Sapma PP UINSU Gelar Seminar Islam Transitif dan Pancasila
Dari kiri ke kanan : Ketua Sapma PP Kota Medan M Firman Shah, Sekjend KNPI Sumut Ikbal Hanafi SH.I, MH.I, Ketua Sapma PP Sumut M Rahmadian Shah, Dr Ansari Yamamah, MA Dosen Pasca Sarjana UINSU penulis buku Islam Transitif, Muhammad Ikhyar Velayati Harahap, SH Kord Forum Aktifis 98 Sumut dan paling kanan Moderator diskusi.

MUDANEWS.COM, Medan – Satuan Siswa, Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Sapma PP) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) menggelar seminar nasional dengan mengangkat tema “Paradima Islam Transitif Dalam Kehidupan Bermasyarakat dan berpancasila Demi mewujudkan Sumut Bermartabat bertempat di Aula Pusbinsa UINSU Lt II Jam 14.00 WIB, Senin (22/7/2019).

Sekretaris Sapma PP Komisariat UINSU Irham Yasir Tanjung mengatakan, seminar nasional ini mengundang nara Sumber yang kompoten dalam bidang keilmuan, praktisi sosial kemasyarakatan dan tokoh pemuda di Sumatera Utara.

“Acara seminar nasional yang diadakan oleh Sapma PP UINSU mengundang Nara Sumber yang kompoten yaitu Dr Ansari Yamamah, MA Dosen Pasca Sarjana UINSU penulis buku Islam Transitif, kemudian Ikbal Hanafi SH.I, MH.I (Sekjend KNPI Sumut) dan Muhammad Ikhyar Velayati Hrp, SH (Kord Forum Aktivis 98 Sumut yang juga mantan Ketua PKNU Sumatera Utara),” jelasnya.

Irham melanjutkan, peserta seminar berasal dari Mahasiswa UINSU, pengurus organisasi cipayung plus dan intra kampus yang ada di Kota Medan. Acara dihadiri dan di buka oleh Ketua Sapma PP Sumut M Rahmadian Shah dan ketua Sapma PP Medan M Firman Shah.

Ketua Satma PP Sumut M Rahmadian Shah dalam sambutannya mengatakan mengapresiasi kegiatan yang diadakan oleh Sapma PP UINSU.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan seminar yang dilakukan oleh Sapma PP UINSU, hal ini menunjukkan bahwa bahwa kader PP bisa keras tetapi juga punya intelektual dan sekaligus seorang yang relejius,“ tegasnya.

Dalam paparannya, Dr Ansari Yammamah, MA mengatakan, Islam Transitif merupakan gagasan tentang islam yang bergerak dan menggunakan tiga jenis ilmu, yaitu ilmu tafsir, ushul Fiqh dan Filsafat.

“Islam Transitif merupakan sebuah gagasan tentang Islam yang bergerak, yang disebut dengan “Gerakan Total Pro¬duksi”, yang memiliki empat karakter dasar sebagaimana tertera di dalam surah al-Qashash ayat 77, yaitu: berbasis gerak, bukan diam, sebagaimana tergambar dalam perintah Tuhan untuk menyebar dan mengeksplorasi sumber daya yang ada dalam rangka mendapatkan dan mendistribusikan kebaikan dan kemaslahatan,” ujarnya.

Ansari melanjutkan, Ada tiga jenis ilmu, yaitu ilmu tafsir, dengan nama tafsir al-Wasi’, Ilmu ushul fiqh, dengan nama ushul fiqh sosiologis, dan ilmu filsafat, dengan filsafat milenial yang ditandai dengan masuknya fase pemikiran filsafat tahap kelima, disebut dengan fase pemikiran digital sentry. Nama tafsir al-Wasi’ (tafsir perluasan makna) ini berawal dari realitas sebagian besar umat Islam (mufasir-akademisi?) yang sangat tekstual dan sangat terikat dengan ilmu kebahasaan (linguistik) ketika memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Maka harus ada perluasan makna dari akar kata bahasa, sehingga menjadikan Islam bisa sesuai ruang dan waktu.

Sapma PP UINSU Gelar Seminar Islam Transitif dan Pancasila
Flyer

Muhammad Ikhyar Velayati dalam pemaparannya sebagai pembanding mengatakan, Buku Islam Transitif merupakan Paradigma Berpikir Baru Dalam Ber Islam”. Kenapa ?, karena pemikiran Islam Transitif merupakan cara pandang penulis terhadap diri, lingkungan dan kehidupannya, penulis memahami tentang dua hal yang berbeda antara Islam sebagai ajaran dasar dan islam sebagai budaya dengan memakai seperangkat asumsi, konsep, dan nilai yang di susun atau di bangun.

“Jika kita memakai alur dialektika hegel dalam membedah pemikiran Dr Ansari yang tertuang dalam buku Islam Transitif, maka tesis beliau kenapa Islam terpuruk dan gagal dalam memimpin atau bersaing dengan peradaban Barat (Eropa) disebakan cara beragama Umat Islam yang tampak sempit, lemah dalam ilmu pengetahuan dan teknologi berakibat tertinggal dalam setiap displin ilmu pengetahuan dan berbagai aspek,” jelas Ikhyar.

“Maka anti tesis beliau adalah Umat islam harus merebut kembali ilmu pengetahuan dan teknologi, Untuk itu ijtihad harus diaktifkan dan di gairahkan kembali dalam bentuk riset, penelitian, inovasi teknologi sehingga berdampak pada total produksi dalam segala hal, ekonomi, politik, sosial budaya dan kemajuan teknologi,“ paparnya.

Ikhyar melanjutkan, Strategi pencapaiannya dengan menggunakan kolaborasi ilmu pengetahuan dan budaya dalam menganalisis, menggali sumber sumber hukum dalam Al Qur’an maupun alam terbentang yang merupakan ayat ayat al qur’an juga. Disiplin ilmu untuk menggalinya dengan memakai pendekatan ke ilmuan tafsir al wasil (yang di perluas), Ushul Fiqh yang sistematikanya mengabdi pada logika ilmu pengetahuan serta filsafat yang sistimatis alur logika berpikirnya. Jika ini sudah di lakukan dan dicapai oleh Umat Islam, maka Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin bukan hanya sekedar utopia tetapi menjadi real di dunia nyata,“ ujar Ikhyar. Berita Medan, IH