Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah terus memperkuat kompetensi guru Raudlatul Athfal (RA). Penguatan ini di antaranya melalui workshop pengembangan Alat Peraga Edukatif (APE) bagi para guru Raudhatul Athfal (RA).
Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah terus memperkuat kompetensi guru Raudlatul Athfal (RA). Penguatan ini di antaranya melalui workshop pengembangan Alat Peraga Edukatif (APE) bagi para guru Raudhatul Athfal (RA).

MUDANEWS.COM, Mataram – Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah terus memperkuat kompetensi guru Raudlatul Athfal (RA). Penguatan ini di antaranya melalui workshop pengembangan Alat Peraga Edukatif (APE) bagi para guru Raudhatul Athfal (RA).

Direktur GTK Madrasah Suyitno menyampaikan tentang pentingnya pendidikan yang berkulitas sejak dini sebagai dasar penanaman karakter siswa. Menurutnya, RA merupakan jembatan pendidikan paling dasar para siswa.

“Basic awal pendidikan diawali dari RA/PAUD, dari sinilah anak-anak dibentuk karakternya, embrio anak-anak didik berasal dari pendidikan Usia dini RA/Paud, yang merupakan jembatan pendidikan dasar,” ungkap Suyitno di Mataram, Kamis (17/8).

“Pendidikan karakter (character building) yang kini sedang gencar-gencarnya dipublikasikan oleh pemerintah,” tambahnya.

Suyitno menyampaikan, tugas guru RA sangatlah berat karena tidak hanya sekedar mentransfer ilmu saja, tetapi sebagai pendidik. Menurutnya, ada cara pendekatan secara khusus yang harus dilakukan oleh seorang guru RA/PAUD, bisa dengan pendekatan bernyanyi, dengan alat instrument, alat peraga lainnya.

“Guru-guru RA inilah yang nantinya akan membentuk prilaku dari setiap peserta didik, membetuk peserta didik tentang tata nilai dan kejujuran,”ujarnya.

Oleh karena itu, Suyitno menekankan para guru RA untuk meningkatkan kemampuan mendidik siswa karena guru RA tidak hanya transfer ilmu melainkan menanamkan nilai-nilai luhur.

“Tugas dosen hanya transfer knowladge kalau guru RA adalah educationalist atau pendidik yang dalam bahasa arab disebut murabbi. Guru RA lah yang menjadi garda depan menanamkan budaya jujur, antri, tidak mencuri dan lain sebagainya bagi siswa-siswa kita,” ungkap Suyitno.

Suyitno mengajak pejabat di lingkungan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah untuk aktif dan terbuka mendengar masukan dari guru ketika ada kegiatan di daerah. Hal ini sebagai acuan dalam mengambil kebijakan yang tepat sasaran.

“Saya mengajak mereka curhat dan saya dorong teman-teman ketika ada kegiatan, sekalian melakukan kunjungan ke beberapa lembaga pendidikan. Saya ingin mendengar secara impiris keluh kesah yang dirasakan guru di daerah,” katanya.

Kasubdit Bina GTK RA, Nanang Fatchurrohman, menyampaikan bahwa dunia anak usia dini adalah dunia bermain dengan bermain anak akan memperoleh pelajaran yang mengandung aspek perkembangan kognitif, sosial, emosi.

Menurut pria yang yang biasa disapa Nanang, bermain merupakan sarana untuk menggali pengalaman belajar. Dengan menggunakan alat permainan yang mendidik serta alat peraga, bisa merangsang karakter dan perkembangan yang dimiliki anak,” ujar Nanang.

“Oleh karena itu, dari sudut pandang pendidikan, bermain sangat membutuhkan alat peraga yang mendidik. Dan alat permainan yang mendidik inilah yang kita sebut dengan alat permainan edukatif (APE),” tutur Nanang

Salah satu narasumber, Nani Shalihati menyampaikan bahwa para guru RA harus selalu terlihat ceria, bersahabat dan menyenangkan serta didukung oleh penggunaan media pembelajaran baik media visual maupun media audio visual di hadapan para siswa.

“Suasana atau perasaan yang lagi marah, cemberut dan tidak rapi, maka akan berimbas pada suasana pembelajaran di kelas yang kurang baik”. Kata Nani

Pelatihan ini diikuti oleh 60 peserta yang berasal dari unsur perwakilan guru RA yang tergabung dalam Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) baik pusat maupun wilayah NTB. (ka)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here