Nilai-Nilai Ketakwaan
Faisal Amri Al-Azhari, M.Ag

MUDANEWS.COM – Nilai-nilai ketakwaan Ramadan secara sempurna telah di raih Rasul saw dan para sahabatnya sehingga menggapai hari fitrah (hari berbuka, hari kembali suci, dan hari raya kemenangan).

Dalam bukunya Majid Ali Khan, Muhammad The Final Messenger, dijelaskan bahwa hari fitrah, hari raya saat itu bukan hanya sekedar hari raya idul fitri, tetapi juga merayakan hari kemenangan perang Badar disamping merayakan kemenangan ibadah puasa melawan nafsu.

*Istimewanya hari raya saat itu karena kewajiban puasa sebulan penuh baru pertama kalinya dilakukan yaitu tahun ke 2 Hijrah, lalu menang pula pada perang Badar pada tanggal 17 Ramadan (pendapat Jumhur).

*Di tahun ini juga pertama kalinya kewajiban zakat fitrah, shalat ‘idul Fitri secara berjamaah. Begitu juga ibadah Qurban dan ‘idul Adha.

Suatu pencapaian kemuliaan sekaligus kemenangan yang sangat luar biasa, meraih hari ‘id (kemenangan yang dijanjikan), inilah hakikat hari raya.

Sebagai esensi dari dua kemenangan Rasul saw dan para sahabat di atas adalah menangnya identitas diri sebagai orang beriman yang telah melaksanakan puasa melawan hawa nafsu dan eksistensi keberadaan Islam tidak dipandang remeh oleh para penentangnya khususnya kafir Quraisy saat itu.

Juga hebatnya lagi, sebagai tanda penerapan syari’at islam secara kokoh dari kewajiban puasa Ramadan, zakat Fitrah, shalat ‘Idain, dan Qurban. Karena itu tahun ke 2 Hijrah menjadi sangat istimewa saat itu.

Lalu kita sebagai umatnya, sebagai penerus dakwah Nabi saw dan para shabatnya sudahkah melanjutkan esensi dari nilai kemulian dan kemenangan yang hakiki di atas?

Berusaha menggapai seperti Nabi saw dan para sahabatnya dalam menggapai nilai kemulian dan kemenangan seperti di atas, agar Islam tampak sinar kewibawaannya.

Islam dan Muslim benar-benar menggapai kemenangan yang setiap tahun ada sarana memulihkan dan meningkatkan spirit dan spiritual. Semangat terus baru, sehingga hari raya benar benar dirasakan hakikatnya. Hakikat kemenangan hari raya.

Baiknya kita renungkan perkataan Ibn Rajab dalam memaknai hari raya secara spirit dan spritual. Sehingga raya kemenangan itu bisa dirasakan yang pernah dirasakan Rasul dan Para Sahabatnya.

قال ابن رجب في لطائف المعارف:
ليس العيد لمن لبس الجديد-انما العيد لمن طاعته تزيد

ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب-انما العيد لمن غفرت له الذنوب

اليوم لنا عيد وغدا لناعيد وكل يوم لا نعصى الله فيه فهو لنا عيد.

Berkata Ibn Rajab dalam bukunya Lithaif al-Ma’arif:

Raya (‘id) itu bukan pakaiannya yang baru, tapi raya itu yang ketaatannya bertambah (maju).

Raya itu bukan baju dan kendaraannya bagus, tapi raya itu yg dosa-dosanya terhapus (diampuni).

Ini hari, esok hari, dan tiap hari adalah hari raya bagi kita, yaitu hari-hari dimana kita tidak bermaksiat kepada Allah.

Untuk menyempurnakan nilai-nilai ketakwaan Ramadan baik itu;
nilai akhlak & kepemimpinan
nilai keilmuan
nilai jamaah & sosial
nilai kontemplasi
nilai kemulian; Alquran & Lailah al-Qadr
nilai kebahagian
nilai kemenangan
Semoga dapat menempa jasmani dan rohani kita menjadi pribadi yang bertakwa.

Terakhir tidak lupa kita jalankan Sunnah Nabi saw untuk menyempurkan nilai ketakwaan puasa Ramadan dengan menjalankan puasa enam Syawal. Dalam riwayat Muslim disebutkan nilainya seperti puasa setahun penuh (Hijriyah; 360 hari). Ramadan 30 hari, Syawal 6 hari. Ganjaran satu kebaikan dilipatgandakan 10 kali (QS.6:160). Maka jadilah 360 hari.
من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر. (رواه مسلم)

من جاء بالحسنةفله عشر أمثالها. (الأنعام: ١٦٠)
[ ]

إنتهى.

اللّه أعلم بالصواب.

P. Brandan, 12 Syawal 1440 / 15 Juni 2019

 

Oleh: Faisal Amri Al-Azhari, M.Ag