Nilai-Nilai Ketakwaan
Faisal Amri Al-Azhari, M.Ag

MUDANEWS.COM – 

شهر رمضان الذي أنزل فيه القران هدى للناس وبيّنات من الهدى والفرقان… (البقرة: ١٨٥)

Ayat 185 surah Al-Baqarah ini menjadi peringatan bagi kita, sekaligus mengingatkan kita bahwa Allah menganugerahkan dua kemuliaan besar, dua anugerah besar di bulan Ramadhan yaitu puasa itu sendiri dan Alquran. Makanya di ujung ayatnya ditutup dengan kalimat “لملكم تشكرون” agar kalian bersyukur.

Khususnya bersyukur karena diturunkannya Alquran. Setiap Ramadhan diingatkan tentang nuzul Alquran, yang bukan hanya sekedar memperingati turunnya tapi benar-benar sebagai peringatan. Sebagai hidayah, sebagai rahmatan lil’alamin.

Tiada yang paling besar nikmat yang Allah turunkan selain Alquran, karena ia sebagai sumber hidayah.

Hidayah plus kemulian. Sehingga yang terkait dengan Alquran akan menjadi mulia dengan sendirinya.

Alquran dibawa malaikat Ruhul Amiin, sehingga Jibril pun menjadi malaikat yang paling mulia. Bahkan hanya malaikat yang disucikan yang bisa menyentuh Alquran, artinya mereka yang terpilih, diistimewakan yang bisa dekat Alquran.
لا يمسّه إلا المطهّرون. (الواقعة: ٧٩)

Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad, beliau pun menjadi Afdalul Mursalin, sebaik-baiknya utusan.

Alquran turun kepada umat Nabi Muhammad, jadilah umat beliau umat terbaik (كنتم خير أمة).

Alquran dipelajari dan diajarkan oleh seseorang, maka ia pun menjadi pribadi yang paling mulia. Sebagaimana sabda Nabi saw.
خيركم من تعلّم القران و علّمه

Lailatul Qadar menjadi malam paling mulia karena Alquran turun bertepatan dengan malam itu.

Puasa Ramadan menjadi puasa paling mulia dibanding puasa yang lain karena turunnya Alquran bertepatan dengan puasa bulan itu.

Bulan Ramadan menjadi bulan paling mulia karena Alquran turun di bulan itu.

Perang Badar menjadi perang paling mulia, dikenal Yaumul Furqan, karena disaat perang itu tepat waktu sama turunnya Alquran. (QS.8:41)

Hingga, hari-hari kita bersama Alquran itulah hari yang paling mulia dalam hidup kita.

Masih banyak lagi kemulian Alquran. Ini menjadi asas bahwa hanya orang yang mulia yang dekat, bersama dengan Alquran.

Siapapun memuliakan Alquran, Allah pun memuliakannya. Alquran menjadi standar kemuliaan. Siapapun tahu bahwa salat adalah ibadah yang paling mulia (ولذكر اللّه أكبر), dan yang berhak memimpin ibadah termulia tersebut yang paling ahli Alquran.

Begitu juga, proses penguburan beberapa orang mati syahid dalam satu liang lahat, maka yang paling berhak posisi bawah adalah yang paling banyak hapalan Alqurannya.

Bahkan, mengajarkan Alquran bisa dijadikan mahar nikah, sebagai suatu kemulian baginya dan calon istrinya.

Sebaliknya yang berani menolak Alquran kafirlah ia. Menjadi manusia hina. Bahkan diancam Nabi bukan golongan beliau.

ليس منّا من لم يتغنّ بالقران

” Bukan golongan kami siapa yang tidak mau bersenandung dengan Alquran ”

Memuliakan Alquran salah satunya adalah dengan mentadabburinya, memahamami isinya, dengan paham kita isinya maka dapat kita mengamalkannya. Tampaklah bahwa proses pengamalan Alquran itu butuh perjuangan. Makanya wajar Rasul saw mengatakan bahwa:

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» البخاري.

