Indonesia Madani
Ahmad Arfah Fansuri Lubis (kiri) dan sahabat

MUDANEWS.COM – Madani digambarkan dalam bentuk sebuah pencapaian cita-cita negara Indonesia secara utuh, hal ini diperoleh dari proses pembangunan yang beradab. Sejak merdeka dari penjajah, Indonesia sejatinya terus melakukan pembenahan untuk mencapai gelar negara yang madani. Dimulai dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM), hingga memperbaiki infrastruktur penunjang yang dibutuhkan secara berkelanjutan.

Percepatan pencapaian Indonesia madani harus melibatkan selurus kalangan yang ada, baik itu masyarakat biasa, tokoh adat, tokoh agama, dan tentunya pemerintah. Cita-cita negara Indonesia itu sendiri sudah lama disematkan oleh Founding Father’s, dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia tahun 1945 disebutkan sebuah cita-cita negara yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Cita-cita inilah yang dijadikan sebuah tujuan bersama untuk diraih secara bergotong royong, tentu harus didasari kepada penguatan berbagai aspek yang ada di Indonesia.

Aspek Ideologi

Dimulai dari aspek Ideologi negara, para pendiri negara Indonesia telah menyiapkan seperangkat nilai fundamental yang diyakini kebenarannya untuk mempersatukan seluruh tumpah darah Indonesia. Ideologi ini nantinya menjadi sebuah dasar untuk menetapkan tujuan, dan pembimbing untuk mencapai tujuan tersebut. Seperangkat nilai ini dihadirkan dalam berbagai poin yang terkandung dalam judul besar bernama Pancasila.

Dimulai dari nilai Ketuhanan yang termaktub pada sila pertama Pancasila dimana peranan agama sebagai nilai utama kehidupan masyarakat. Kesadaran terhadap nilai-nilai agama akan menghantarkan segenap rakyat Indonesia kepada tatanan kehidupan yang baik. Selanjutnya nilai Kemanusiaan di sila kedua, nilai Persatuan di sila ketiga, nilai Kerakyatan dalam permusyawaratan perwakilan di sila keempat, dan terakhir nilai Keadilan yang kokoh sebagai penutup di sila yang kelima.

Kesemua nilai tersebut harus diaktualisasikan secara konkrit dalam kehidupan formal kenegaraan maupun kehidupan setiap warga negara dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila sebagai Ideologi senantiasa mengikuti perkembangan zaman, iptek dan dinamika yang ada di masyarakat. Untuk itu seluruh masyarakat harus tetap melekatkan Pancasila sebagai dasar hidup dalam bernegara.

Berbagai persoalan kenegaraan saat ini diakibatkan karena keyakinan terhadap Pancasila sebagai Ideologi sudah mulai melemah. Tentu hal ini bukan dikarenakan lemahnya Pancasila, melainkan karena oknum-oknum yang terpengaruh terhadap doktrin yang menyesatkan. Pancasila adalah representasi dari nilai agama dan budaya masyarakat Indonesia, oleh karena itu dipastikan Pancasila berjalan lurus dengan nilai-nilai yang terkandung dalam agama maupun budaya.

Pancasila menekankan konsep Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan yang selaras dengan nilai-nilai agama yang dianut masyarakat Indonesia. Kemudian persoalan perbedaan suku, agama, ras maupun golongan merupakan berkah yang diberikan kepada Indonesia jauh sebelum kemerdekaan diraih, untuk itu hadirlah Pancasila sebagai cara pandang bersama untuk mengatasi segala perbedaan yang ada.

Aspek Politik, Hukum dan Ekonomi

Upaya pencapaian Indonesia madani selanjutnya adalah perbaikan di sektor politik. Dimulai dari penegasan tidak adanya dominasi kekuasaan terhadap masyarakat, hal ini tentu sangat penting untuk menguatkan kebersamaan antara pemimpin yang dipimpin. Dua sektor ini harus bahu membahu dalam memajukan negara Indonesia.

