Membedah Visi Revolusioner Jokowi
Muhammad Ikhyar Velayati Harahap

MUDANEWS.COM 

Tesis Jokowi

Paska ditetapkan sebagai presiden hasil Pilpres 2019, Joko Widodo berpidato dalam acara Visi Indonesia di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Minggu (14/7/2019) . Pidato ini terkait visi dan misi untuk lima tahun kedepan. Acara ini sekaligus wadah silaturahmi antar pendukung dan relawan Jokowi-Ma’ruf.

Respon terhadap pidato Jokowi beragam, ada yang mendukung tetapi tidak sedikit juga yang mengecam, khususnya ahli ekonomi dan aktivis yang selama kontestasi pilpres 2019 berada di gerbong Kertanegara. Pihak oposisi yang menentang pidato Jokowi yang berjudul visi Indonesia ke depan, menyimpulkan tujuan pembangunan Jokowi semata-mata menarik investasi dan investor ke Indonesia, atau kasarnya pemerintah saat ini merupakan rezim investasi. Padahal jika mereka jujur mendengar dan menganalisa pidato Jokowi, investasi merupakan dampak dari strategi program pembangunan, bukan tujuan.

Jika kita memakai dialektika hegel dalam mengurai alur pidato Presiden Jokowi yang bertema “visi Indonesia ke depan“, tesis awal beliau berangkat dari kesimpulan mengenai konfigurasi ekonomi politik dunia internasional yang bergerak cepat dan sangat dinamis. Ciri cirinya di tandai dengan kecepatan, resiko, penuh kejutan dan seringkali jauh dari perhitungan atau unpredictable.

Situasi ekonomi dan politik yang bergerak dinamis tersebut tidak mampu direspon secara cepat oleh struktur birokrasi, sehingga program pembangunan yang tertuang dalam Nawacita sering berjalan tidak maximal. Ketidak mampuan birokrasi dalam mengeksekusi program secara cepat, terukur, efesien di sebabkan kultur dan SDM yang masih pada pola pikir dan budaya kerja yang lama, yaitu berbelit belit, tidak efektif tidak efesien sehingga menghambat investor luar maupun nasional untuk terlibat dalam proses pembangunan. Di sisi lain banyak lembaga atau badan negara yang tidak fungsional dan bersifat parasit dan hanya menghamburkan dana APBN/APBD.

Dinamika politik nasional yang kurang kondusif juga merupakan salah satu hambatan masuk dan berkembangnya investasi Internasional maupun nasional. Gerakan dan Intervensi kelompok/Tokoh yang menganut ideologi anti pancasila dalam Pilkada dan Pilpres, berdampak pada polarisasi dan pembelahan politik dari mulai elit hingga akar rumput. Situasi politik nasional yang memanas ini membuat ragu para investor karena tidak ada kepastian hukum, terjadi perlambatan ekonomi serta mengancam keberlanjutan pembangunan. Situasi politik yang tidak stabil mempengaruhi kecepatan birokrasi dalam mengekseskusi program nawacita yang sudah diagendakan.

Rumusan Program & Strategi Pembangunan

Sebagai antitesa dalam menyikapi dinamika ekonomi-politik global yang bergerak cepat, sukar diprediksi serta kondisi subjektif SDM dan birokrasi yang masih terjebak pada mindset dan cara kerja lama, Presiden Jokowi memaparkan program dan strategi mendesak yang harus dilakukan pada priode kedua yaitu perubahan kultur, artinya Pemerintah akan menciptakan dan jika perlu memaksa struktur birokrasi dan aparat terkait untuk bekerja dalam sistem modren yang efesien, efektif, tidak berbelit belit dalam bekerja mengelola organisasi, lembaga, maupun pemerintahan. Indonesia harus menjadi negara yang lebih produktif dan memiliki daya saing.

Dalam aspek Inovasi teknologi dan ekonomi Indonesia harus mulai adaptif, produktif dan mampu berkompetisi dalam kwalitas produk maupun SDM dengan bangsa luar. Inovasi teknologi dan organisasi modren yang efektif menjadi syarat dan program utama menurut Jokowi. Jika Kultur, SDM dan inovasi teknologi serta ilmu pengetahuan sudah dimiliki, maka iklim investasi akan datang dengan sendirinya yang berdampak pada lancarnya pembangunan dan bermuara pada kesejahteraan rakyat.

