Nilai-Nilai Ketakwaan
Faisal Amri Al-Azhari, M.Ag

MUDANEWS.COM – Penjelasan Lailah al-Qadr ini sangatlah luas. Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani, Prof. Hamka, serta Ahmad Hassan menyebut ada 45 pendapat ulama.

Bicara “Lailatul Qadr” maka tidak bisa lepas dari “Alquran” dan “Ramadan”. Ketiganya terkait erat.

Kemulian Alquran dan Lailatul Qadr tidak bisa dipisahkan. Juga tidak bisa dipisahkan dengan kemulian Ramadan. Karenanya bulan ini yang mengandung malam kemuliaan itu layak untuk dipuasai. Hal ini berdasarkan 4 surah dalam Alquran:
QS. al-Qadr (97) ayat 1-5
QS. ad-Dukhan (44) ayat 3-5
QS. al-Baqarah (2) ayat 185
QS. al-Anfal (8) ayat 41.

Bahkan ada yang menafsirkan surah al-Fajr (89) ayat 2; “وليال عشر” malam-malam yang sepuluh (Ramadhan), sebagai isyarat malam Lailatul Qadr di tanggal ganjil akhir Ramadan.

Ulama tafsir dan sejarah tidak sepakat apakah Lailatul Qadr yang terkait turunnya Alquran dengan Laitul Qadr yang di sepuluh akhir Ramadhan itu sama.

Syaikh Safiurrahman al-Mubarakfury dalam ar-Rahiq al-Makhtum sepertinya menyamakan, beliau mengkompromikan keduanya dan memilih tanggal 21 Ramadhan turunnya Alquran, berdasar perhitungan ahli sejarah dan riwayat.

Ahmad Hassan dalam Al-Furqan Tafsir Quran-nya berpendapat seperti Jumhur tanggal 17 Ramadan (Sedang Muhammadiyah dalam Tafsir at-Tanwir berpendapat tanggal 19 dengan meramu nukilan riwayat beserta “metode hisab”nya) tapi tidak menjelaskan apakah keduanya sama maksudnya.

Sedangkan Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran dan Tafsir-nya mengutip pendapat ad-Dahlawi, menjelaskan bahwa Lailatul Qadr saat diturunkannya Alquran bukanlah Lailatul Qadr yang disuruh kita mencarinya sepuluh akhir Ramadan, dan sifat kedua malam al-Qadr itu tidaklah sama.

Lalu, mengenai makna, Prof. Ali Ya’kub Matondang menjelaskan al-Qadr diartikan mulia atau manusia ditetapkan. Dua pengertian ini saling terkait. Artinya, Allah menetapkan bahwa manusia itu mulia dan diturunkan Alquran agar dapat menambah kemulian manusia itu.

Makna “kemulian atau malam kadar” itu sesuai dengan surah al-Qadr ayat 1-5, lalu dimaknai “malam yang penuh berkah” sesuai dengan surah ad-Dukhan ayat 3-5.

Lalu, bagaimana hakikat Lailah al-Qadr, apakah terbatas waktunya? Prof. Buya Hamka dalam bukunya Renungan Tasawuf, mengemukan bahwa:

“Berusia 1000 bulan pun lebih, terlalu lama. Jarang manusia yang mencapai usia melebihi 80 tahun. Kalaupun ada, kekuatan sudah tidak ada lagi. Tetapi, Tuhan membuka kepada kita saat-saat pendek yang menentukan arah hidup kita”. Di zaman lain di tempat lain, di dalam Ramadan dan di luar Ramadan, In Syaa Allah kita pun dapat merasakan suasana Lailah al-Qadr. Setiap waktu kita dianjurkan mencarinya, mencobanya. Syukur kalau kita sering mendapatkannya.”

Jika suasana berkah dan mulia Lalilah al-Qadr bisa diraih kapan saja, suasana yg satu waktu lebih mulia dari ribuan bulan (min alfi syahrin), bukan dimaknai “seribu bulan”, tapi “ribuan bulan” (teringat penjelasan ini saat kuliah dari Dosen penulis, Dr. Achyar Zain) untuk menunjukan kemuliannya tidak terikat dengan satu waktu dan kemuliannya tidak terbatas.

Prof. Hamka menjelaskan lebih lanjut, beliau mencontohkan tiga orang yang meraih kemuliaan ini.

Pertama, ‘Umar ibn al-Khattab yang satu hari ingin membunuh Rasulullah, al-Qadr menghampirinya, (ketentuan lain) malah berbalik memeluk Islam di hari itu juga setelah membaca surah Thaha. Momen seperti ini tentu bagi sosok ‘Umar adalah momen termulia sepanjang hidupnya. Momen lebih mulia dari ribuan bulan masa hidupnya, bahkan menjadikannya al-Faruq yang kepemimpinannya diakui seanjang masa.

Kedua, Fudhail ibn ‘Iyadh, di satu malam beliau ingin berzina, lalu al-Qadr pun menghampirinya sehingga beliau tidak jadi berzina karena mendengar lantunan ayat 36 surah al-Hadid. Malam itu pun menjadi malam termulia dalam hidupnya, bahkan malam itu awal menjadikannya seorang ulama besar di zamannya.

Ketiga, Muhammad Jamil Jambek, yang satu malam dikejar-kejar orang karena kelakuannya, lalu bersembunyi dekat Surau hingga azan Subuh membangunkannya. Suara yang tiap hari di dengarnya, namun suara azan subuh saat itu berbeda, al-Qadr yang merubah hidupnya menjadi lebih baik bahkan menjadi malam terbaik sepanjang hidupnya, al-Qadr menghampirinya, bahkan awal menghantarkannya untuk menjadi salahsatu ulama besar di Minangkabau.

Demikian, dua nilai kemulian; “Alquran” dan suasana “Lailah al-Qadr” akan terus menghampiri selagi kita mau mencarinya dan memuliakannya.

Terkhusus untuk mendapatkan kemulian Alquran sebagai hidayah, rahmatan lil ‘alamiin, perlu tadabbur sebagaimana yang dijelaskan Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam Tafsir at-Tanwir-nya bahwa membaca saja tidak cukup harus diikuti dengan tadabbur. Bahkan Hamka berdasarkan pengalamannya beliau melihat orang yang lebih paham maksud agama dengan cara membaca terjemahan atau tafsirnya, daripada orang yang selalu membaca Alquran hanya mengharapkan pahala semata, mereka tidak mengetahui maksud yang dibaca.

Lalu bagi kita, sudah berapa kali kita megkhatamkan Alquran dengan memahami maknanya minimal terjemahannya?

Barangkali seumur hidup sekalipun belum pernah kita khatam membaca Alquran dengan terjemahnya. Bersyukur bila kita yang mahir bahasa Arab sehingga mudah memahami ayat yang dibaca.

Dengan memahami makna Alquran bagian dari memuliakan Alquran sehingga perlahan bisa kita amalkan dalam kehidupan. Serta bagian aplikasi dari ” iman kepada kitab-Nya”. Tidak hanya menyakini dan membacanya tetapi juga memahami, merealisasikan amal perbuatan.

Semoga kemulian Alquran bisa menjadikan nilai Lailah al-Qadr bagi kita. Sebagaimana dua kemulian ini melekat sekaligus pada diri al-Faruq, Fudhail, Jamil Jambek, dan Muhtadin-lainnya.
…………..

Bersambung…

Stabat, 9 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

Oleh: Faisal Amri Al-Azhari, M.Ag