Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (JMBI) Monumen Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara
Net
Oleh: Harmaini El-Harmawan
MUDANews.com – Jauh sebelum diresmikannya “Monumen Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara” di Barus, Tapanuli Tengah, oleh Presiden RI Bapak Ir. H. Joko Widodo, atas prakarsa JBMI (Jam’iyah Batak Muslim Indonesia), pada Hari Jum’at, 24 Maret 2017, telah disusun Majelis Otokritik: Islam Nusantara? (Bagian I) dengan konteks gerakan 411 dan 212 yang dinilai sarat kepentingan politik pilkada DKI Jakarta, termasuk sisi emosional umat Islam Indonesia yang tersinggung akibat prilaku penistaan agama yang hingga kini belum jelas keputusan peradilannya (sudah sidang ke-16).
Enam bulan yang lalu, ketika perjalanan spiritual dilakukan di Desa Aek Dakka, Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, tempat MAKAM MAHLIGAI dan PAPAN TINGGI berada, telah timbul angan untuk menghimpun tulisan para tokoh Batak Muslim, seperti Buya Syeikh Ali Akbar Marbun (Pengasuh Ponpes al-Kautsar al-Akbar Medan), Dinda Syeikh Ahmad Sabban Rajagukguk, Dinda Tumpal Panggabean (Sekjend ICMI Muda Pusat), dalam bentuk kumpulan tulisan dengan tema Sejarah Perjalanan Spiritual Bangsa Batak Muslim di Tanah Tapian Nauli. Perjalanan ke Aek Dakka ketika itu dipandu oleh adinda Saidil Amin Sinaga.
Angan itu, untuk sementara terjawab oleh JBMI, melalui Seminar Nasional Dalihan Natolu Dalam Perspektif Agama-Agama dan Pancasila. Upaya maksimal untuk membuka ruang dialog antar lintas tokoh agama dan adat ini, dilaksanakan 23 Maret 2017 di Pondok Pesantren Tertua di Tapian Nauli, yakni Ponpes Musthafawiyah, tepatnya di Purba Baru, Kabupaten Mandailing Natal. Keterbukaan Pondok Pesantren ini dan antusiasme para peserta seminar, sekitar 150 orang, menjadi indikator awal suksesi Silaturrahim Nasional JBMI yang digelar 25 Maret 2017, juga dihadiri oleh Presiden RI.
Setelah monumen itu diresmikan, geliat tanggapan semakin bertubi. Awalnya, adalah Prof. Dr. Rusmin Tumanggor (UIN Syarif Hidayatullah), Dr. Shohibul Anshor Siregar (UMSU), makalah Dr. Irwan Azhari (UNIMED), yang melirik spirit Dalihan Natolu dan spirit kajian Peradaban Islam Nusantara ini dalam dimensi antropologi, sosiologi, dan sejarah, dalam naskah ini turut disertakan pandangan Dr. M. Iqbal Irham (UINSU), yang lebih cenderung dalam dimensi Sufistik. Berikut Dr. Iqbal menuturkan:
Saya menggagas Islam Nusantara sejak tahun 2007 melalui berbagai training. Nama-nama dari training yang kita bangun, adalah nama yang sangat menusantara, seperti “Rasa Ruhani”, “Kekuatan Doa”, “Terapi Gerakan Shalat” dan “Terapi Zikir”.
Semua istilah yang kita buat dalam tahapan memperoleh Rasa Ruhani adalah bahasa yang mudah dipahami di seluruh nusantara seperti, 1. Membaca dengan hati, 2. Mendengar dengan hati, 3. Memandang dengan hati, 4.Merasakan dengan hati, 5. Bergerak dengan hati, 6. Berbicara dengan hati, 7. Menghadirkan hati.
Keseluruhan istilah ini, sebenarnya sudah dibahas oleh para kaum sufi, yang umumnya menggunakan bahasa Arab. Sebagian mereka ada yang menggunakan bahasa Persia dan Urdu.
Mengapa kita melakukan ini? Karena bagi kita, hakikat Islam itu adalah sesuatu yang di dalam, bukan yang diluar. Misalnya, jubah itu hakikatnya​ bukan pakaian Islam, melainkan budaya Arab. Karena itu, tidak ada keharusan sama sekali memakai jubah bagi seseorang di Indonesia. Dan tidak ada keutamaan seorang yang berjubah dibandingkan seorang yang berbatik, selama itu menutup aurat. Jadi, dalam konteks ini, hakikat Islam bukan pada pakaian melainkan pada menutup aurat.
Tentang simbol-simbol​ lain, dalam Islam hakikat, itu hanya bagian luar yang tidak boleh terlalu dipaksakan harus ada. Simbol itu hanya penting dalam kondisi tertentu, namun bukan segalanya. Karena itu bagi saya, monumen titik nol peradaban Islam, dari tinjauan Islam hakikat, hanyalah sesuatu yang tidak begitu penting, kecuali ada akses penting berikutnya. Apalagi yang meresmikannya, agak diragukan hakikat keislamannya. Uuupppss…, jangan marah dulu. Saya ingin tegaskan bahwa seharusnya simbol itu diresmikan oleh ulama (tapi bukan sekedar ulama berjubah). Dan para pejabat hanya ikut menghadiri, bukan meresmikan.
Banyak hal lain yang mungkin tidak bisa saya tulis di sini, karena pandangan saya pasti berbeda secara pemikiran mainstream yang ada.
Pandangan sufistik ini sesungguhnya terungkap dalam respon Dr. Iqbal atas maraknya diskursus dalam Majelis Otokritik: Islam Nusantara (Bagian I). Perlu dipertegas, Bagian 2 ini, dan kemungkinan Bagian 3 dan seterusnya, diniatkan untuk memperkaya khazanah dan referensi Kajian Peradaban Islam Nusantara di Indonesia. Pada sisi yang lain, kajian Falsafah Meja Batu yang dibimbing oleh Abangda Hasanuddin Purba dan Abangda Hayatisna Mph, sedapat mungkin ke depan akan bersentuhan pada penelusuran Falsafah Dalihan Natolu dalam Dimensi Ma’rifat, juga bertujuan untuk menyempurnakan angan lahirnya referensi yang mumpuni untuk membantu masyarakat Batak Muslim dalam kiprahnya melestarikan Peradaban Islam Nusantara dari Kilometer Nol yang telah diresmikan ini.
Wallahu a’lam.
Penulis Adalah Pegiat Sosial dan Penasehat ICMI Muda Sumut 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here