Takicuah Di Nan Tarang
Muhammad Ikhyar Velayati Harahap

MUDANEWS.COM – Bagi seorang penderita Insomnia akut sepertiku, mendengar lagu sebelum tidur melalui You Tube merupakan satu tehnik relaksasi untuk mengurangi kecemasan agar bisa tertidur pulas. Saat mengklik aplikasi tersebut, terdengar lagu minang sendu berirama melayu. “Hilang di nan kalam alah biaso, takicuah di nan tarang hati taibo,” demikian bunyi lirik lagu minang, lagu yang dipopulerkan kembali oleh artis kenamaan minang Ratu Sikumbang.

lagu ini bercerita tentang gambaran kedukaan dan kesedihan akibat “penghianatan” yang dilakukan seorang kekasih, padahal si adik telah menanti selama tiga tahun dengan penuh kesabaran dan kesetiaan akan janji komitmen setia tetapi pinangan urang lain yang diterima, kemana malu akan dibawa?

Jika di lihat artinya di google, Takicuah di Nan Tarang, merupakan sebuah ungkapan atau pepatah (peribahasa) daerah Minang yang kalau di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sama pengertiannya dengan “Tertipu di tempat terang atau terkecoh pada sesuatu yang sudah jelas atau nyata”. Takicuah di Nan Tarang juga bisa di artikan sebuah keadaan tertipu dalam keadaan yang tidak mungkin untuk tertipu.

Tahun 2019 adalah Tahun politik, Tahun membangun komitmen antara Capres dan Parpol koalisi, antara Parpol koalisi dan konstituen. Tahun ini juga momentum mendengar semua aspirasi untuk saling menghargai dan menghormati posisi masing – masing. Sebelum pilpres berlangsung, di adakan Ijtima Ulama 1 dan II di jakarta, GNPF-Ulama menyepakati dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pilpres 2019. Peristiwa sakral ini diklaim melibatkan ratusan ulama dan tokoh nasional.

Hasil Ijtima Ulama berhasil menghipnotis sebahagian umat bahwa pasangan yang di usung merupakan refresentatif tokoh Islam yang wajib di menangkan, walaupun masyarakat sangat paham kedua tokoh ini sangat tidak islami jika di lihat dari sejarah, jejak rekam, latar belakang pendidikan maupun prilaku relejinya, tetapi di tahun tersebut semua mendadak relejius dan berubah menjadi Ustaz.

Narasi dan diksi mengenai sosok pasangan capres ini terus menjulang dan berkembang menjadi tidak rasional di media sosial, kampus, rumah ibadah (Mesjid) hingga warung kopi. “Jika pilih capres ini masuk surga, pilih capres itu masuk neraka“. Narasi ini terus dilanggengkan dan disuburkan, semakin lama orang orang akan menganggap narasi tersebut benar.

Persoalan konflik lokal, tekanan ekonomi, loyalitas terhadap tokoh, sentimen agama serta sentimen asing yang ada di masyarakat, berkembang melahirkan spritualitas rasa dendam terhadap petahana. Terjadi pembengkakan sudut pandang, melihat sesuatu hanya berdasarkan satu versi. sehingga lazim muncul ungkapan tentang negeri yang sakit, negara yang di ambang kehancuran, negara di setir asing dan aseng hingga melahirkan rasa saling curiga dan melahirkan blok politik mulai dari tingkat elit hingga masyarakat kelas bawah. Semua tertipu dalam keadaan yang tidak mungkin untuk tertipu.

Sang Penipu mampu menutup mata mereka yang ditipunya, sehingga meraka merasa tidak dalam sebuah tipuan. Bahkan sangking lihainya, mereka yang tertipu tidak sedikitpun mengaitkan segala kesulitan yang dialami dengan sang penipu. Bahkan sebaliknya semua kesulitan akibat tipuan itu dialirkan dengan mendefenisikan sosok baru yang sesungguhnya tidak ada kena-mengena dengan tipu-menipu itu, semua takicuah di nan tarang.

Puncaknya, 17 April semua rakyat Indonesia menggunakan hak pilihnya. Melalui hasil hitung cepat atau quick count yang dilakukan berbagai lembaga survei di Indonesia, memprediksikan paslon capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin akan memenangkan Pilpres 2019.

Namun, Prabowo tak mau mengangkat bendera putih begitu saja. Ia mengklaim menang dalam Pilpres tahun ini, tentunya berdasarkan bisikan Setan Gundul kata Andi Arif dan berdasarkan survei internal kata Badan Pemenangan Nasional (BPN).

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga pun menuding kecurangan Pilpres 2019 dilakukan secara massif, terstruktur dan sistematis dan mengajukan gugatan ke MK. Pada saat yang bersamaan, GNPF-Ulama perlu melahirkan kembali Ijtima Ulama 3 untuk mengontrol segala kecurangan dalam rangka memobilisasi perlawanan aktif para pendukungnya. Walaupun akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) menolak seluruh gugatan sengketa pilpres Prabowo-Sandiaga Uno, dan tetap memenangkan pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin.

Belum kering keringat Prabowo-Sandi bertarung, belum habis serak suara pendukung, Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional sudah memberikan sinyal tegas untuk meninggalkan koalisi (Kesepakatan). “pemilu sudah selesai dengan KPU memenangkan Joko Widodo – Maruf Amin, keberadaan partai di koalisi Adil Makmur yang mengusung calon presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya sampai pemilihan presiden. Secara de facto, pemilihan presiden selesai 17 April, demikian syair yang dinyanyikan para pecundang. Syair Partai koalisi tersebut tentu tidak kosong, harapannya satu atau dua mentri bisa di tawarkan ke mereka.

Di saat yang bersamaan, pertemuan Tim 11 dari alumni 212 di kenal masyarakat sebagai penggagas Ijtima Ulama pendukung panatik Prabowo, secara diam diam menjumpai Presiden Jokowi di Istana Bogor dalam rangka rekonsiliasi bersyarat, yaitu meminta pembebasan para elit dan tokoh yang tertimpa kasus kriminal agar di bebaskan, dengan hadiah akan menerima hasil keputusan MK yang memenangkan petahana. Isu rekonsiliasi yang awalnya bermakna islah demi persatuan dan kesatuan bangsa, berubah secara drastis menjadi ajang dagang sapi, tawar menawar jabatan hingga permintaaan pelepasan tersangka kriminal.

Koordinator lapangan aksi kawal sidang putusan Mahkamah Konstitusi (MK), Abdullah Hehamahua beserta barisan emak emak panatik, sudah mewanti wanti Prabowo, BPN dan elit tokoh kelompok 212 , “kalau rekonsiliasi Prabowo-Sandi mengakui kemenangan Jokowi sehingga kemudian mendapatkan beberapa kursi, itu namanya pelacur,” demikian puisi beliau menjawab syair para elit 02.

Kelopak mata semakin terkulai mendengar akhir dari tembang lawas minang tersebut, sayup sayup di akhir lagu terdengar bait yang pilu “Hilang di nan kalam alah biaso”, lamunan menerawang ke sukma para pendukung fanatik yang di dominasi para emak emak radikal, seakan mereka berkata “ Mereka sudah berjanji setia dengan kita untuk tetap setia dalam perjuangan, tapi mereka malah pindah ke lain hati, bahkan ke lain ke lain bodi, sakitnya tu disini…jendral.

Oleh : Muhammad Ikhyar Velayati Harahap

Penulis adalah Mantan Ketua PKNU Sumatera Utara 2008-2014 dan Kord Forum Aktifis 98 Sumut.