Pancasila Dan Demokrasi Tidak Bisa Diseragamkan
Sebelah kiri ke-2 Ex Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Slamet Soebijanto Presiden SBY (batik berwarna kuning), sebelah kiri ke-3 Prof. Dr. Ir. Abdul Basith M.Sc (Disruption) Motivator dan kanan pertama Sahabat Rahmat Nuriyansah Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Eksplorasi Tekhnologi PKC PMII Jawa 2017-2019

MUDANEWS.COM – Ada hal yang lebih menarik selain bicara soal pasar bebas dan trade war. Kenapa gerakan di era milenial mengalami kebuntuan? dengan semakin semaraknya volume ego sektoral. Bagaimana dengan ide-ide brilliant, gagasan dan ketegasan sikap (konsep) dalam menyikapi akar permasalahan bangsa? mayoritas menjawab the day of matrealistic. Apakah saat ini sedang menganut hukum kebendaan?

Ditengah-tengah dunia yang sedang mengalami percepatan dan manusia membutuhkan penyesuaian. Antara value & belief tidak lagi melekat di tubuh Bangsa Indonesia. Apakah bisa di nol-kembali ditengah-tengah kondisi Bangsa Indonesia yang semakin terpolarisasi?

Berangkat dari hukum kedisinian atau eropa kontinental melihat dari polanya, skema tradisi barat sudah menjarah dan mendarah daging pada Bangsa Indonesia, khususnya Negara yang menjamin kehidupan bangsa dan sebagai motor pengendali dibawah sistem yang sudah tidak sehat lagi. Faktanya nilai-nilai Pancasila pun semakin sulit untuk diterapkan didalam Demokrasi. Serta kepunahan Potensi baik secara SDM & SDA menjadi catatan penting dalam melakukan upaya perbaikan nilai.

Apakah mungkin di era disrupsi pergerakan mengenakan transformatif nilai dari wujud material menjadi imaterial, dari tangible menjadi intangible, sebagai hasil internalisasi dari apa yang konkrit menjadi abstrak. Begitupun sebaliknya dari yang abstrak menjadi kongkrit.

Karena hal inilah kemudian budaya dapat di kategorikan menjadi budaya yang intangible dan tangible. Antara budaya yang intangible sebagai ilmu pengetahuan (sains) dengan budaya tangible sebagai teknologi yang mampu memberikan Energi positif bagi Bangsa Indonesia. Tentu setiap akibat dapat ditentukan sebab-sebabnya dan masing-masing sebab memiliki pengaruh terhadap terjadinya suatu akibat (conditio sine qua non).

Dalam hal ini harus ada dalam konteks saling mewujudkan dan melengkapi. Artinya bahwa untuk budaya tangible perlu diabstraksi menjadi konsep yang intangible dalam melahirkan nilai, yang pada suatu saat nanti intangible ini harus diturunkan dan didudukkan konteks tangible.

Berangkat dari sini dapat disimpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang cerdas, kreatif, mandiri, serta kontemplatif. Adanya kekayaan budaya yang tangible dan intangible di Nusantara sarat akan nilai (value) dan keyakinan (belief) merupakan bukti yang shahih atas eksisnya kapasitas unggul Bangsa Indonesia sejak beberapa abad yang lalu.

Tentu berbagai macam persoalan dalam Berbangsa dan Bernegara baik secara eksplisit dan Implisit Pemerintah & Elite Politik harus mampu mencabut akar permasalahan-Nya. Agar berbagai macam interpretasi dapat menjadi energi untuk Bangsa Indonesia.

Kemudian kekayaan budaya ini merupakan sumber inspirasi bagi ragam karya budaya bangsa, termasuk menjadi inspirasi bagi para leluhur Bangsa Indonesia yang telah menciptakan dan melahirkan ajaran yang konseptualā€dinamis dalam membawa Indonesia ke arah yang jauh lebih baik bahwa Pancasila adalah Jatidiri Bangsa serta Tekhnologi dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara (nations & caracter building).

Penyeragaman Pancasila dengan Demokrasi harus kita pisahkan melalui Risalah Bangsa (History) agar nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila mampu di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari dari mulai organisasi terkecil (keluarga) sampai Internasional (PBB) bahkan dunia.

Rahmat Nuriyansah, Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan & Eksplorasi Tekhnologi PKC PMII Jawa Barat.