LMND SUMUT, Pancasila Kalah ?
Saat kegiatan Diskusi Publik

MUDANEWS.COM, Medan – Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah Sumatera Utara melakukan launching dengan menggelar diskusi publik pada Kamis (15/8/2019) malam kemarin.

Diskusi yang bertajuk, “Pancasila Kalah?” menghadirkan narasumber Dr Aswan Jaya M.Kom.I (Pakar Komunikasi Politik), Farhan Abdillah Dalimunthe (Sekretaris Wilayah LMND Jawa Timur), Samuel Octavianus Gurusinga (Ketua PC GMNI Medan), Irham Sadani Rambe (Ketua Ikatan Mahasiswa Labuhan Batu Raya), dan Salim Abdurrahman (kader HMI komisariat FSH UINSU).

Acara yang diadakan di Literacy Coffee yang berlokasi di belakang kampus ITM tersebut dipenuhi oleh puluhan peserta yang terdiri dari mahasiswa lintas gerakan dan masyarakat dari lintas sektor. Bukan hanya dari warga kota Medan saja, namun juga ada yang datang dari Kota Siantar dan Tebing Tinggi.

“Kita ingin membuka ruang dialog yang seluas-luasnya untuk mencari jalan keluar atas permasalahan bangsa melalui diskusi-diskusi yang ilmiah seperti ini. Kita mau semua orang dari berbagai golongan dapat duduk bersama memberikan pandangannya dengan berpikiran terbuka dan mengenyampingkan egonya demi bangsa. Dan malam ini kita berhasil mewujudkannya,” ujar Baginda selaku moderator yang juga merupakan Bendahara LMND Sumut ketika membuka acara.

Pakar Komunikasi Politik, Dr Aswan Jaya, mengatakan bahwa hari ini Pancasila kalah karena Pancasila tidak terimplementasi dengan benar di Indonesia.

“Pancasila hari ini terkotak-kotakkan dan tidak mencapai tujuannya. Tujuan dari Pancasila adalah mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Akan tetapi itu merupakan proses yang runtut dari sila ke-1 sampai sila ke-5 tanpa terputus. Ketika bangsa ini menanamkan nilai-nilai Ketuhanan kedalam diri setiap individunya maka dia akan menjadi manusia yang adil dan beradab. Ketika itu terwujud maka terbangunlah yang namanya Persatuan. Ketika kita sudah bersatu maka kita akan bisa duduk bermusyawarah serta bermufakat. Ketika kita sudah mampu bermusyawarah tanpa mengedepankan ego masing-masing maka akan melahirkan yang namanya keadilan sosial dan kesejahteraan,” papar Dr Aswan Jaya.

“Kemudian apa yang terjadi hari ini? Sila ke-1, sila Ketuhanan pun tidak terimplementasi di tengah bangsa ini bagaimana mau menuju sila yang lainnya? Sila Ketuhanan bukan hanya bermakna religiusitas, namun menanamkan nilai-nilai Ketuhanan didalam pribadi masing-masing. Nilai-nilai Ketuhanan itulah nilai-nilai peradaban seperti perbuatan baik, kejujuran, saling menghargai, tidak menyakiti, amanah, dsb. Semua orang yang mengaku ber-Tuhan pasti diajarkan tentang ini. Semua agama, bahkan yang menganut kepercayaan animisme, dinamisme dan ateis sekalipun pasti tidak mengingkarinya. Lantas bagaimana mau menuju sila ke-5 kalau sila pertama saja tidak terlaksana?,” lanjutnya.

Saat ini, menurut Dr. Aswan Jaya Pancasila dikotak-kotakkan oleh Pemerintah. Hanya 2 sila yang sibuk diperjuangkan oleh Pemerintah yaitu sila ke-3 dan sila ke-4 karena untuk bagi-bagi kue kekuasaan.

Sedangkan sila ke-1 dan sila ke-2 tidak dilaksanakan, apalagi sila ke-5.

“Contohnya saja, implementasi sila ke-2 dalam membangun peradaban adalah dengan memajukan pendidikan & penelitian. Berapa anggaran pemerintah untuk penelitian di Indonesia? Sangat kecil, justru yang no-limit adalah anggaran BIN untuk memata-matai rakyat,” jelas Aswan Jaya.

Kemudian dalam pelaksanaannya Pancasila juga diserahkan ke lembaga-lembaga lain secara parsial.

“Sila ke-1 diserahkan urusannya kepada pemuka-pemuka agama, sila ke-2 diserahkan kepada lembaga sosial, sila ke-3 kepada Organisasi Kepemudaan (OKP) dengan meneriakkan “NKRI HARGA MATI!”, sila ke-4 diserahkan kepada pemerintah untuk urusan bagi-bagi kursi 5 tahunan sekali, dan sila ke-5 yang menjadi puncak justru disembunyikan. Pancasila dimaknai secara parsial. Maka Pancasila menjadi kalah. Kalah!,” tegas Aswan Jaya.

Di akhir acara, Diskusi Publik ini melahirkan resolusi untuk sama-sama memenangkan Pancasila dengan menjadikan Pancasila sebagai landasan berpikir dan berperilaku mulai dari pemerintah dalam melahirkan kebijakan-kebijakannya hingga masyarakat akar rumput dalam berperilaku sehari-hari. Berita Medan, Red