Sekilas Gerakan Kemerdekaan Indonesia dan Sejarah Perjalanan Bangsa
Dokumentasi di Kantor Kedutaan Besar Amerika bersama Johan (Gerakan Brantas Korupsi Brebes), Mrs. Sofia Blake (Kedutaan Besar Amerika), Eny (Tim Brebes Mengabdi), Mrs. Neeru Sign (Kedutaan Besar India), Sahabat Rahmat Nuriyansah (Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Eksplorasi Tekhnologi PKC PMII Jawa Barat 2017-2019), Mrs. Niqqita (The Art of Living/ India) dan Eko (Masigab).

MUDANEWS.COM – Sesungguhnya bukan pada kualitas pemimpin itu sendiri melainkan pada Sistem yang dibangun, lebih tepatnya pada kualitas Pemimpin dalam membangun sebuah sistem. Seperti bahasa yang lugas “beriring-iringan patah ditengah” disampaikan Dr. A. Rivai dan Dr. Tjipto, niscaya akan memegang peranan yang jauh berlainan sekali di dalam gerakan kemerdekaan Indonesia jika disini ada kapital besar milik bumiputra.

Sejak runtuhnya kerajaan Majapahit dan masuknya era penjajahan oleh Bangsa Belanda, maka seluruh aspek kehidupan Bangsa yang bernaung dibawah kerajaan dan kesultanan yang tersebar diseluruh Nusantara secara perlahan tapi pasti telas dikuasi oleh Bangsa Belanda.

Bangsa Besar yang kodratnya adalah bangsa lautan/bahari, secara perlahan dan pasti oleh penjajah telah diubah kodratnya menjadi bangsa daratan/ agraris. Dengan politik ”devide et impera” Bangsa Belanda dengan mudah menguasai dan menaklukan semua kerajaaan dan Kesultanan Nusantara dan dikendalikan sesuai dengan kepentingannya. Dan saat itu mulailah era penjajahan/ penindasan masuk yang melahirkan berbagai macam kesengsaraan rakyat Nusantara. Perlakuan tersebut telah membangkitkan dan mendorong semangat para pemimpin kelompok Anak Bangsa untuk melakukan perlawanan atas ketidakadilan.

Orde lama, orde baru, reformasi bahkan sampai saat ini merupakan dekade penjajah yunani secara soft power. Bangsa Indonesia hidup dengan penuh latar belakang yang kusam padahal banyak Negara-negara kecil dan miskin di dunia yang kaya karena kekayaan sumber daya alam Indonesia. Hal ini sulit direduksi oleh aktivis muda, pemerintah maupun elite politik bahkan sekelas pakar sekaligus. Tentu menjadi bahan evaluasi bersama atas runtuhnya semangat patriotisme Bangsa Indonesia dibawah “sistem liberalistik kapitalisme (Demokrasi)” yang berasal dari yunani.

Faktanya adalah Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim itu dikebiri melalui moralitasnya. Semakin lemahnya tenggang rasa, gotong-royong, tolong-menolong, tidak acuh tak acuh semakin membuat Bangsa Indonesia kehilangan arah dalam Pustaka hidup. Jelas ini menyimpang dari ajaran nenek moyang kita.

Hal ini disebabkan akibat dipaksakannya sistem demokrasi diterapkan didalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Sebagai akibatnya masyarakat nusantara yang semula selalu rukun, damai, welas asih, suka tolong menolong, dan menjaga silaturahmi telah berubah menjadi masyarakat yang individualis, egois, mementingkan diri sendiri di tengah-tengah disrupsi. Berbeda dengan masa lampau yang penuh nilai.

Hubungan harmonis yang pernah ada dalam kehidupan masyarakat telah berubah menjadi disharmonis sudah menjurus ke arah SARA (suku, agama dan ras) yang membahayakan keutuhan kehidupan dalam Berbangsa dan Bernegara. Dan ini sudah berada dalam titik nadir tentu perlu penyelamatan segera. Berkenaan dengan sistem tata cara berbangsa dan bernegara (belief of system).

Harmonisasi sains & teknologi (Pancasila) merupakan solusi yang tepat untuk melindungi dan menjaga keutuhan suatu peradaban dalam gugus segitiga potensi Bangsa. Yang mampu dijadikan sebagai regulator dan koridor (sistem) dalam kehidupan tata cara berbangsa dan bernegara yang baik dan benar, guna tidak menimbulkan kehidupan yang pragmatis, individualistis, persaingan, perpecahan dll.

Para pemangku Amanah Bangsa yakni agamawan yang melakukan perlawanan terhadap belanda seperti perang padri, perang di ponogoro, perang maluku dan sebagainya. Cendikiawan yang melakukan perlawanan dengan cara meningkatkan pendidikan terhadap anak bangsa. Tentara keamanan rakyat (TKR) dengan penuh kesadaran mengangkat senjata terhadap Belanda kemudian menjadi cikal bakal Tentara Republik Indonesia. Dan peran penting para Raja, Sultan dan Pemangku Adat yang menggunakan kekayaan dan kemampuan yang dimilikinya untuk membantu perjuangan tersebut. Keterlibatan mereka adalah fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri dan sebenarnya mereka adalah Pewaris Amanah Bangsa serta Stakeholder Bangsa Indonesia yang Sah.

Indonesia mempunyai budaya keanekaragaman adat istiadat yang menjadi pandu dunia. Tentu semua haruslah berangkat melalui history bukan story dan berbasis kesadaran nilai bahwa Indonesia adalah Negara Terkuat secara Potensi Bangsa & Terkaya secara sumber daya alam di dunia (mercusuar dunia) bahwa “gemah ripa loh jinawi toto tentrem kerto raharjo” itu haruslah melekat ditubuh Peradaban Masyarakat Nusantara.

Penulis adalah Rahmat Nuriyansah, Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan & Eksplorasi Tekhnologi PKC PMII Jawa Barat 2017-2019