Demokrasi Hocus Focus
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Hampir sewindu lamanya kata-kata hocus focus begitu akrab bagi saya. Seorang dokter ahli bayi tabung, lulusah Amerika mengenalkan kata itu kepada saya setiap diskusi kami diluar kesibukannya sebagai penanggung jawab riset institusi ternama di negeri ini pada waktu itu.

Belakangan ini kata hocus fokus kembali menjadi pemikiran yang serius bagi saya terutama ketika pesta demokrasi lima tahunan segera kita mulai dengan adanya seleksi dan kompetisi kepemimpinan nasional.

Makna Hokus Focus

Makna hocus focus adalah sesuatu yang bersifat tidak masuk akal, sulap atau tidak bisa dijangkau dengan akal pikiran dan logika.

Dalam kajian ini, mari kita lebih memfokuskan pada makna demokrasi hocus focus secara esensial. Demokrasi langsung dengan pemilihan presiden dan wakil presiden untuk pertama sekali pada 2004 telah melahirkan SBY sebagai pemimpin dan Presiden Indonesia pertama yang dipilih secara langsung, bahkan memimpin Indonesia selama dua periode.

Banyak yang tidak memperhitungkan SBY yang pada waktu itu dianggap Jenderal seperti anak-anak itu akan terpilih menjadi Presiden, dengan dukungan partai politik yang sekedar mencukupi persyaratan untuk menjadi calon dan secara ketokohsn SBY dibawah kandidat lainnya seperti Wiranto yang lebih senior di ABRI/TNI, Megawati Soekarnoputri sebagai kandidat petahana, M Amien Rais yang namanya sedang harum sebagai tokoh reformasi, sehingga kebanyakan elite politik menganggap seperti tidak masuk akal, tidak berada di logika politik dan demokrasi seolah seperti sulap saja.

Kemunculan Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi awalnya juga tidak diduga, berawal dari Walikota yang dianggap sukses memimpin Solo, maju menjadi Gubernur DKI Jakarta atas permintaan dan dukungan Prabowo, justru pada Pilpres 2014 ketika berhadapan dengan Prabowo, Jokowi memenangkan kompetisi demokrasi dan terpilih menjadi Presiden RI.

Kali ini deretan cerita tentang pasangan Capres dan Cawapres menambah sederet kekagetan publik ketika KH. Makruf Amin ditunjuk Jokowi dan partai pengusungnya sebagai Calon Wakil Presiden. Bagaimana mungkin, dan orang bertanya-tanya tentang posisi KH. Makruf Amin, MUI dan Gerakan 212. Begitu juga dengan keputusan Prabowo yang menunjuk Sandiaga Salahuddin Uno menjadi Calon Wakil Presidennya dari satu partai juga mengusik logika politik rasional yang dilihat secara linier.

Politik sebagai seni terhadap sesuatu yang kadang tidak mungkin menjadi mungkin, sesuatu yang muaranya bertemu pada suatu kepentingan sering bagi orang awam melihat politik menjadi irasional dan demokrasi menjadi seolah seperti demokrasi hocus focus.

Fokus Hocus Focus

Pada kajian demokrasi hocus focus yang lebih serius kita dapat kemukakan bahwa keyakinan mayoritas masyarakat Indonesia tetang kepemimpinan nasional sudah ditentukan oleh pulung atau wangsit.

Tinjauan sosiologis dan spritual-religius menjelaskan bahwa kemunculan putra sang fajar, bergelar ratu adil, Presiden RI pertana diyakini oleh masyarakat karena wangsit kekuasaan ada pada Soekarno, dan amanah Tuhan Yang Maha Esa dan kepercayaan masyarakat itu menjadikan figur Bung Karno menjadi tokoh karismatik dengan segenap Jimat kekuasaan yang dimiliki: retorika yang memukau dan membius dengan penguasaan multi bahasa, penampilan dan atribut busana sampai tongkat komando dan peci yang seperti Jimat penuh mantra.

Kemunculan Soeharto sebagai Presiden RI menggantikan Bung Karno juga menjadi deretan selanjutnya tentang demokrasi hocus focus. Bagi yang memahami dan mendalami tipologi kekuasaan Jawa, kemunculan Soeharto sebagai figur pemimpin adalah merupakan pulung kekuasaan yang memang turun pada Ibu Tien dan fenomena nogo sosro sabuk inten, trah Majapahit dengan cerita sabdo paloh noyo genggong menjadi kajian tersendiri dalam perpektif kekuasaan Jawa.

Figur Habibie dan Megawati Seokarnoputri sebagai Presiden RI yang menggantikan Presiden yang berhenti meskipun tidak terlalu fenomenal, masing-masing memiliki wangsit dan Jimat kekuasaan berupa kecerdasan dan penguasaan teknologi tingkat tinggi yang mendunia untuk figur Habibie dan pengaruh secara ideologis terhadap wong cilik, kelompok marhen dan proletar warisan Bung Karno untuk figur Megawati Soekarnoputri.

Sementara figur luar biasa yang disandang oleh KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang sebagian masyarakat menganggap beliau sebagai Waliyullah itu adalah fenomena demokrasi hocus focus yang amat nyata. Siapa yang mengira bahwa Gus Dur akan menjadi Presiden, masyarajat kebanyakan seolah tidak percaya bahwa Gus Dur akan jadi Presiden

Jimat Kekuasaan

Demokrasi hocus fokus dengan segala deretan fenomena yang terkadang sulit dirasionalkan itu nyatanya telah menghantar Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia dan kini Indonesia tengah berada pada paruh ke empat demokrasi langsung.

Fenomena demokrasi hocus focus terus berlansung, semua pihak merasa para kandidatnya penerima wangsit paling sah berupa amanah dari Tuhan Yang Maha Esa dan mendapat kepercayaan rakyat untuk memimpin Indonesia.

Tetapi Jimat paling ampuh yang tengah menjadi fenomena adalah Jimat berupa wangsit (baca: uang disit) atau uang duluan yang menentukan seseorang menjadi pemenang atau pecundang. Bila wangsul, atau uang menyusul maka bersiaplah untuk gugur.

Bahkan sebagian kalangan berharap melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika akan membatalkan keinginan Jokowi untuk memimpin Indonesia kembali. Tetapi paling tidak masuk akal juga, darimana biaya kampanye yang begitu besar didapatkan bila semua berada dalam tekanan dan terancam kebangkrutan.

Bila Gus Dur masih ada tentu beliau akan berkata kepada saya dan anda semua, begitu saja kok repot. Untuk rencana yang belum tertunaikan dan janji untuk keliling Indonesia bersamamu mungkin segera saya tunaikan untuk ziarah ke makam mu wahai guru bangsa dan para mantan pemimpin Indonesia.

Adakah yang hendak turut serta bersama kami berkeliling, ke gunung, perbukitan, lembah, samudera dan lautan, ke kerumunan pasar dan keramaian atau ketempat sepi dan sunyi di goa dan kuburan. Pada perjalanan itu siapa tahu bertemu Jimat kekuasaan. [ ]

Penulis adalah Wahyu Triono KS (Universitas Nasional dan Founder Leader Indonesia)