Nilai-Nilai Ketakwaan
Faisal Amri Al-Azhari, M.Ag

MUDANEWS.COM – Saat Ramadan kita beri’tikaf, zikir, doa, tafakkur, dan istigfar serta ‘uzlah. Ini semua sebagai meditasi-olah jiwa terbaik, merenung dan menghisab diri, dan merupakan bagian mensucikan jiwa.

قد أفلح من تزكّى. وذكر ٱسم ربّه فصلّى.
“Sungguh beruntung orang yang membersihkan diri (dengan beriman), Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”. (QS. al-A’la/87: 14-15).

قد أفلح من زكّىها
“Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa itu”. (QS. asy-Syams/91: 9).

Jadi, diluar Ramadan tetaplah kita terus lakukan ini, tidak berhenti istigfar, berzikir, berpikir, akan keagungan-Nya. Zikir dalam arti yang luas zikir secara lisan, perbuatan, dan hati. Kita sering mendengar, bahwa: “orang yang tidak senantiasa berzikir, lalai mengingat Allah tak ubahnya dia seperti bangkai berjalan”.

Bukankah puncak ketenteraman/ketenangan hidup itu hanya bisa diraih dengan zikir kepada Allah:

الذين امنوا وتطمئنّ قلوبهم بذكر اللّه ألا بذكر الله تطمئنّ القلوب
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. ar-Ra’d/13: 28).

Bukankah dengan mutmainnah membawa kita kepada ridha-Nya. Dan bukankah ridha-Nya membawa kita ke surga-Nya.

يا ايتها النفس المطمئنّة. ارجعى إلى ربّك راضية مرضية. فادخلى فى عبادى. وادخلى جنّتى.
“ Hai jiwa yang muthmainnah (tenang). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha (puas) lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku”. (QS. al-Fajr/89: 27-30).
……………………..

Bersambung ke bagian 6 …

P. Brandan, 7 Syawal 1440 / 11 Juni 2019

Oleh: Faisal Amri Al-Azhari, M.Ag