Generasi M: Semangat Kemerdekaan Melawan Idelogi Kiri
Pemateri dan Modelator

MUDANEWS.COM, Medan – Sekelompok pemuda mengadakan disksusi dengan tema Semangat Kemerdekaan Melawan Ideologi Kiri, bertempat di Kedai Kopi Coklat Jalan Durung Pancing, Medan, Jumat (23/8/2019).

Pada diskusi kali ini dibuka oleh moderator dengan wacana bahwasannya ideologi pancasila dan undang-undang dasar 1945 sudah merupakan hal final maka dari itu tidak lagi ada perdebatan pada persoalan tersebut.

“Namun ada sebuah persoalan yang sedang hangat belakangan ini yaitu dimana kata-kata “kiri” menjadi sensitif, berhubung momentum kali ini masih berada pada bulan agustus yang identik dengan kemerdekaan maka kita akan coba menelaah ataupun merefleksikan semangat kemerdekaan dalam melawan ideologi kiri yang dianggap sensitif beberapa waktu belakangan ini,” terangnya.

Bung Martin Luiz sebagai pemateri pertama mengungkapkan bahwasannya ideologi kiri bukan merupakan sebuah ancaman maksudnya adalah bahwa kiri yang dimaksud sebagai sebuah ancaman adalah kiri yang bagaimana?, karena menurut beliau kiri adalah sebuah antitesa yang hadir bagi sebuah kemapanan struktur sosial dimana struktur tersebut hanya menguntungkan salah satu kelompok ataupun dengan kata lain kaum borjuasi.

Maka dari itu, seharusnya kita terus melakukan perjuangan untuk bisa mendapatkan keadilan dimana dalam hal ini bagi buruh yang masih sangat jauh dari kata sejahtera yang digaji hanya menggunakan standart upah minimum. “Sistem outsourcing yang bisa kapan saja memberhentikan buruh dan masih banyak persoalan lain, namun dalam hal ini yang saya maksud kiri adalah perlawanan atau perjuangan untuk menuntut keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ungkap Martin.

Selanjutnya, Jamaluddin sebagai pemateri kedua mengatakan nada yang sedikit berbeda daripada pemateri pertama, dimana beliau mengungkapkan bahwa untuk menelaah semangat perjuangan. Maka kita ingin mengartikan perjuangan dalam sudut pandang yang mana jika semangat kemerdekaan yang dimaksud adalah sesuai dengan yang dikatakan oleh Ernest renan bahwasannya semangat kemerdekaan adalah semangat yang timbul dari rasa senasib sepenanggungan dan memiliki cita-cita hidup bersama. Selain itu juga apakah yang kita maksudkan adalah kemerdekaan dalam sudut pandang intelektual dimana seperti yang dikatakan Edward Said bahwasannya intelektual adalah orang-orang yang harus menyuarakan kebenaran kepada pemerintah dalam bentuk kritik maupun argumentasi. Untuk itu perlu kita telaah dulu merdeka yang bagaimana yang kita maksud, atau jangan-jangan kemerdekaan yang kita maksudkan disini masih memiliki defenisi yang berbeda.

“Kiri yang ada dalam fikiran kita apakah sudah benar-benar sesuai dengan defenisi kiri yang sesungguhnya, jangan sampai kita menjadi masyarakat latah yang hanya menyerap informasi tanpa menyaring maupun mengkonfirmasi terlebih dahulu, jika kiri dalam artian komunisme ataupun kita sebut adalah sebuah gerakan-gerakan pemberontakan terhadap bangsa dan negara apalagi sampai mencoba merubah ideologi Indonesia dari pancasila menjadi sebuah ideologi lain kita sama-sama tidak pernah sepakat akan hal itu, tetapi jika defenisi kiri adalah menempuh garis perjuangan melawan penindasan maka kita tidak boleh menganggap itu adalah hal yang negatif,” jelasnya.

Menurut Jamaluddin, dalam persoalan bangsa kita masih disibukkan dengan masalah-masalah yang menumpuk, dimulai dari ketimpangan sosial, biaya pendidikan yang semakin kemari semakin mahal, buruh dan petani yang masih jauh dari kata sejahtera, penguasaan modal, politik yang pragmatis sehingga hanya menguntungkan bagi pemilik modal dan masih banyak permasalahan lainnya.

“Untuk memecahkan kebuntuan dalam menyelesaikan permasalahan ini kita harus menemukan sebuah solusi dimana saolusi pertama adalah kita harus terus menggali ilmu pengetahuan dan terus belajar sehingga kita akan menjadi sumber daya manusia yang unggul yaitu dengan cara memperbanyak membaca, berdiskusi, menulis dan berorganisasi,” jelasnya lagi.

Selain itu juga hal yang perlu kita tingkatkan lagi dalam kehidupan kita sehari-hari adalah menerapkan dialog yang berujung pada keromantisan itu bukti bahwa kita cinta tanah air. “Bukan hanya dengan debat-debat kusir yang tidak membawa kita kepada arah yang lebih baik melainkan dengan berdialog yang bisa membawa kita ke arah yang lebih mesra,” harap Jamaluddin. Berita Medan, red