Jalan Cinta Kemerdekaan (Refleksi 74 Tahun Merdeka Dari Penjajah)
Muhammad Mas'ud Silalahi

MUDANEWS.COM – Kita masih berada di depan pintu gerbang, belum lagi memasuki jalan menuju taman impian tapi sudah merasa sampai, padahal jalan masih panjang dan perjuangan harus terus dilanjutkan.

Kini perbuatan sudah menghitung-hitung keuntungan dan kerugian, tidak ada lagi yang berbicara tentang perjuangan dan pengorbanan, tidak ada lagi yang bicara menanam karena semua berebut hasil panen. Kita telah menjadi rakus dan serakah setelah orang tua kita meninggalkan warisan, sampai-sampai kita rela saling membunuh saudara sendiri demi mendapatkan jatah waris yang lebih banyak. Sekarang kita menjadi saling memangsa demi memperebutkan harta kekayaan peninggalan orang tua kita, sehingga membuat kita ditertawakan oleh tetangga. Padahal orang tua kita menanam pohon impian dengan kringat, darah, air dan mata keperihan. Duka lara menahankan duri yang menusuk kaki hingga meneteskan darah menjadi santapan empuk sehari-hari bagi orang tua kita demi merawat dan memupuk pohon impian agar berbuah manis yang dapat kita nikmati sebagai jeri payah mereka semasa itu. Tapi kini mereka mungkin bersedih melihat tingkah konyol kita yang seperti anak-anak usia dini yang gemar berantam demi rebutan kursi dikelas, rebutan roti saat jam makan siang dan rebutan mengambil ransel saat bel berbunyi.

Kehidupan seperti apa yang sedang kita jalani saat ini?

Semua berbicara tentang manfaat dan guna, tidak ada lagi yang berbicara tentang cinta dan kerinduan. Kini kita saling berbicara ketika ada hubungan kepentingan yang bisa sama-sama menguntungkan saja dan tidak ada lagi tegur sapa diluar dari itu, masing-masing membatasi diri lantaran menganggap tidak ada yang dapat diambil keuntungan ketika berkomunikasi dan berinteraksi yang tidak ada kegunaannya untuk bertegur sapa. Bahkan kita merasa lebih asing terhadap tetangga disamping rumah kita daripada sama turis yang dapat ke kampung halaman kita untuk berwisata.

Kini kehidupan kita menjadi broken karena rasa senasip dan sepenanggungan sudah menghilang dari hati. Kita telah merobek-robek cinta hanya demi nafsu birahi yang membara, lalu pada akhirnya melahirkan kebencian mendalam. Kita hanya disibukkan dengan pertikaian harta waris orang tua saja tanpa berfikir untuk menanam pohon kehidupan untuk anak cucu berikutnya dikemudian hari, hingga tanpa menyadari bahwa buah-buah manis dari hasil tanaman orang tua kita telah dihabisi oleh monyet-monyet nakal pencuri buah segar. Mereka telah mengambil kesempatan dalam kelalaian kita ketika bertikai, berdebat dan bergulat mati-matian hanya demi meraup buah yang lebih banyak.

Ketulusan dan keikhlasan kini sudah menjadi barang langka ditemukan dalam kehidupan kita, keserakahan dan ketamakan membawa kita pada sikap yang perhitungan. Kita tidak sudi lagi meneteskan keringat, darah dan air mata untuk terus menanam pohon-pohon kehidupan agar tetap terus membuahkan hasil yang baik dimasa panin berikutnya. Mahal sekali rasanya harga keringat itu untuk perjuangan yang telah lama dilakoni para nenek moyang kita.

Gotong royong yang dilakukan kini hanya tinggal slogan dan formalistik untuk menambah album photo, tidak lagi ada keseriusan untuk saling bahu membahu memikul beban penderitaan dalam menjalani perjuangan kehidupan. Semua sudah pada sibuk masing-masing dengan kelompoknya dan tidak mau lagi bersama-sama untuk saling menguatkan. Malah ketika yang bukan kelompok kita mengalami kesulitan kita tambah lagi beban kesulitannya, tidak puas sampai disitu kita justru menambah ejekan, hinaan, caci dan maki. Tidak banyak sekarang yang mau mengurangi, menolong, menyelamatkan dan membantu. Bahu membahu meringankan beban saudara kita walaupun berbeda kelompok dan golongan. Rasa hasut, iri dan dengki telah membunuh cinta.

“Jangan berhenti kaki mendayung, berhenti kaki mendayung sepeda tidak dicagak berarti jatuh.”

Sekarang kita telah berada dipersimpangan jalan yang ramai arus kendaraan berlalu-lalang dihadapan mata, lantaran kehilangan peta kita menjadi bingung hendak kemana. Sementara taman impian masih jauh dan perjalanan harus terus di lanjutkan. Apakah kita harus dengan cara menerka-nerka atau harus bertanya?

Ya saudara, kini kita telah memasuki suasana kebingungan. Semua berjalan kalang kabut dan tidak tahu siapa yang dapat dipercaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kita dipersimpangan jalan perjuangan ini. Semua mengaku tahu dan bisa memandu perjalanan, padahal hanya menerka-nerka dan mengharapkan imbalan.

Muhammad Mas’ud Silalahi
Medan, 16 Agustus 2019