Laksamana Malahayati Tersakiti
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Benar politik seharusnya dijauhkan dari perasaan. Saya sangat memahami ini. Namun bagi pendukung militansi mak-mak, tentu arahan ini gak akan diterima.

Ingatlah ini, apa yang dilakukan mak-mak:

– Mereka rela menyisihkan uang belanja, yang seharusnya untuk kebutuhan dia beli baju, hape, sepatu atau kebutuhan lainnya.

– Mereka rela berkeringat dijemur sambil bawa spanduk dan berteriak hingga suara habis mendukung pemimpin yang diidamkannya.

– Mereka rela memohon ke suaminya, untuk diizinkan bergabung dengan relawan untuk membagi-bagikan APK ke beberapa tempat dengan dana sendiri tanpa berharap dipuji apalagi digaji.

– Mereka harus berbagi perhatiannya kepada anak-anaknya, dengan menyisihkan waktu didalam sholat untuk berdo’a dan bermunajat kepada Sang Pencipta agar pemimpin harapannya mendapatkan kesempatan memimpin negeri ini.

– Ketika kezaliman dan ketidakadilan dirasakan, mereka hanya berucap “Ya Allah segerakanlah selesai kezaliman ini, dan lindunginlah kami dari fitnah yang keji”. Mereka tidaklah mampu berbuat dengan tangan, karena mereka perempuan. Suara mereka, ada didalam rasa yang paling dalam.

– Mereka akan sangat marah jika pemimpin harapannya dihina dan dijelek-jelekan, sekalipun yang mengatakan suaminya sendiri.

– Mereka siap dibully oleh rekan sejawat, mau itu di kantor, pertemuan keluarga, di group alumni sekolah, dikatakan kampret.

– Mereka dengan bangga mengenakan kaos Prabowo Sandi, yang penting ada gambar pemimpin idamannya, walaupun kaos tersebut hanya kaos oblong 15 rb-an. Padahal banyak diantara mereka kalangan terpelajar, kalangan mapan dan milenial perkotaan.

Bahkan sampai minggu pagi, mereka masih bangga dikatakan militansi kampret oposisi, sekalipun mereka sadar bahwa tokoh harapannya mustahil menjadi Presiden negeri ini jika mengikuti alur demokrasi saat ini. Oposisi garis keras, itu kata mak-mak.

Namun semua rasa itu dihalau gelombang tsunami yang meluluh-lantakkan bangunan tegar berdiri oleh satu kejadian, Prabowo bertemu Jokowi, lalu Prabowo mengucapkan selamat dilanjutkan dengan “kami siap membantu”. Gelegar di siang bolong.

Dimata mak-mak, rekonsiliasi hanya bagi-bagi posisi, berkhianat dan abai atas perjuangan yang mereka berikan. Namun inilah yang terjadi, jelas ini bunuh diri politik, Prabowo dipastikan ditinggalkan pendukungnya, terlebih mak-mak militan. Ada atau tidak ada Prabowo saat ini, perjuangan mereka tetap jalan. Perasaan paling dalam kaum perempuan tersakiti oleh manuver murahan.

Ingatlah, sejarah manusia dimulai dari perempuan. Hampir di semua peradaban zaman, perempuanlah yang menjadi alasan. Dan saat ini mak-mak merasa terzalimi dengan kehancurasan rasa paling dalam. Oposan sejati negeri ini. Merekalah reinkarnasi Laksamana Malahayati.

Alhadi Muhammad