net/ilustrasi

Oleh: Harmaini el-Harmawan

MUDANews.com, Medan (Sumut) – Pergulatan pemikiran merupakan ‘peristiwa klasik’ yang akan selalu ‘aktual.’ Dulu, kecenderungannya masih dalam bentuk pergumulan yang umumnya ‘terjadi dan menjadi’ dunia yang mengasyikkan bagi sedikit orang. Mereka; para penulis, para mahasiswa pascasarjana, para pemikir, para dosen, dan para pihak lainnya. Buku, jurnal, artikel, makalah, serta seminar dan perpustakaan, menjadi referensi dasar yang acapkali dijadikan hidangan lezat yang nikmat disantap —dalam menghadapi berbagai diskusi dan debat.

Dunia sudah jauh berubah. Saat tulisan ini dalam proses finalisasi, terjadi diskusi kecil dengan seorang kader PII (mahasiswa tingkat akhir asal Simalungun yang sedang kuliah di ar-Raniry Banda Aceh). Ketika ditanya, apakah sudah baca buku FILSAFAT ILMU karya Jujun Soerjasoemantri? Mahasiswa muda ini langsung searching di google, dan bertanya ulang, ‘apakah buku ini?’ sembari memperlihatkan sampul buku yang ada di gadgetnya. Terungkap, beliau ini cenderung ‘kurang simpatik’ dengan perpustakaan, sebab perpustakaan hari ini dinilai ‘sudah tidak mampu’ memenuhi kebutuhan para mahasiswa akan ragam literatur yang memang seyogyanya menjadi santapan para mahasiswa di perguruan tinggi atau para murid di sekolah. Berhubung konteksnya ‘in moment’, mengutip diskusi kecil ini menjadi penting. Apalagi —masih dalam diskusi itu— penulis justeru ditanya, terasakah perbedaan dunia penulis saat kuliah dulu (1990-an) dengan dunia mereka yang hari ini sedang fokus menuntaskan S1-nya? Pertanyaan dahsyat dan menggelitik, yang justeru semakin mempertegas perlunya tulisan ini.

Sekali lagi, dunia sudah jauh berubah. Adalah medsos (media sosial) dinilai ‘telah berhasil’ menjadi media yang membuka ruang bagi para pihak, termasuk masyarakat luas, bahkan ibu rumah tangga dan anak-anak sekalipun, untuk turut berpartisipasi dalam ragam dinamika, dialektika, retorika, serta etika terhadap ragam status, informasi, wacana, atau apapun jenisnya. Perubahan itu berasal dari medsos ini.

Terbuka ruang yang cukup besar bagi seorang anak SD atau SMP untuk terlibat dalam wacana tingkat tinggi, apalagi wacana lokal dan atau sekedar bidang mata pelajaran yang memang digelutinya. Rasa ingin tahu umumnya mudah terjawab dengan bantuan pintas mesin pencari, semisal google. Kegiatan googling makin hari makin trend dalam kehidupan masyarakat, termasuk di pedesaan. Seliweran informasi, termasuk berita bohong atau berita propaganda, memungkinkan lahirnya beragam respon dan belakangan, keinginan untuk memilah media yang lebih akurat, akan semakin menjadi kebutuhan para pihak. Pembelajaran selalu dilakoni dengan banyak ragam kesalahan terlebih dahulu, dan kemudian percepatan pergumulan dan pergulatan pemikiran, akan menjadi trend yang akan dihadapi bangsa ini. Trend yang sedang terjadi dan akan semakin melesat pada masa mendatang. Kecenderungannya, trend itu akan booming secara massif.

Coba perhatikan, ibu rumah tanggapun, saat ini sudah memahami terjadi ragam proses berbangsa, bernegara, berperadilan, berpolitik, berekonomi, apalagi jika dikaitkan dengan hobi umumnya para ibu; masak memasak, kuliner, fashion, pendidikan anak, dan lain-lain. Dan, ‘ngerumpi maya’ pun saat ini sudah menjadi trend yang tidak terhindarkan. Ngerumpi tidak lagi sekedar berkumpul di seputar rumah bersama para tetangga. Para ibu masa kini sudah banyak yang melibatkan dirinya dalam ragam grup yang mereka minati, baik grup Whatsapp, Facebook, Messanger, Line, dll.

Diakui atau tidak, medsos tidak hanya berpengaruh terhadap percepatan dalam pergulatan pemikiran, dalam hal ini membedah wacana dan fenomena. Percepatan informasi, mulai dari update status, curahan hati, share ide, anekdot, dan respon atas situasi sekitar yang menyenangkan atau menyedihkan, menjadi dasar percepatan pergulatan pemikiran, termasuk dunia selfie dan eksistensi diri.