Untuk melaksanakan rumusan program tersebut, Jokowi menyebut Indonesia punya modal sumber daya alam (SDA) yang melimpah berupa kekayaan alam, tercermin dari 17.000 pulau yang tesebar dari Sabang hingga Merauke. Selain itu Sumber daya manusia dan tenaga kerja juga melimpah (penduduk 267 juta jiwa). Indonesia juga punya modal sosial yang besar dalam menopang pembangunan yaitu pancasila dan fhilosofi Bhinneka Tunggal Ika yang sudah berjalan puluhan Tahun sejak Merdeka 17 Agustus 1945.

Strategi yang di terapkan dalam pembangunan priode kedua dimulai dari apa yang ada, bukan dari apa yang mungkin. Untuk itu program tahap pertama, dimulai dari pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan semakin semakin di genjot seperti jalan tol, kereta api yang di sambungkan dengan kawasan industri rakyat. Strategi ini dalam rangka menjadikan desa sebagai pusat aktifitas ekonomi dan sentral pembangunan. Dampak dari pergeseran dan prioritas pembangunan ini akan mencegah urbanisasi, sementara industrialisasi dan digitalisasi pedesaan akan bermuara pada kesejahteraan rakyat Indonesia yang mayoritas kerja dan tinggal di pedesaan.

Jokowi sangat menyadari, sebagus apapun program ekonomi dan pembangunan tidak akan berjalan jika suasana politik gaduh dan tidak kondusif. Maka setiap pihak yang berusaha mendeligitimasi pancasila dan NKRI akan diberi tindakan tegas sesuai dengan hukum dan perundang undangan. Indonesia punya modal persatuan, norma-norma agama, etika ketimuran dalam mengikat seluruh elemen bangsa yang majemuk dan plural untuk berlayar dalam perahu NKRI. Menggerogoti kontrak berbangsa serta mendelegitimasi nilai dan falsafah berbangsa merupakan musuh bersama rakyat Indonesia, bukan hanya musuh pemerintahan Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Konsolidasi kebangsaan dalam bentuk rekonsiliasi yang berbasiskan hukum dan perundang undangan menjadi basis sosial awal Jokowi untuk melanjutkan program pembangunan Nawacita Jilid II.

Solusi Pembangunan

Mengacu pada analisa dan kesimpuan di atas, Jokowi merumuskan sintesa (Tesis Baru) untuk membawa Indonesia berada dalam posisi yang sejajar secara ekonomi, teknologi dan politik dengan bangsa bangsa yang ada di dunia. Program dan strategi menuju ke cita cita tersebut, dimulai dari menjadikan desa sebagai pusat ekonomi, teknologi dan pembangunan SDM serta menciptakan tenaga kerja yang handal. Strateginya dengan menyambungkan infrastruktur ke kawasan persawahan, perkebunan, perikanan, parawisata dan lainnya.

Program dan strategi pembangunan ini membutuhkan SDM handal, struktur birokrasi yang efektif dan efesien serta membutuhkan modal dari APBN, Investasi asing dan Nasional. Maka ke depan pemerintah akan fokus mencetak ilmuan/teknokrat, tenaga kerja handal serta birokrasi yang mempunyai skil dan kultur modren. Program dan strategi ini diambil mengacu pada evaluasi dan pengalaman kerja periode pertama yang seringkali hambatan disebabkan budaya dan skil yang rendah dari tenaga kerja maupun birokrasinya.

Taktik pembangunan untuk melahirkan tenaga kerja dan SDM birokrasi modren dimulai dari hulu hingga hilir, hulunya dengan peningkatan kesehatan manusia indonesia, khususnya kaum ibu, para bayi serta tenaga kerja dewasa harus terjamin kesehatannya. Selain itu riset, penelitian dan inovasi teknologi akan di kembangkan oleh universitas untuk menciptakan ilmuan dan temuan teknologi yang menopang proyek ambisius Jokowi. Sementara di hilirnya akan dilatih tenaga kerja yang handal melalui kursus kursus kilat dan untuk meningkatkan skil tenaga kerja serta pembukaan sekolah sekolah yang bersifat tekhnis dan vokasional mulai dari SD-SMP-SMA sederajat.

