Senior
Foto: Alvian Khomeini

MUDANEWS.COM – Sebagai Mahasiswa mungkin tidak asing lagi mendengar istilah senior, apalagi mahasiswa yang menggeluti dunia organisasi didalam suatu kampus baik itu organisasi ekstra bahkan non ekstra sebut saja organisasi yang sering muncul yaitu HMI, PMII, IMM, KAMMI, GMKI, GMNI dan lain sebagainya.

Dalam suatu organisasi , biasanya senior memang orang-orang yang sudah lama aktif berkecimpung dalam mengembangkan organisasi itu. Hematnya, mereka adalah perintis atau generasi kedua yang paling banyak merasakan pahit manisnya didalam suatu organisasi.

Oleh karenanya, kehadiran senior sangatlah penting bagi suatu organisasi kampus. Sebab, dunia kampus sangatlah rawan jika tidak dibimbing oleh senior-senior yang berpengalaman.

Kali ini, penulis sedikit menceritakan pengalaman mengenai senior didalam suatu organisasi dan akan mengajak anda untuk berpikir ulang dan nostalgia jauh kebelakang yang sudah meninggalkan dunia organisasi kampus.

Perlu disampaikan, tulisan ini bukan bermaksud untuk mempersuasif bahkan mendoktrin pemikiran anda melainkan sebagai bahan kajian ringan dengan suguhan secangkir kopi hitam di dalam sebuah lingkaran yang bergelut dengan pemikiran. Apakah ini hanya mitos belaka atau fakta? Semua akan kembali dengan anda nantinya.

Hal ini berawal dari diskusi saya dengan teman seperjuangan saya yang sudah bertahun-tahun berproses didalam suatu organisasi.

“Sangat membatasi bahkan mematikan kreativitas,” ungkap teman saya tentang kuatnya pengaruh senior didalam organisasi ini.

“Kalaulah segala sesuatu harus menunggu persetujuan senior,”lanjutnya, “kapan kita bisa mandirinya? Toh mereka bukan Tuhan,” tegasnya.

Saya juga beranggapan pemikiran teman saya ini sangat Rasional dan masuk akal. Sederhananya, meskipun pendapat senior yang dimaksudnya ini penting, junior juga perlu diberi kepercayaan supaya nantinya bisa mandiri dan kreatif. Dalam artian tidak otoriter dan egois meskipun ada istilah yang masih tidak masuk akal di ruang otak saya bahwa (senior tak pernah salah) atau mungkin senior tidak ingin disalahkan dan ini adalah stigma yang bertentangan menurut saya.

Singkat cerita, saya mengenali sosok senior yang sangat disegani oleh adik-adiknya didalam organisasi. ia adalah seorang senior yang menjabat di struktur tertinggi kampus yaitu Badan Eksekutif Kampus (BEM). Ia juga menjabat di organisasi ekstra kampus sebagai orang yang dianggap sangat penting dan berepengaruh di struktur itu. Herannya, setiap keputusan harus menunggu persetujuannya. Keputusan sangat penting dan tak terbantahkan. Hal ini tentu saja menurut saya menunjukkan kesenioran yang disalahgunakan.

Hal ini sering terjadi , ide-ide senior sering kali menjadi kiblat dan tak terbantahkan bahkan sering kali dipandang lebih baik, tanpa dilihat lagi apakah sesuai atau tidak dengan zaman yang sudah berganti. Apakah kalian pernah merasakan di posisi ini? Silahkan bernostalgia.

Lebih lanjut, senior selalu lebih didengar dianggap lebih tahu dan berpengalaman. Dan inilah menjadi alasan bagi para senior untuk bertahan di posisi penting organisasi bak merekalah Pahlawan yang paling kuat dan hebat dengan pola pikirnya didalam sebuah organisasi.

