'Dia' Adalah H Dadang Darmawan
H Dadang Darmawan bersama para pendukungnya

MUDANEWS.COM – Munculnya salah seorang tokoh reformis di kancah perpolitikan, sejatinya mampu memberikan semangat akan sebuah warna yang membingkai dialektika politik itu sendiri, menjadi sebuah perpaduan aktraktif dengan mengundang simpati tanpa antipati pada sebuah kepragmatisan.

Menjadi bijak untuk lebih kritis dalam memainkan rangkaian akselerasi dengan sebuah alasan demi kemaslahatan ummat, adalah realitas tak terbantahkan buat musafir lata beriring bingkai idiologis, menerjang jalan terjal demi sebuah identitas diri.

Tanpa bermaksud menggurui siapapun kiranya, yang peduli akan hasrat berkubang di arena politik praktis, sesungguhnya menjadi kewajaran, tatkala disaat menempuh setiap jalan yang diambil, masih banyak hal yang patut dicermati atas nama kehidupan.

Maka, ketika ‘Dia’ menegaskan pilihan untuk berkutat dalam hingar bingarnya sebuah keprakmatisan yang dianggap akut, menjadikan semua itu sebagai tantangan yang dirindukannya untuk ditempuh dengan sebijak-bijaknya.

Dan ‘Dia’ pun adalah seorang manusia dhaif yang sangat membutuhkan udara segar, tanpa terkontaminasi dengan perihal yang beralaskan pencemaran, sehingga wujud zahir benar-benar memantulkan aura dari kebersihan hatinya.

Berbekal dengan nawaitu (niat), harapan memberikan kemuliaan berbingkai keluhuran, pastinya ‘Dia’ pun ingin segala hal yang terkait dinamika konflik, mampu menegaskan eksistensi tanpa melacurkan harga dirinya.

Sebab, sudah menjadi sebab akibat, ketika persaingan untuk memperebutkan kekuasaan, terselip nuansa pertengkaran hingga tipu sana sini, dengan sebuah alasan membuka lembaran sejarah berjudul keterasingan.

Namun menariknya, saat ‘Dia’ melihat bahwa dimensi ekonomi, sosial dan budaya serta politik senantiasa berjalan beriringan, sehingga politik praktis pun seakan menjadi bahagian integral dalam sendi masyarakat umum sebagai sebuah ‘nyawa bayangan’ mengelola ritme kehidupan.

Apalagi, disaat anak bangsa beraksentuasi memperebutkan harta, tahta dan kecintaan dunia, menunjukkan sebuah keniscayaan menggapai kebahagiaan.

Sehingga tidak berlebihan kiranya, jika ‘Dia’ menganggap persaingan yang terjadi dalam berpolitik, menegaskan bahwa sang insan akan berupaya meramu kemampuan dirinya untuk menang, demi pencapaian kualitas bermartabat pertahanan hidup.

Menariknya, seorang ‘Dia’ berkesimpulan, area hidup dan kehidupan insan tidaklah garis lurus. Karena masih celah bahkan ‘lintasan setengah kamar’ yang tak terkalkulasikan secara matematis, sebab disitulah segala hal yang terkait hitung menghitung terhentikan.

Sebab ‘Dia’ memahaminya dengan irisaan qalbi (hati), saat yang terkait dengan kuasa Ilahi Rabbi, takkan pernah mampu dipahami oleh sang insan. Tentu saja, karena mengacu kepada alat ukur apapun, yang dipertontonkan para hamba Allah dengan sepintas ruang dan waktu yang dimilikinya bernamakan akal, ternyata belum mampu menjangkau hari yang akhirnya terlampaui.

Belum lagi dengan alasan ‘Dia’ menyatakan ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’, tidak semerdeka tuntunan ikhtiar dan akhirnya terganjal hingga saat ini, bagaikan pungguk merindukan bulan.

Sangat patut dicermati dengan kecerdasan bernas, saat alur cerita menghantar ‘Dia’ menjadi seorang politikus, sama sekali bukanlah atas kehendak ‘Dia’. Justru dengan terjun bebasnya di gelangang perpolitikan, diharapkan bisa menjadi patron dalam kehidupan.

Dan ‘Dia adalah H Dadang Darmawan’, seorang akademisi yang tumbuh dan dibesarkan di dunia pergerakan, bergerak dengan penawaran berlabel CALON ANGGOTA DPD RI Periode 2019-2024 utusan Sumatera Utara, secara masif dan terstruktur, melakukan penetrasi kerja bersama dan kerja bergotong royong.

Legalitas Nomor 24 menjadi penanda seorang H Dadang Darmawan untuk mengambil simpatik masyarakat Sumatera Utara. Melalui kekuatan ikhitiar, menjadi sandaran H Dadang menempuh perjalanan menuju ‘Senator Senayan’ dengan tetap berada pada jalan kebenaran. Bersambung…

Penulis adalah Maulana Maududi AL Thahrullisany merupakan Ketum DPP Central Analisa Straţegis RI