Cawapres 2019
Net/Jokowi bersama Muhaimin Iskandar

MUDANEWS.COM, Medan – Setelah Pernyataan Presiden Joko Widodo mengenai masuknya nama Cicit pendiri NU KH Bisri Syansuri, Drs Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dalam 5 besar cawapres 2019, saat meninjau lokasi venue Asian Gamesdi Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (14/7/2018).

Presiden Jok Widodo kembali menyebutkan sejumlah nama Ulama dan Tokoh Islam dalam bursa calon wakil presiden pendampingnya. Hal ini di ucapkan saat di konfirmasi wartawan pada acara bela negara Garda Pemuda Nasdem di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (16/7/2018) lalu.

Beberapa nama yang dimaksud, yakni mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Madji, dan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dan sebelumnya juga di sebut KH Ma’ruf Amin (Ketua MUI) dan KH Said Agil Siraz (Ketua NU) juga ramai dibicarakan menjadi salah satu kandidat terkuat mendampingi Jokowi.

“Alasan Jokowi untuk mendapatkan dukungan dari Ulama, Kyai dan Organisasi massa islam sebenarnya secara politik sudah tepat. Karena kondisi objektif paska Pilkada DKI membuat persepsi di kalangan umat islam bahwa pemerintahan Jokowi tidak islami,” ujar Ketua Aliansi Santri-Nasionalis (ASN) dan mantan ketua PKNU Sumut Muhammad Ikhyar Velayati Harahap di Medan, Selasa (17/7/2018).

Ikhyar mengatakan strategi Jokowi memilih Ulama dan Para Kyai sebagai cawapres serta mengungkap nama tersebut ke publik secara bergiliran tidak tepat dan tidak etis. Hal ini justru rentan terjadi perpecahan diantara sesama umat islam maupun umat islam – non islam.

“Akan lebih baik jika para ulama sepuh dan Kyai Kharismatik jangan dilibatkan langsung dalam politik elektoral atau diposisikan sebagai politisi, tetapi sebagai King Maker. Tidak bisa kita bayangkan ulama besar seperti KH Ma’ruf Amin, KH Said Agil Siraj, Tuan Guru Bajang ketika masa kampanye di hina dan di ejek oleh pendukung paslon lain di lapangan kampanye maupun dunia medsos, situasi ini rentan terjadi gesekan dan perpecahan di akar rumput,” imbuhnya.

Ikhyar menambahkan, penyebutan nama Ulama dan Kyai Kharismatik oleh Jokowi justru bisa membuat elektabilitasnya anjlok di mata umat islam.

“Jika nama Ulama atau Kyai yang disebut berbeda dengan yang dipilih, maka umat islam merasa Ulama atau Kyainya di PHP dan dijadikan daun salam. Ikut dimasak dalam kuali, tetapi dibuang pertama kali ketika masakan terhidang di meja makan,“ jelasnya. Berita Medan, MN