Surat untuk Presiden
Net/Ilusrasi

MUDANEWS.COM –

Kepada Yth : Presiden Negeri Angin Ribut, Bapak Jainudin Ngachiro.

Di tempat.

Assalamu’alaikum wr wb.

Sebelumnya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan saya mengirimkan surat ini. Semoga tidak mengganggu aktifitas dan perasaan Bapak. Saya ingin menyampaikan unek-unek yang begitu menggelayut ingin segera dikeluarkan.

Oh iya, apa kabar Bapak beserta keluarga? Semoga selalu berada dalam lindungan Allah SWT.

Pak, saya langsung ke point permasalahan saja ya?

Kami segenap rakyat Negeri Angin Ribut memohon kepada Bapak untuk berbesar hati menerima kekalahan Bapak. Kekalahan Bapak sudah tampak sangat nyata, tidak bisa lagi ditutupi oleh berbagai tipu muslihat.

Lihatlah reaksi dan sikap rakyat kepada Bapak hampir di setiap daerah. Pada saat sebelum Pilpres, mereka malah menyambut kedatangan Bapak dengan “Salam Dua Jari” sebagai simbol penolakan terhadap kepemimpinan Bapak. Pada saat Pilpres mereka membuktikannya di bilik suara sehingga menyebabkan kekalahan Bapak di berbagai daerah.

Kami sangat maklum bahwasanya Bapak ingin menggenapkan kepemimpinan Bapak hingga dua periode. Namun Bapak juga harus memaklumi bahwa kami tidak sudi lagi mempersembahkan tampuk kekuasaan itu kepada Bapak. Cukup sudah kami hidup dalam kepahit-getiran karena ulah pemimpin selama lima tahun.

Kami juga mafhum, sebenarnya bukan Bapak yang ngotot ingin mempertahankan kekuasaan. Namun orang-orang di belakang Bapak yang selama ini mengendalikan Bapak. Kebanyakan dari mereka akan berhadapan dengan hukum jika kepemimpinan Bapak kandas saat ini.

Kami juga sadar, Bapak sangat menderita selama ini menjadi bahan olok-olok kami. Dari mulai ekspresi wajah, kemampuan bicara, berpidato, wawancara hingga menyanyi menjadi bulan-bulanan rakyat Bapak sendiri.

Bapak dipaksa harus bisa mengucapkan istilah asing seperti “yunikon”. Bapak dipaksa harus menghapal istilah-istilah ekonomi. Dan Bapak dipaksa untuk bisa tampil cerdas. Berpura-pura cerdas itu berat, Pak. Dilan pun tidak akan kuat.

Sudahlah Pak, lepaskan saja beban berat Bapak. Nikmatilah kehidupan bersama keluarga. Meskipun Bapak dianggap gagal oleh rakyat, namun Bapak tetap menjadi pahlawan bagi keluarga.

Disaat hampir semua BUMN mengalami cekak, utang negara membengkak, ekonomi mangkrak. Ekonomi keluarga Bapak justru terdongkrak. Belum ada bisnis yang menghasilkan milyaran dari jualan pisang dan martabak. Walaupun rahasia batu bara mulai tersibak.

Pak, kami mohon jangan memaksakan kemenangan Bapak. Kasihanlah kepada ilmuwan Bapak, Arif Esten Boediman.

Setelah teori “kardus sekuat logam”nya menjadi bahan tertawaan dunia, kini semua telunjuk mengarah kepadanya karena salah input melulu.
Sang Ilmuwan sepertinya akan menciptakan rumus relativitas baru. Katanya jumlah suara terbanyak belum tentu jadi pemenang.

Jika Albert Eistein memilki rumus E=MC², Maka Arif Esten memiliki rumus P=MC². P=Presiden, M=Money, C=Curang. Semoga bisa menjadi terobosan baru dalam ilmu pengetahuan.

Mungkin hanya itu yang ingin saya sampaikan. Selamat menyambut bulan Ramadhan, semoga shaum Bapak bisa membuka hati Bapak untuk berbuat jujur. Semoga juga kebiasaan Bapak menjadi imam shalat tidak berubah jika sudah tidak jadi Presiden nanti. Kami tunggu video Bapak menjadi imam shalat tarawih ya ….

Wassalam

Penulis Surat adalah Nurhaidin merupakan Calon Mantan Rakyat Bapak