Balada Monyet dan Babi Dalam Lingkaran Politik Labelisasi
Nezar Silabuhan

MUDANEWS.COM – Papua yang merupakan hamparan tanah luas dan kaya berada paling timur Negeri ini saat ini sedang diuji kesetiaan dan kesabarannya dalam hidup berdampingan sebagai saudara kita di Nusantara.

Kesabaran itu harus ditunjukkan secara riel agar merah putih tidak terkoyak di bumi cendrawasih, meski tidak gampang tapi bukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan karena kita dan Papua telah hidup berdampingan sejak lama sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

Papua memanas ketika tangan provokator bermulut kotor yang datang dari golongan anak haram Negeri ini berteriak monyet pada saudara kita, kita tahu Papua gampang tersulut emosi ketika rasa kemanusiaannya di usik. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi mereka yang ingin kaum separatis Papua untuk mendulang di air yang keruh.

Entah kenapa tiba-tiba bumi Sumatera Utara juga beriak ketika secara sepihak seorang Gubernur yang terkenal melenggang ke kursi Gubernur dengan dukungan penuh kaum Islam Puritan menyatakan akan membuat kawasan wisata Halal di Danau Toba kemudian arah pemikiran orang menunjuk Babi sebagai akar ketidak halalan pariwisata Danau Toba.

Kembali kita disuguhkan pada bentroknya dua kubu yang sejak lama ingin di adu domba dalam persfektif budaya yang goalnya akan membuat politik di Negeri ini memanas.

Ketika kita amati secara mendalam tentu kita akan miris kenapa kita sekarang jadi manusia pemarah dan kemarahan kita menjadi tunggangan empuk bagi mereka yang ingin Negeri ini hancur dan dulu kita kenal dengan istilah Pro Status Quo, yang secara terang-terangan Menkopolhukam mengakui ada pihak yang menunggangi aksi-aksi di Papua.

Mengencangnya gerakan kaum Islam Puritan pada masa ini membuat kita semakin sadar bahwa kita sedang diuji oleh sebuah kekuatan yang menginginkan sistem pertahanan kita lemah.

Pro Status Quo sedang memainkan politik labelisasi, awal labelisasi kafir sudah sama-sama kita tahu tidak lagi laku di pasaran, maka mereka mencari produk baru untuk mainkan politik labelisasi.

Maka pilihan jatuh pada dua komunitas besar di Negeri ini yaitu papua dan Tanah Batak dan mereka bisa saja berhasil dalam memainkan politik labelisasi jika kita tidak hati-hati dalam menyikapi isu-isu ini.

Pertanyaan selanjutnya kenapa harus Papua dan Batak, tentu bukan tanpa alasan karena tunggangannya adalah kaum Islam Puritan maka dapat kita ungkapkan bahwa berawal dari label kafir maka mereka sekarang memajukan siapa yang berlabel kafir tentu papua dan Tanah Batak yang mayoritas Nasrani, menjadi pilihan utama yang labelnya adalah mereka yang Nasrani adalah kafir jika di timur kafirnya dilabeli monyet maka yang di barat dilabeli babi.

Ujung-ujungnya adalah menurunkan citra pemerintahan Jokowi yang dianggap sebagai pemerintah yang pro terhadap dua saudara kita.

Kenapa Jokowi, tentu kita harus lihat bagaimana hubungan antara Jokowi dan mama-mama Papua, dan hubungan cinta antara Jokowi dan Inang-inang di tanah Batak mereka tampak mesra hasilnya mama-mama dan inang-inang adalah pemberi suara yang signifikan terhadap kemenangan Jokowi di Papua Jokowi menang telak, di Tanah Batak Jojowi Juga menang Telak, bagaimana dengan Jokowi tentu semua maklum Jokowi dengan mainstream pembangunan memberi apa yang tidak diberi oleh pemerintah yang lalu kepada Papua, dan memberikan kue yang lezat pula pada Tanah Batak dan mereka mencoba mengganggu kemesraaan ini lewat politik labelisasi.

Politik labelisasi harus di lawan tetapi melawannya juga tidak boleh semrawut tanpa pijakan strategi yang benar, karena perlawanan sporadis tanpa strategi hanya akan mengoyak pertahanan kita dalam menjaga 4 Pilar Kebangsaan kita.

Terakhir aku akan mengatakan, silahkan kau sebut aku babi dan alu monyet tapi aku tetap NKRI dan aku pastikan bahwa kalian pasti hancur karena ulah kalian sendiri, Papua tanahku, Tanah Batak Negeriku maka layak kami jaga dari fitnah kalian dengan segenap Tumpah Darahku. “Stop Memainkan Politik Labelisai”

Oleh : Nezar Silabuhan (Wakil Ketua Bid. Propaganda Media DPD Repdem Sumut)