Jika terasa pening atas realitas yang dihadapi, ketidaksesuaian antara apa yang diidealkan dengan apa yang terjadi, sesungguhnya proses pergumulan pemikiran sedang terjadi. Sebenarnya, hal ini sangat positif sebab kita adalah manusia yang memang dikaruniai akal, pikiran, dan perasaan oleh Sang Pencipta. Bukankah manusia insan yang sempurna? Kegelisahan, kegalauan, dan kekhawatiran akan terjadi dalam proses pergumulan pemikiran, apalagi ketika dihadapkan pada proses lanjutan, yakni pergulatan pemikiran. Pergulatan pemikiran terjadi hanya bagi mereka yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Semakin tinggi respon terhadap status para sahabat atau orang lain, baik dilakukan dengan sekedarnya, apalagi dengan perhatian khusus, menandakan semakin tingginya rasa kepedulian, sehingga muncul reaksi yang berpengaruh dan mempengaruhi nilai dan tingkat pergulatan pemikiran itu. Sama seperti respektasi. Semakin tinggi sebuah respektasi akan sesuatu, maka semakin tinggi pula harapan atas suksesi respektasi itu. Bukankah kekecewaan akan muncul jika sesuatu yang direspektasi ternyata —kemudian— gagal dalam proses perjalanannya.

Selanjutnya, diakui atau tidak, percepatan perwujudan wacana menjadi aksi nyata berjalan seiring dengan semakin larutnya masyarakat dalam proses hijrah diri dari dunia nyata ke dunia maya. Coba bayangkan, percepatan aksi dan reaksi itu bisa terjadi dengan sangat cepat.

Sebagai contoh, baru kemarin seseorang salah bicara, hari ini ia berada dalam proses peradilan dalam kasus A. Belum selesai proses peradilannya dalam kasus A, ia berpeluang untuk melakukan kesalahan barunya, yakni kesalahan B, dan itupun terjadi dalam persidangan kasus A yang sedang dihadapinya. Dalam proses peradilan sekalipun, sebagai efek dari pergulatan pemikiran, dengan kecanggihan teknologi, ramainya masyarakat yang berpartisipasi, boleh jadi kasus A dapat melahirkan ragam kasus baru, tidak hanya B. Semua karena pergulatan pemikiran, khususnya ketika dihadapkan pada situasi sosial, politik, ekonomi, apalagi dikaitkan dengan ideologi.

Contoh lain, baru kemarin seseorang melakukan gerakan besar dengan dukungan jutaan manusia, hari ini apa yang terjadi? Bukankah nyata bahwa ia berpeluang untuk dijadikan pesakitan baru dengan ragam tuntutan, seolah terkesan dijadikan target untuk ditangkap, diadili, dan entah untuk tujuan apa?

Semua terjadi sebagai efek domino yang cukup dahsyat dari media sosial dan pergulatan pemikiran yang sedang terjadi dan dialami langsung oleh masyarakat. Dan, pada saatnya, pemerintah pun semakin kewalahan menghadapinya. Boleh jadi, ini pertanda, bangsa ini, dan bangsa lain di dunia, sudah memasuki dunia percaturan berbasis ‘pergulatan pemikiran massif’, yang pada akhirnya akan menjadi landasan terwujudnya ‘revolusi kultural.’

Dalam perjalanannya, proses pergulatan pemikiran acapkali berpotensi bertemu dengan pergulatan lain, yakni pergulatan spiritual. Ini juga bukan merupakan pergulatan baru. Boleh jadi pergulatan pemikiran dapat berjalan berbarengan dengan dimensi spiritual. Pada saat yang sama, berpotensi berseberangan. Titik singgung menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindari. Betapa tidak, sisi emosional manusia cukup berpengaruh terhadap sisi spiritualnya. Penulis tidak berpretensi mengurai lebih detail titik singgung itu dalam tulisan ini. Namun seyogyanya, semua jenis pergelutan cenderung akan menjadi hal yang seharusnya ‘alamiah’ dan ‘normal’ di era millennium ini. Namun, derasnya perkembangan teknologi informasi berhasil menciptakan ‘keterkejutan’ dan ‘letupan-letupan dahysyat’ ide dan gagasan. Ini menjadi fase yang wajib dilalui semua anak bangsa. Terjadi banyak perubahan dan memang, fase ini harus dilalui.

Nah, dalam menyikapi derasnya pergelutan pemikiran ini, pemerintah disarankan tidak perlu gegabah, apalagi karena arahan atau perintah para the invisible hand (tangan-tangan tersembunyi) yang memang berkepentingan mempengaruhi arah dan kebijakan pembangunan di negeri ini, untuk kepentingan kekuasaan, kelompok, dan kelanggengan rezime para the invisible hand itu. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[jo]

Penulis adalah Dosen STAI UISU Pematang Siantar sekaligus Penasehat MP ICMI Muda Sumatera Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here