Keluarga Pahlawan Demokrasi
Aulia Rahman (peci hitam) menyerahkan santunan

MUDANEWS.COM, Medan – Jaringan Gusdurian, Yayasan Bani Abdurrahman Wahid (YBAW) dan KitaBisa.com memberikan santunan duka kepada para pejuang demokrasi, yakni kepada para petugas yang meninggal dunia saat atau dalam proses menjalankan tugas pada Pemilu 2019 lalu.

Santunan ini di antaranya diberikan kepada keluarga Parsaoran Pardede, salah seorang petugas pengawas Tempat Pemungutan Suara (TPS 86) di Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara, Minggu (2/6/2019).

Menurut Aulia Rahman, selaku Koordinator Gusdurian Medan, sebagai komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi, Jaringan Gusdurian turut serta mendukung penyelenggaraan pemilu 2019 secara damai dan demokratis sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan Gus Dur. Begitu pula dengan para pejuang demokrasi yang gugur dalam menjalankan tugas, kami turut berempati dan berbela sungkawa.

“Sebagai bentuk empati, Seknas Jaringan Gusdurian bekerja sama dengan kitabisa.com telah membentuk relawan untuk menyalurkan bantuan kepada ahli waris para penyelenggara pemilu yang meninggal dalam menjalankan tugas yaitu 51 korban di 34 daerah/kabupaten di seluruh Indonesia termasuk salah satunya adalah di kota Medan. Selaku keluarga besar Jaringan Gusdurian, kami berharap semoga para keluarga yang ditinggalkan bisa diberikan kekuatan dan ketabahan pasca ditinggalkan almarhum/almarhumah yang gugur dalam bertugas serta dapat melanjutkan perjuangan dalam mengawal Demokrasi di Indonesia,” tutur Aulia Rahman.

Menurut keterangan dari istri Parsaoran Pardede, almarhum meninggal saat bertugas menjadi pengawas pemilu di TPS 86 Tanjung Sari pada usia 55 tahun akibat kelelahan.
“Suami saya meninggal akibat kelelahan sehingga membuat pembuluh darah di kepala pecah dan dipenuhi darah,” ungkap Pasu Ria Siahaan.

Dalam sambutannya, Pasu Ria Siahaan mengucapkan terima kasih atas perhatian semua pihak terutama Jaringan Gusdurian, YBAW dan Kitabisa.com. “Sebelum menghembuskan nafas terakhir tanggal 21 April 2019 lalu, bapak sempat dirawat di Rumah Sakit terdekat dan juga dipindahkan ke Rumah Sakit lain karena alasan medis,” tutur beliau sambil menangis terkenang.

Dalam perjuangan mengawal demokrasi digambarkan istri beliau, Almarhum memang semangat sekali ikut dengan panwaslu itu, ini harus di kawal ketat supaya tidak terjadi keributan atau kerusuhan di TPS nya itu, itu memang cita cita nya.

Sebelum hari H dia sudah telpon-telponan sama ketua KPPS, cemana ini harus aman jangan sampai ada keributan. Itu lah perjuangan dan semangat suami saya saat bertugas menjadi pengawas pemilu dan kehadiran bapak bapak Gusdurian ini dikeluarga kami membuat kami cepat terhibur dan untuk kedepan semoga anak-anak saya pun dapatkan berkat-berkat yang baik dari Tuhan dan kepada Gusdurian saya beserta dua orang anak saya mengucapkan banyak terima kasih, dan saya kirim salam dan terima kasih kepada ibu Alisa Wahid,” kata Pasu Ria Siahaan.

Adapun Panwaslu Kecamatan Medan Selayang mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya kepada jaringan Gusdurian, Yayasan Bani Abdurrahman Wahid dan kita bisa.com yang telah memberikan santunan kepada pahlawan demokrasi yang telah gugur dalam bertugas khususnya di kota Medan.

Saat penyaluran santunan ini, turut didampingi Panwaslu Kecamatan Medan Selayang diantaranya Martahi Rajagukguk, Pensinus dan Efi Sipayung, serta rekan jaringan Gusdurian Medan, Jon Saragih dan Rahmat Hidayat. Berita Medan, MN