Dampak Positif Study Banding
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Ada beragam anggapan mengalamat pada kegiatan satu ini, yakni studi banding. Sebagian menilai, misi kegiatan ini telah dipelintir sedemikian rupa sehingga hanya menjadi kedok saja untuk bersenang-senang menggunakan anggaran organisasi, institusi atau duit pemerintah. Tapi simpan dulu pikiran buruk itu karena studi banding sesungguhnya adalah kegiatan yang memiliki banyak manfaat dan bisa menciptakan lompatan besar. Termasuk studi banding antar-desa. Apa saja yang bisa dihasilkan dari studi banding desa?

Secara harfiah, studi banding adalah konsep belajar yang dilakukan di lokasi dan lingkungan yang berbeda dengan maksud meningkatkan mutu, perluasan usaha, perbaikan sistem, penentuan kebijakan baru, perbaikan peraturan perundangan dan lain-lain. Dilakukan oleh kelompok kepentingan tertentu, pada intinya studi banding adalah membandingkan kondisi obyek studi di tempat lain dengan tempat sendiri, mengumpulkan data dan beragam informasi untuk dijadikan acuan merumuskan konsep yang kita inginkan.

Pernah mendengar ujaran ‘tak kenal maka tak sayang’?. Nah, umumnya kehidupan pedesaan di Indonesia memiliki berbagai keterbatasan terutama akses informasi. Sebagian besar warga desa tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai perkembangan di luar desanya karena rutinitas mereka sehari-hari atau karena sulitnya mengakses informasi seperti itu dari luar desanya. Akibatnya, desa-desa itu kesulitan menciptakan lompatan kemajuan karena tidak memiliki referensi atau acuan yang mendorong mereka.

Padahal, untuk mencapai sebuah kemajuan butuh pandangan-pandangan baru, informasi baru dan kalau bisa sebuah contoh yang bisa mereka lihat langsung dengan mata kepala. Bukan rahasia lagi, sebagian besar warga desa baru akan percaya pada sesuatu yang baru jika mereka melihatnya langsung dengan mata kepala. Makanya studi banding dengan datang ke desa lain yang lebih maju.

Banyak desa yang melakukan studi banding ke desa lain yang lebih maju bisa dengan cepat menciptakan langkah kemajuan bagi desanya.

Dengan mendapatkan semangat dan inspirasi bahwa mereka juga bisa melakukan lompatan yang sama seperti yang mereka lihat di desa tempat studi banding.

Para Kades dapat melihat langsung bagaimana kegiatan PKK dan Posyandu di desa tempat dilakukannya study banding. Hal itu langsung memberikan gambaran yang jelas apa yang harus para kades harus melakukan untuk mengembangkan PKK dan Posyandu di desa mereka masing-masing.

Pengalaman melihat aktivitas di desa lain memberikan efek psikologi yang sangat positif bagi peserta studi banding karena ketika melihat desa lain bisa melakukan hal yang jauh lebih maju mereka menjadi yakin mereka juga mampu melakukannya.

Keyakinan itu langsung muncul karena tidak ada hambatan emosional. Suasana emosional ini berbeda dengan situasi ketika mereka hanya berkutat di lingkungan desa mereka atau desa tetangga saja.

Faktor belum kenal sebelumnya dengan orang-orang di desa yang kita kunjungi membuat peserta studi banding bisa menyerap dengan baik beragam informasi untuk dipraktikkan di desa sendiri.

Disisi lain, sesuai kondisi desa yang dikunjungi, misal study banding di desa wisata, para kades langsung punya gambaran bagaimana mengembangkan desa mereka menjadi desa wisata. Soalnya banyak desa juga punya kondisi alam yang sangat elok untuk dikembangkan menjadi desa wisata.

Dewan Pimpinan Pusat Central Analisa Strategis (DPP CAS) RI yang selama ini sering mendampingi desa-desa dari berbagai penjuru Indonesia melakukan studi banding di wilayah Bandung, Yogyakarta, Jawa Tengah dan Bali, mencatat, selama ini desa-desa yang melakukan studi banding mampu menciptakan lompatan bagi desanya hanya beberapa minggu atau bulan setelah studi banding.

DPP CAS selalu memantau perkembangan desa-desa yang melakukan studi banding melalui lembaga CAS dan hasilnya studi banding yang mereka lakukan memberi banyak sekali pandangan baru, informasi dan keberanian bagi desa-desa itu untuk mulai menciptakan langkahnya.

Seringkali desa-desa yang berhasil menciptakan kemajuan itu lalu kembali melakukan studi banding untuk tema-tema yang berbeda dengan desa tujuan yang juga berbeda.

Jika Lembaga CAS selama ini telah mendampingi puluhan desa di Indonesia untuk studi banding dengan tema yang berbeda. Mereka para kades diantarkan ke desa-desa sesuai dengan kebutuhan studi mereka seperti pengembangan obyek wisata desa, pengembangan UMKM, sistem administrasi dan sebagainya.

Secara rutin kemudian memonitor dan terus memberi informasi bagi desa-desa itu untuk memulai langkahnya sendiri di desanya. Faktanya, desa-desa yang melakukan studi banding bisa sangat cepat menyerap dan lalu mengembangkan apa yang mereka lihat dan mereka catat di desanya sendiri. Jadi, sudah jelas, studi banding memang memiliki manfaat yang banyak.

Maka patut kita apresiasi pelaksanaan kegiatan study banding yang dilakukan oleh para kades se Indonesia, dan harus menjadi skala prioritas di setiap tahunnya, agar berjalan sebagai mana mestinya.

Sebab, melalui kegiatan study banding, dipastikan dapat menginspirasi para kades untuk lebih fokus dalam meningkatkan mutu dan kualitas kinerja mereka sebagai kepala pemerintahan desa.

Dan secara objektif, melalui rangkaian study banding, para kades dapat lebih termotivasi atas kesuksesan dari desa yang mereka kunjungi.

Sesungguhnya juga, bukanlah para kades yang melakukan study banding, secara totalitas mengikuti konsep perbandingan terhadap desa yang mereka tuju, namun yang lebih penting adalah timbulnya inspirasi yang memotivasi apapun nantinya program yang mereka kembangkan di desanya masing-masing dan sejatinya mempunyai konsep managemen yang tertata baik dan benar.

Tak luput dari sisi peningkatan etos kerja, sangat patut kiranya, para kades di republik ini, yang kesehariannya senantiasa berkutat dan terlibaţ langsung di masyarakat dengan segala interaksi, dengan melakukan study banding untuk lebih berfikir positif dan meningkatkan etos kerja inovatif konstruktif.

Dan jika kita berkaca dari aktifitas para abdi negara, baik di lingkungan executive dan legeslative, yang setiap bulannya berulang kali melakukan study banding dengan alasan kepentingan kerja dan meningkatkan produktifitas kerja serta mendapatkan masukan untuk kepentingan lembaga yang dinaunginya, maka dengan hanya sekali dalam setahun para kades di Indonesia melakukan study banding, adalah hal yang sangat wajar dan harus lebih diarahkan untuk diberdayakan demi upaya peningkatan pelayanan desa yang lebih bermartabat. []

Penulis adalah Maulana Maududi AL Thahrullisany (Ketum DPP Central Analisa Straţegis RI)