Jika syarat syarat investasi sudah terpenuhi, seperti inovasi teknologi yang massif, infrastruktur yang terintegrasi dan murah, Tenaga kerja yang handal tersedia, birokrasi yang modren dan efektif sudah terbangun, regulasi yang tidak mempersulit setiap orang, serta tercipta politik yang kondusif, maka investor asing dan nasional akan datang dengan sendirinya, dampaknya akan terjadi penyerapan tenaga kerja luas dan massif, sehingga menciptakan daya beli masyarakat yang tinggi yang bermuara pada kesejahteraan rakyat. Demikian alur dan dialektika visi Indonesia ke depan Presiden Jokowi.

Visi Jokowi Dalam Nafak Tilas Sejarah

Jika kita cermati, alur dan dialektika visi Presiden Jokowi tentang Indonesia ke depan, terlihat bahwa visi tersebut belajar dari nafak tilas sejarah dialektika antara ilmu, teknologi, kesejahteraan dan peradaban manusia sebelumnya.

Sejak awal manusia terus berusaha menemukan hukum hukum yang mengatur keberadaan mereka di Dunia ini. Sejarah membuktikan dialektika antara penemuan teknologi baru para ilmuan, berpengaruh kepada perkembangan tenaga produktif yang mendorong maju kesejahteraan dan peradaban umat Manusia, begitu juga sebaliknya. Perkembangan tenaga produktif menjadi basis para ilmuan dalam menemukan hukum/teori baru yang membuat dunia semakin maju, mengecil, terintegrasi yang berdampak pada tatanan sosial dan fhisikologis manusia modren.

Sebelum barat mendominasi, siklus dan dialektika sejarah kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi telah dahulu menghampiri Dunia islam (Bangsa Arab). Islam pernah berhasil mencapai masa keemasan (golden age of Islam) selama beberapa abad. Dialektika penemuan hukum/teori ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu melahirkan teknologi baru yang menjadi pendorong gerak sejarah dan peradaban dunia pada era 780 M – 1258 M.

Dunia mengenal sumbangan para ilmuan dan pemikir islam seperti Ibn Sina (980 – 1037) dalam bidang Medis. Dunia medis kini semakin berkembang berkat eksplorasi ilmuwan Persia Ibn Sina yang menulis buku The Canon of Medicine. Buku yang ia tulis menjadi pedoman mahasiswa kedokteran di Eropa hingga tahun 1600-an

Selain itu ada Al-Khawarizmi (780-850) yang berjasa menemukan konsep Aljabar dan algoritma, Jabir Ibn- Hayyan (721-815) ilmuwan dari Iran yang ahli di bidang kimia, orang pertama yang menemukan asam sulfat, klorida dan nitrat. Kontribusi lainnya ialah pada penemuan alkali, Ibnu al-Nafis (1213 – 1288) sering dijuluki sebagai bapak fisiologi peredaran darah. Ibnu Khaldun (1332 – 1406), ilmuwan dari Tunisia yang dikenal sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah.

Dunia juga berhutang budi pada Al Zahrawi (936 – 1013) ilmuwan dari Cordoba yang ahli di bidang kedokteran. Dia yang menemukan konsep operasi modern. Penemuannya yang sangat berguna hingga, Ibnu Haitham (965 – 1040) ilmuwan Irak yang ahli di bidang matematika. Ia dikenal sebagai pendiri optik modern. Ibnu Haitham berhasil membedah konsep cahaya.

Ada juga Umar Khayyam (1048 – 1131) ialah ilmuwan Iran yang berhasil mengkoreksi kalender Persia. Umar Khayam juga menghitung panjang tahun matahari secara akurat, Ibnu al-Baithar (1197 – 1248) ilmuwan dari Malaga yang terkenal di bidang botani dan kedoteran. Dia yang mencatat penemuan dokter abad pertengahan secara sistimatis, Thbit ibn Qurra (826 – 901) ilmuan Arab yang ahli di bidang matematika. Ia yang menerapkan sistem geosentrik Ptolemy dan penemu konsep statistika. Di atas landasan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi Islam lah evolusi kemajuan barat (Eropa) berkembang dan menguasai dunia. Dominasi tersebut tidak terkepas dari perkembangan tenaga produktif yang maju dan berkembang pesat hasil temuan para ilmuan era abad 17 hingga memasuki abad 21.