Di Indonesia sejatinya persoalan dominasi kekuasaan terhadap masyarakat sudah mengkerucut kearah perbaikan yang fundamental. Hal ini terlihat jelas pasca terjadinya
perubahan sistem pemerintahan di saat reformasi yang lalu, poin-poin penguatan peran masyarakat telah hadir bersamaan dengan hancurnya otoritarianisme di Indonesia. Monopoli kekuasaan pemerintah kala orde baru di berangus dengan kekuatan rakyat yang ingin menghadirkan reformasi dan revolusi.

Keseimbangan kekuatan antara masyarakat dan pemerintah ini harus terus dipertahankan, hal ini tentu bukanlah upaya menciptakan masyarakat yang tidak patuh terhadap pemerintahnya, melainkan timbulnya harmonisasi untuk bersinergi membangun peradaban yang baik di Indonesia.

Selanjutnya adalah upaya dengan menegakkan keadilan hukum di Indonesia. Dalam pasal 27 ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara Indonesia sudah ditetapkan persamaan di mata hukum, pasal ini tentu melegitimasi adanya kasta-kasta dalam penegakan hukum di Indonesia adalah tidak benar. Istilah hukum tajam kebawah dan tumpul keatas harus segera dihilangkan dalam fikiran masyarakat Indonesia, hal ini tentu dapat dilakukan apabila persamaan dimata hukum bener-bener terealisasi di masyarakat.

Supremasi hukum yang sudah lama digaungkan di Indonesia harus didorong ketahap paripurna, pengawasan ganda terhadap penegakan hukum harus dilakukan. Indonesia yang adil adalah cita-cita bersama, sehingga pengawasan agar terciptanya keadilan itu harus dilakukan secara bersamaan pula.

Penguatan Aspek Ekonomi masyarakat Indonesia juga masuk dalam salah satu upaya menjadikan Indonesia madani. Bagaimana tidak, berbagai kebutuhan hidup dapat dipenuhi dengan kondisi ekonomi yang baik. Kecendrungan terhadap berbagai tindakan kriminal akibat kondisi ekonomi yang tidak baik tentu bukan isapan jempol belaka, untuk itu berbagai upaya untuk menumbuhkan ekonomi kerakyatan harus secara masif di gulirkan.

Aspek Sumber Daya Manusia

Terakhir adalah aspek sumber daya manusia (SDM), tentu kita menyadari infrastruktur yang memadai tidak cukup untuk membenahi Indonesia kearah yang lebih baik tanpa melibatkan SDM yang mempuni. Sampai hari ini negara kita masih dihadapkan pada problem dimana kekurangan tenaga-tenaga ahli untuk mengelola sumber daya alam Indonesia. Padahal negara Indonesia menjadi salah satu negara yang paling dilirik dunia karena sumber daya alam yang dimilikinya.

Berkaca pada hal itu, pendidikan menjadi strategi utama dalam perbaikan SDM kita. Apalagi hari ini dihadapkan pada Era revolusi Industri 4.0, masyarakat Indonesia dituntut untuk siap dan mampu bersaing dengan-negara lainnya. Pendidikan ini tentu bukan sekedar mata pelajaran yang diajarkan di sekolah maupun di dalam kampus, soft skill masyarakat harus dikuatkan melalui pelatihan-pelatihan secara rutin.

Kondisi Indonesia yang akan sampai kepada puncak bonus demografi menekankan pertanggungjawaban pembenahan Indonesia jatuh kepada generasi-generasi muda. Oleh karena itu, para milenial harus bersiap lebih keras untuk menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0 saat ini dan yang akan datang. Penguatan sektor ini akan sangat berpengaruh dalam pencapaian Indonesia madani seperti yang dicita-citakan.

Bukan hanya untuk menghadapi tantangan global saja, pemuda-pemuda yang mempuni juga dapat membantu perbaikan kondisi negara Indonesia. Merawat nilai-nilai Pancasila, mengawal penegakan hukum yang adil, menjaga kestabilan politik, hingga memperkuat perekonomian Indonesia dapat dilakukan oleh kelompok pemuda. Namun begitu, pemuda-pemuda di Indonesia harus diberikan kesempatan yang lebih, tidak lagi menjadi aktor pekerja atau orang dibelakang layar. Kembali ini semua untuk turut mendorong terciptanya Indonesia madani.

Oleh : Ahmad Arfah Fansuri Lubis
(Lulusan Senior Course HMI Cabang Purwokerto Tahun 2016)