Tragedi Kemanusiaan Rohingya
Foto: Seorang pengungsi asal Rakhine State, Myanmar bermain bersama anak di beranda penampungan Hotel beraspati, Medan.

MUDANEWS.COM, Medan – Ratusan pengungsi Rohingya asal Rakhine State, Myanmar masih menunggu untuk diberangkatkan ke negara ketiga untuk melanjutkan kehidupan.

Sampai saat ini, para pengungsi ini masih berada di beberapa titik penampungan di Kota Medan. Selama di penampungan, mereka hidup dengan pas-pasan. Meski begitu, mereka tetap bersyukur karena berhasil keluar dari Myanmar.

“kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah Indonesia dan IOM yang sudah mau menampung kami dan memberikan penghidupan di sini,” kata Muhammad Masud, pengungsi yang menghuni penampungan di Hotel Beraspati, Jalan Jamin Ginting, Medan, Rabu (6/9/2017).

Lelaki yang masuk ke Indonesia pada 2014 lalu itu memboyopng serta istri dan anak-anaknya. Saat ini Masud juga sudah fasih berbahasa Indonesia.

saat berada di penampungan, tak jarang ditemui pengunsi yang fasih berbahasa Indonesia. Bahkan, diantara mereka juga ada yang menguasai beberapa bahasa seperti, Burma, Bangladesh, Malaysia, Thailand dan Indonesia.

Selain Masud, pengungsi yang juga punya kisah haru di penampungan adalah Iman Hussein. Dia menceritakan bagaimana dia terpisah dengan istrinya saat baru keluar dari Myanmar tahun 2012 lalu.

“Waktu itu saya terpisah. Saya bertemu dengan istri di Indonesia. Waktu itu juga tidak langsung jumpa. Saya mendengar kabar dia di Belawan. Sedang saya di tanjung Balai,” kata Iman.

Sebelumnya, Iman sempat terkatung-katung di Kapal sebelum sampai di Malaysia. Dari Malaysia, dia kemudian berangkat ke Indonesia karena mendengar kabar keberadaan istri dan anaknya.

Setelah bertemu, mereka ditempatkan di Hotel Beraspati Medan. Disana Istrinya juga melahirkan seorang anak. Semua pembiayaan juga ditanggung pemerintah dan lembaga yang menaungi mereka di sana.

“Namun yang kasihan, setelah melahirkan, istri kepingin makan roti. Saya gak bisa beli. Karena gak bekerja dan gak punya uang. Tapi kami tetap bersyukur bisa tinggal di Indonesia,” kata Iman.

Saat Idul Adha lalu, para pengungsi mendapat sumbangan seekor lembu dan dua ekor kambing. Mereka kemudian menyembelihnya dan dibagikan ke seluruh pengungsi yang ada di sana.

Sehari-hari, pengungsi memanfaatkan waktu dengan banyak kegiatan. Diantaranya bermain takraw dan menanam bunga. Hanya itu kegiatan yang bisa menghilangkan kebosanan mereka selama di penampungan.

Selain itu, anak-anak di penampungan juga diajarkan mengaji dan baca tulis yang diajarkan oleh relawan.

Para pengungsi berharap, agar konflik di Myanmar bisa cepat berakhir. Sampai saat ini, mereka belum mengetahui kapan akan dilakukan pemberangkatan ke negara ketiga tempat dimana mereka melanjutkan kehidupan. Berita Medan, Yogoy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here