James Watt tak sekedar membuat mesin uap. Oppenheimer tak sekedar membuat bom atom, yang Ia buat adalah sesuatu yang pada akhirnya menentukan konfigurasi peradaban dan politik global. Pun demikian dengan Shockley yang tak sekedar membuat transistor, yang menjadi landasan revolusi teknologi informasi dan kini telah menjelma menjadi alat untuk infiltrasi budaya serta rekayasa sosial. Temuan Para Ilmuan melahirkan revolusi industri dan pada akhirnya mengubah tatanan sosial secara global. Dari sanalah lahir ilmu ilmu sosial, negara modren, kawasan industri, masyarakat urban, dikotomi borjouis-proletar dan kolonialisme, bahkan Negara Indonesia.

Perubahan pola pikir dan kultur kerja baru di birokrasi dan dunia akademik seperti yang tertuang dalam visi Jokowi, dipastikan gagal jika iklim literasi, perkembangan ilmu dan inovasi teknologi gagal berkembang seperti yang di harapkan, kenapa ? Sejarah membuktikan, perubahan mindset dan pola kerja modren merupakan imbas langsung dari perkembangan/revolusi teknologi dan ilmu pengetahuan. Kemajuan teknologi atau Revolusi industri mengakibatkan perubahan mindset manusia untuk bekerja cepat dan menggunakan alat bantu, melahirkan peralihan cara manusia bekerja. Dari bekerja secara manual menjadi bekerja menggunakan mesin dan memproduksi produk secara besar-besaran (massal).

Dalam sejarah juga terlihat bahwa perkembangan teknologi dan ilmu pengetetahuan juga berdampak pada lahirnya produk berkwalitas yang massif, melahirkan investasi dalam bentuk pabrik pabrik yang menyerap tenaga kerja sehingga masyarakat mempunyai pendapatan baru. Revolusi industri dan inovasi teknologi yang mendorong peralihan masyarakat pra modren menjadi modren.

Apabila program peningkatan SDM serta inovasi teknologi yang di canangkan Jokowi berhasil, maka bukan saja berdampak secara ekonomi yaitu penyerapan tenaga kerja dan peningkatan daya beli masyarakat khususnya di desa desa, tetapi secara otomatis akan mengubah mental, budaya dan pola pikir masyarakat mengikuti perkembangan masyarakat post Modren. Maka perubahan kultur dan mindset masyarakat di birokrasi dan pedesaan bukan lahir dari penyuluhan, bimbingan, pidato maupun seminar seminar tentang mental dan cara berpikir, tetapi merupakan dampak dari revolusi teknologi, investasi pembangunan serta iklim literasi yang berangkat dari penelitian dan riset di seluruh aspek kementrian dan kampus.

Oleh karena itu, program pembangunan Jokowi ke depan yang akan mengintegrasikan infrastruktur serta industrialisasi ke desa desa bertujuan menjadikan desa sebagai sentral ekonomi dan pusat perputaran uang. Ke depan, akan terjadi Ruralisasi yaitu perpindahan penduduk dari kota ke desa. Jika dahulu aktivitas atau interaksi orang kota ke desa hanya karena faktor rekreasi, bisnis dan hiburan.maka ke depan bermotif mencari kerja, bisnis, investasi dan pendidikan.

Pergeseran pembangunan bisa berdanpak negatif untuk itu harus segera di antisiapsi. Jangan sampai niat ingin mendistribusikan kesejahteraan rakyat ke desa desa justru membuat dehumanisasi di berbagai sektor kehidupan di pedesaan. Salah satu dampak yang akan terjadi, desa menjadi sangat padat dan sesak. Ruralisasi membutuhkan pemukiman-pemukiman baru tempat tenaga kerja dan para bisnis man bertempat tinggal. Jangan sampai desa menjadi tempat pemukiman kumuh baru yang melahirkan kemiskinan dan meningkatnya angka kriminalitas.

Jika pembangunan, modal, teknologi sudah massif dan efektif memasuki desa, maka segala bentuk kultur, struktur birokrasi, relasi hubungan patron-klien akan tersapu bersih, saatnya Indonesia memasuki Era Baru dan Dunia baru. Sejatinya visi misi pemerintahan Jokowi merupakan tuntutan dan takdir sejarah Rakyat Indonesia.

Oleh : Muhammad Ikhyar Velayati Harahap

Penulis adalah Kord Forum Aktifis 98 Sumut dan Ketua Relawan Tim Pemenangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin dari Jaringan Amar Makruf Sumatera Utara.