Para junior pun terkadang menerima saja dan memilih untuk ikut saja, dengan alasan menghormati Senior dan juga menjadi momok tidak diberi jalan untuk besar dan sukses dikemudian hari. Tapi, sadarkah kita kondisi seperti ini justru menghambat daya kreatif para junior atau sebaliknya? Semua kembali kepada anda untuk menjawabnya. Padahal, belum tentu junior tersebut belum cakap dalam mengambil keputusan atau mengelola organisasi. Bagaimana pula dengan senior yang tidak lagi aktif didalam struktur organisasi akan tetapi masih bergantung kepada keputusannya. Tidakkah itu akan mengancam perjalanan organisasi?? silahkan berfikir dengan porsinya masing-masing!

Perlu di sadari, peran senior yang teramat sentral akan sangat merugikan suatu wadah organiasi. Bahkan organiasi yang besar namanya akan stagnan bahkan mati. Sudah seharusnya senior menyadari hal ini dan lebih dewasa caranya dalam mempersiapkan generasi yang cakap untuk menggantikan mereka. Sebab, pepatah juga mengatakan
“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Senior sudah seyogiyanya mentransferkan ilmunya, membesarkan juniornya dengan ilmu yang baik dan memantau juniornya supaya tetap searah dengan program organisasi yang dijalankan. Bukan mala mematikan atau kalimat kasarnya memutus jalan karirnya di suatu organisasi.

Didalam sebuah organisasi perkaderan kuncinya adalah perekrutan sebagai langkah awal untuk mempersiapkan generasi selanjutnya. Dalam proses ini junior perlu dibekali pengetahuan yang baik untuk melanjutkan jalannya roda kepengurusan, digembleng dan dididik tentang cara menjalankan organisasi.

Kendati demikian, para senior juga perlu membuat program agar para junior mendapatkan porsi keilmuan dan pengetahuan yang sama dengan mereka. Tapi, sering saya rasakan seberapanya saya berproses di organisasi tersebut, senior enggan melakukan itu. akan tetapi, mereka hanya menunggu junior meminta, mengais dan mengemis untuk memberikan ilmunya. Entah itu mereka menunjukkan betapa besar bahkan mahalnya harga diri mereka ketimbang memikirkan juniornya.

Kemudian, hal yang kerap kali terjadi senior seharusnya tidak perlu malu mengaku tidak tahu saat juniornya menanyakan hal yang tidak dikuasainya. Karena saya juga paham bahwa SENIOR BUKAN TUHAN yang mengetahui segalanya.

Hal ini begitu penting untuk menghindari pemahaman yang salah untuk estafet visi-misi. Alangkah baiknya jika senior menganjurkan juniornya untuk bertanya kepada senior lain yang lebih paham. Dilain pihak, junior juga harus bisa menilai senior mana yang bisa ditanyai untuk menimbah ilmu.

Tentu saja, tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa orang memang sangat menikmati posisinya sebagai senior. Mereka suka mencari pengaruh dalam organisasi dan senang mencampuri hal yang seharusnya mereka tidak campuri. Celakanya, senior yang sudah ber abad-abad telah luntur status kepengurusannya masih saja mancampuri seolah-olah merekalah yang terhebat dan paling tahu segalanya. Mereka juga biasanya tidak mau dibantah dan dikritik.

Menghadapi senior seperti ini, saya pikir junior harus berani mengusulkan regenerasi. Namun, usulan pun harus dilakukan dan di siasati secara hati-hati. Karena, harus di ingat biasanya senior ini punya pengikut setia yang punya cerminan sama dengan dirinya.

Sesungguhnya, organisasi yang “dikuasai” senior bertahun-tahun lamanya tidakklah berdampak baik. Organisasi perlu penyegaran ide sesuai zamannya. Maka, senior yang telah lama mencampuri secara berlebihan sudah sepatutnya untuk beristirahat dan mempercayai juniornya. Baik sekali jika sesama senior mengingatkan mengenai hal ini.

Jadi, teruntuk senior yang seperti ini mulailah berpikir ulang. Biarkanlah tunas-tunas muda tumbuh dengan sehat tanpa diracuni. Dan teruntuk junior pun harus lebih berfikir jernih dan memfilter. Penulis berpesan “sejelek apapun perangai seniormu, selicik apapun senior itu, ia tetaplah seniormu ambil yang baik buang yang buruknya”. Opini, Alvian Khomeini

Penulis adalah kader HMI Cabang Medan