Namun, di zaman now, zaman milenial, kita prihatin bahwa perhatian kita terhadap Alquran sangatlah kurang bahkan cendrung ditinggalkan.

Betapa tidak, dulu setiap ba’da subuh dan magrib selalu terdengar lantunan suara ayat Alquran di rumah-rumah.

Namun sekarang, yang terdengar malah lantunan suara musik, mulai dari lagu cinta satu malam, ku hamil duluan, selimut tetangga, sampai despacito yang liriknya mengajarkan berzina. Lagu jatuh cinta, patah hati, sakit hati, semua urusan hati, bahkan sampai lagu wik wik, yang semuanya hanya mematikan kepekaan hati dari mengingat Allah dan semangat beramal. Na’udzubillah…

Inilah kenyataan yang sedang dihadapi dimasyarakat, lebih memprihatinkan lagi generasi muda kita bahkan ada yang tidak tahu membaca Alquran, bahasa Arab tidak dipelajari, konon mau mengamalkan ajaran Islam? Jika pemuda kumpul dan nongkrong, yang dibahas bukan ayat Alquran, bukan fikih, bukan pelajaran sekolah, bukan kalimat tayyibah, bukan nasihat-nasihat, bukan juga amar ma’ruf nahi munkar.

Tetapi yang dibahas cewek, cerita cabul, cakap kotor, status medsos, game online, pacaran, merokok, bahkan minuman keras, narkoba, sudah hal yang biasa. Na’udzubillah…
Siapakah yang bertanggungjawab terhadap ini semua?

Jika kita diam, tidak mampu mengontrol mereka, maka efek negatifnya lebih besar dari yang kita bayangkan.

Mereka sudah merasa cukup hidup di dunia maya, dunia nyata mereka tidak lagi kenal saudaranya, tetangganya, peran sosialnya bisu. Smartphone di tangannya tidak lagi peduli dengan sekitarnya telinganya tuli hanya untuk sekedar menyahuti panggilan orang tua.

Facebook, WA, IG, Game Online, YouTube, dan semua koneksi bisa terhubung kapanpun dan dimana pun bagaikan anak kecil memegang pisau yang belum bijak untuk menggunakannya.

Efeknya yang dihasilkan ialah candu, kesenangan, dan ketergantungan, tanpa HP mereka seperti tidak bisa hidup, pagi siang malam mau tidur bangun tidur tangannya terus berzikir menggerakkan jari tetapi bukan untuk Allah, zikir mereka untuk pacar mereka, teman happy mereka, untuk mencari kesenangan nafsu sesaat melihat video tak senonoh, main games, habis waktunya untuk maksiat, melalaikan salat, tidak lagi belajar, apalagi mempelajari Alquran.

Bukankah ini bencana besar, fitnah besar yang sedang kita hadapi, bukan tsunami, bukan banjir, bukan hujan batu, bukan juga gempa bumi membuat orang sempoyongan. Bahkan efek negatif dari zaman now itu lebih besar lagi.

Mereka seperti kena gempa tidak sadarkan diri, mabuk, dan gila. Mabuk cinta, gila medsos, gila mobile legend, mereka seperti tidak hidup di dunia nyata, karena waktunya habis di dunia maya. Yang lebih dahsyat lagi tidak hanya kaum muda sebagian orang tua pun terpengaruh efek negatif ini. Keadaan seperti ini, dunia rasanya seperti runtuh-kiamat. Na’udzubillah…

Patut kita renungkan firman Allah swt berikut:

يوم ترونها تذهل كل مرضعة عما أرضعت وتضع كل ذات حمل حملها وترى الناس سكرى وما هم بسكرى ولكن عذاب الله شديد

“(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal Sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. al-Hajj/22: 2).

Semoga ayat ini menjadi peringatan bagi kita, agar terhindar dari bencana karakter di atas, yang tadinya lalai dari Alquran, kembali menumbuh kembangkan serta membumikan Alquran. Sehingga terwujud generasi Qurani.

Bersambung

……………………..

P. Brandan, 8 Syawal 1440 / 12 Juni 2019

Oleh: Faisal Amri Al-Azhari, M.Ag