Menyambut Pesta Demokrasi
Net/ilustrasi

MUDANEWS.COM – Padangsidimpuan adalah daerah satu-satunya di daerah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) yang dimekarkan pada tanggal 17 Oktober tahun 2001, tepatnya 17 Tahun yang lalu. Setelah tujuh belas tahun, daerah yang awalnya memiliki lima kecamatan dan mekar satu kecamatan lagi, yaitu kecamatan Angkola Julu ini berdiri sendiri untuk menuju mensejahterakan masyarakat berdasarkan asas Otonomi Daerah. Hal ini juga sesuai dengan tujuan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Pembentukan Kota Padangsidimpuan.

Pada tahun 2001 diangkatlah Penjabat Walikota Padangsidimpuan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. Setelah itu, Walikota dan Wakil Walikota Padangsidimpuan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). setelah satu periode dilalui oleh Bapak H. Zulkarnaen Nasution, beliau kemudian maju atau mencalonkan diri dengan periode keduanya yang didampingi Wakil Walikota Bapak H. Maragunung Harahap. Pembangunan pada saat itu dimulai dari dasar oleh bapak tokoh pemekaran daerah Padangsidimpuan yang memimpin sampai dua periode. Sang tokoh pemekaran ini (H. Zulkarnaen Nasution) sangat berjasa bagi masyarakat Padangsidimpuan atau yang sering disebut Kota Salak.

Setelah Tahun 2012, Kota Salak di tinggalkan tokoh pendiri Kota Salak itu, pembangunan daerah mulai tidak signifikan lagi, mungkin karena kurangnya pengalaman pemimpin yang baru, yang menggantikan beliau, yang duduk sampai hari ini. Hal ini bisa jadi dikarena masih kurangnya “makan garam” dalam memimpin di daerah Tabagsel. Tetapi, ada juga kelebihan Kepala Daerah Padangsidimpuan pada saat ini, yaitu menjalin kedamaian di kalangan masyarakat Kota Padangsidimpuan dan membangun generasi muda yang lebih cemerlang.

Setelah isu politik Kota Salak memanas, siapakah yang akan memimpin Kota Salak lima tahun kedepan ?

Ini adalah pembahasan yang beredar di kalangan masyarakat, baik di kedai-kedai kopi yang memiliki banyak pengamat politiknya . Kota Salak sangat membutuh sosok pemimpin baru yang akan membenahi dan memajukan daerah Salak tersebut, serta mampu menyatukan perbedaan di kalangan masyarakat dan membangun kepercayaan masyarakat kepada Pemerintahan Kota salak. Hal ini dikarenakan sudah mulai kurangya kepercayaan masyarakat kepada Pemerintahan Kota Padangsidimpuan. Hal ini terjadi karena Eksklusifnya Pemerintahan Kota Padangsdimpuan, terkhususnya pelayanan birokrasi dalam melayani masyarakat, padahal secara aturannya tugas aparatur sipil negara di Indonesia ini adalah sebagai pelayanan masyarakat, sebagaimana di atur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara.

Pada tahun 2018 nanti, tepatnya bulan Juni, adalah dimana momentum untuk perubahan Kota Padangsidimpuan jauh lebih baik di banding hari-hari kemaren, ini dapat terjadi apabila pola pemikiran politik masyarakat harus di berubah. Apabila selama ini peta politik kota Salak berapa suara berapa uang, sekarang harus di hapuskan pemikiran-pemikiran itu. Masyarakat harus berpikir lebih maju. Seperti ungkapan masyarakat kota Salak mengatakan: “ulang harani dua ratus ribu sega nalima taon.”

Situasi politik semakin hari semakin memanas dengan persaingan kandidat – kandidat yang mencalonkan diri, dengan partai-partai besar yang ada, tetapi perlu kita tekankan, jangan sewaktu butuh baru turun atau terjun ke masyarakat. ini yang harus di ingat para kandidat Calon-calon Walikota dan Wakil Walikota Kota Salak. Di tahun 2017 ini dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MES) dan Indonesia dalam menjalankan Bonus Demografi, kaum muda harus mengambil peran untuk kemajuan bangsa, memajukan Kota Padangsidimpuan.

Maksud penulis, kaum muda disini bukan memilih kaum muda juga, tetapi kaum muda harus mendukung siapa yang ingin membangun dan benar-benar bersih niatnya hanya ingin membangun daerah kota Salak, membangun masyarakat Dalihan Natolu. Masyarakat Kota Padangsidimpuan jangan mau terpecah karena pemilihan kepala daerah, begitu juga para kaum muda. Ingat kata Sukarno: “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan ku goncangkan dunia ini.”

Nilai yang terkandung dalam kata-kata itu maksudnya, kaum muda adalah penentu untuk pembangunan, seperti pembangunan daerah kota Padangsidimpuan yang tidak boleh melepaskan peran dari para kaum pemuda. Kaum muda harus menyelesaikan momen Pemilihan Kepala Daerah ini dengan baik tanpa adanya perpecahan, karena kaum muda ingin kemajuan bukan ingin uang atau kepentingan pribadi.

Berdasarkan isu berkembang, kandidat-kandidat Walikota dan Wakil Walikota yang sudah muncul pada hari ini dan sangat berkompeten, mulai dari mantan aktivis mahasiswa pada masa 1998 yang dikenal sebagai sosok pejuang pendidikan, mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Tapanuli Selatan (Tapsel) yang telah berpengalaman “makan asam garam” di wilayah Tabagsel dan Sumatera Utara. Ada seorang sosok pengusaha sukses di bidang perdagangan, seorang pengusaha muda di Ibukota, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang sudah duduk beberapa periode, bahkan seorang guru dan karirnya sampai hari ini masih duduk sebagai Kepala Dinas di salah satu Kabupaten Tabagsel dan yang terakhir mantan Kepala Dinas di Kabupaten Induk.

Berdasarkan trek rikot para kandidat dalam bekerja dan mengabdikan dirinya di Tabagsel dan Sumatera Utara, menurut hemat saya Kota Padangsidimpuan akan semakin maju dan menjadi Kota terbaik di Wilayah Indonesia. Opini Padangsidimpuan, M. Fajar Dalimunthe

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum UISU Medan dan Menteri Luar Kampus BEM UISU.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here