Cerpen Bayi Genderuwo
Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Aku mengendus. Bau darah segar. Perutku lagi berbunyi pertanda lapar. Entah sudah berapa lama sejak Ibu, wanita yang menggendongku saat meringkuk kelaparan dan penuh luka bekas hantaman benda tajam, membawaku ke sebuah tempat yang kemudian kami sebut rumah. Pondok kayu di sebuah bukit, tersembunyi di antara rimbun pohon, memberiku sepotong daging yang tidak terlalu matang. Meski begitu rasanya enak. Seperti sudah seabad yang lalu, perutku melilit meminta diisi. Ibu berpesan agar aku diam di rumah. Jangan turun ke perkampungan. Terlalu berbahaya. Mereka, ibu memberitahu, manusia-manusia yang sedikit terlalu waspada sehingga selalu berbuat di luar akal sehat karena ketakutan denga alasan dibuat-buat dan terkadang tidak menggunakan nalar.

“Jangan ke sana. Nanti kamu terluka. Apapun yang terjadi. Tunggu Ibu di sini. Bersembunyi jika bertemu dengan manusia.” Aku hanya mengangguk-angguk meski banyak yang ingin aku tanyakan, kenapa manusia di sana tidak sebaik dan selembut ibu dalam memperlakukanku.Tapi aku tidak pandai merangkai kalimat dan mengutarakannya supaya ibu faham maksudku. Tepatnya bahasa yang ke luar dari mulutku hanya terdengar desis, deguk dan dengking, ibu tidak akan memahaminya.

Lama sekali. Aku gelisah. Ada suara-suara aneh di sekitar rumah yang aku tempati. Bau darah dan daging segar membuatku meneteskan air liur. Aku menjilat lidah. Di luar gelap. Aku bermaksud mencari sumber makanan yang dulu tak segan aku menyantapnya. Daging mentah dari setiap gigitan yang masih meneteskan darah. Tapi Ibu melarangnya.

“Harus dimasak,” ujar ibu. Menepiskan lenganku yang ingin menggerogoti ayam hutan yang baru ibu tangkap. Aku merengut.

“Manusia tidak memakan daging mentah. Harus dimasak. Dibakar atau direbus,” kata Ibu. Aku harus belajar menunggu. Bersabar. Begitulah jika ingin bersikap seperti manusia. Mempunyai aturan, bersikap sopan dan selalu belajar hal baru demi kebaikan, bukan hanya memikirkan isi perut semata. Jadi bagi ibu aku manusia?

Suara-suara di luar terdengar semakin keras. Seperti langkah banyak orang. Suara-suara yang saling berbicara satu dengan yang lainnya. Lewat celah bilik yang sedikit berlubang-lubang aku melihat banyak cahaya mengepung rumahku.

“Mahluk jejadian ke luar!” teriak sebuah suara keras dan membuat aku mencericit ketakutan.

“Piaraan dukun santet, cepat ke luar kalau tidak gubuk ini kami bakar!” Lalu terdengar suara sahut menyahut. Sepertinya bernada sama. Setuju membakar rumahku. Aku gelisah. Di mana Ibu?

“Ibu!” Aku memekik girang dalam hatiketika mendengar sebuah suara lirih di luar. Suara Ibu. Tapi kenapa terdengar sedih dan sepertinya ada seseorang yang membentak-bentaknya.

“Dia bukan mahlukjejadian, bukan juga piaraan saya. Tolong. Dia sama seperti kita. Seorang anak yang dilahirkan dari rahim seorang wanita. Dia manusia.”

“Kau wanita penganut ilmu hitam, mana ada anak manusia berbulu dan berwajah mengerikan. Dia mungkin anak jin yang dibuang ibunya karena mebawa sial. Cepat suruh dia ke luar. Karena kalian kampung kami menjadi tidak aman. Banyak hewan piaraan mati seperti dikoyak binatang buas, pasti genderuwo itu pelakunya.”

“Benar, dulu sempat ada warga kampung yang memergokinya sedang memakan ayam dan kelinci mentah-mentah!” imbuh suara lain.

“U-uuu!” Suaraku pasti terdengar parau dan aneh. Orang-orang yang berkumpul itu berseru ketakutan. Aku lihat ibu terduduk di tanah dengan pakaian sobek dan seperti habis diseret dari tempat yang cukup jauh ke rumah ini. Aku kasihan melihat Ibu. Aku marah. Mataku menyala merah. Mereka menyakiti ibuku. Aku menggeram. Sekumpulan orang-orang itu mundur dengan wajah ngeri. Lalu tiba-tiba ada yang menyeruak maju.

“Bakar mahluk itu, sebelum petaka menyebar pada kampung kita. Mahluk itu anak genderuwo piaraan wanita ini .”

“Jangan, pak kades. Saya mohon!”

“Bakar!!”

“Dia anak..” Kaki laki-laki itu menendang tubuh Ibu sampai jatuh tersungkur. Aku mendengking. Menubruk laki-laki yang telah menyakiti ibuku dengan beringas. Kugigit kakinya. Dia berteriak. Kemudian melempar tubuh kecilku kembali ke depan pintu gubuk. Tangannya mengambil obor dari orang yang tengah berdiri di sebelahnya. Melemparkan ke arahku.

“Bakaaar!” Lalu beberapa obor berseliweran ke arah dinding, atap dan rumpun kering di sekitar halaman. Api cepat sekali melahap. Ibu berteriak. Berlari ke arahku yang masih meringkuk.berusahamenyelamatkankuw tapi lagi-lagi sebuah tangan mendorongnya dengan kuat, dipaksa masuk ke dalam gubuk yang telah berkobar.

“Anakmu, dia anakmu,” lirih Ibu mendekapku. Wajahnya basah karena airmata.

“Bu-uu.” Aku memeluk ibu.

“Anakku. Kau anakku dan dia ayahmu.” Api semakin berkobar. Sayup-sayup masih terdengar suara bapakku menyuruh membakar habis rumah ini beserta kami di dalamnya.

Di ujung kampung seekor harimau mengendap ke luar dari hutan mencari mangsa menuju perkampungan.

**

Empat tahun yang lalu.

“Aku tidak sudi memiliki anak berujud genderuwo. Menikahimu, cuihh! Kau pikir hanya aku saja laki-laki yang tidur denganmu. Sinden murahan. Pergi! Jangan pernah kembali ke kampung ini lagi atau kau akan meregang nyawa bersama anak jadi-jadian itu.”

“Tapi kang, ini benar anakmu,” wanita itu menatap sedih bayi yang baru seminggu dilahirkannya dalam keadaan mengenaskan. Wajahnya buruk dan hampir sekujur tubuhnya dipenuhi bulu.

“Kau mau saja jadi wanita simpanan. Aku yakin bukan hanya aku yang sudah menidurimu. Mungkin saja. Sampai wajah bayi itu buruk seperti kelakuanmu.” Laki-laki itu meludahi wanita yang dulu dizinahinya.

“Aku calon kepala desa. Mana bisa menikahi sinden murahan dan memiliki keturunan genderuwo.” Laki-laki itu menendang pintu gubuk sampai hampir lepas dari engselnya kemudian berlalu pergi.Wanita itu menangis meratapi nasib diri dan bayinya.

“Aku tidak bisa membawamu ke tengah perkampungan dan hidup layak jika tetap merawatmu. Tidak bisa memberimu makan dengan baik jika harus bekerja sambil mengurusmu.” Dengan berlinang airmata ditinggalkannya bayi itu dalam sebuah gua di dalam hutan.

“Ibu akan kembali.”

End.

Penulis adalah Eisaac Iskandar