menjadi pedoman teknis di lapangan harus selalu ditaati dan dilaksanakan sebaik-baiknya, karena demokrasi dimulainya dari sana.

Walhasil, hormatilah hak-hak masyarakat sebagai pemilih yang cerdas dan independen. Ajarilah masyarakat berdemokrasi secara sehat tanpa iming-iming uang atau paket sembako dalam serangan fajar; beras, minyak, mie dll,. Lekatkanlah Pancasila sebagai basis nilai leluhur dalam berpesta demokrasi. Wujudkanlah kabupaten ini dengan gaya baru, Batubara yang maju dan beradab, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Opini Batubara, Tuah Aulia Fuadi 

Penulis adalah Mantan Kader HMI Cabang Medan, Badko Sumatera Utara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here