Dedi Iskandar Batubara
Dedi Iskandar Batubara

Laporan: Wahyu Panjaitan

MUDANews.com – Menempuh pendidikan setinggi-tingginya memang bukan hal yang mudah dan sangat melelahkan. Namun hal itu tidak berlaku buat Dedy Iskandar Batubara.

Dedy Iskandar Batubara, S.Sos., SH., M.S.P. lahir pada tanggal 17 Maret 1979 di Siligawan Gadang, Sumatera Utara. Dia merupakan Senator atau DPD RI Provinsi Sumatera Utara yang terpilih dengan perolehan suara sebesar 430.516 suara.

Menempuh pendidikan formal mulai dari Madrasah Iptidaiyah Al Washliyah Bromo 12 Jalan Bromo, gang Kurnia pada tahun 1985 dan tamat pada tahun 1991. Setelah tamat Madrasah Iptidaiyah beliau mondok di Pesantren Yayasan Modern Azidin yang berada di Jalan Panglima Denai dan tamat pada tahun 1994. Kemudian usai menamatkan Pesantren, Dedi lanjut ke Madrasah Aliyah Ex PGA Proyek Univa dan menamatkannya tahun 1997.

Setelah tamat Aliyah Ex PGA Poyek Univa pada tahun 1997, Dedi langsung melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan ilmu Administrasi Negara Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Namun karena beberapa hal Dedi tidak menamatkan kuliahnya di UISU dan memilih untuk menyelesaikannya di Universitas Medan Area (UMA) pada tahun 2006. Pada tahun 2002 (masih kuliah di UISU) Dedi juga menempuh Pendidikan di Universitas Al Wahliyah Fakultas Hukum dan tamat juga pada tahun 2006.

Bagi Dedi Iskandar Batubara tidak ada kata lelah dan menyerah untuk terus belajar menuntut ilmu, itu dibuktikannya dengan melanjutkan studi S2 nya pada tahun 2010 di Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Studi Pembangunan dan tamat pada tahun 2012. Jarak 2 tahun setelah Dedi menyelesaikan studi S2, yaitu pada tahun 2014 Dedi melanjutkan S3 di kampus yang sama yaitu FISIP USU Jurusan Studi Pembangunan dan sampai sekarang ini.

“Majunya sebuah bangsa itu diukur dengan angka pendidikan, kalau angka pendidikan sebuah negara itu rendah maka negara itu masuk dalam kategori negara yang belum maju,”kata Dedi.

“Buat diri secara pribadi pendidikan adalah sebagai pondasi untuk meraih tahapan-tahapan cita-cita yang ingin kita capai, Saya fikir tidak ada orang yang sukses tanpa melalui proses pendidikan, sebagian orang yang berhasil dalam kariernya itu dimulai dari proses pendidikan dan pasti mengeluarkan keringat darah dalam proses pendidikannya,”lanjutnya.

Menurut beliu pendidikan itu modal paling utama dalam rangka membangun kehidupan pribadi dan termasuk juga membangun pondasi kehidupan berkeluarga.\

“Berkeluarga juga perlu pendidikan, pendidikan formal itu setidaknya akan ikut menyusun batu bata pendidikan itu dan batu-bata kehidupan itu. Jadi, orang yang berpendidikan tentu akan memiliki paradigma yang lebih baik dalam mengelola rumah tangganya sebagai sebuah negara kecil dirumahnya,”.

“Saya fikir pendidikan itu tidak semata-mata hanya ceremonial, menyelesaikan jenjang dan hanya ingin mendapatkan ijazah saja, tapi itu modal dalam membangun dirinya, membangun keluarganya, membangun rumah tangganya dan bahkan dapat membangun bangsa dan negaranya,”tegasnya.

Dengan pemkiran-pemikiran yang demikian maju tak heran ia dipercaya rakyat Sumatera Utara untuk menjadi satu dari empat wakil daerah ini. Dedi kelihatannya maklum dengan ekspektasi masyarakat Sumatera Utara yang sangat berharap perbaikan, baik dari segi ekonomi maupun infrastruktur. Karenanya ia berusaha bergerak cepat, datang ketengah masyarakat, seperti kunjungan ke Kantor MUI Sumatera Utara yang dilakukan Dedi pada 16 Januari 2017 lalu, beliau meminta nasihat dan juga bimbingan kepada ulama terkait kondisi masalah keummatan dan kebangsaan saat ini. Memetakan masalah, mendengar keluh kesah dan mencari solusi yang tepat atas permasalahan yang ia dapat. Dedi sadar betul banyak hal yang harus dilakukan dalam membangun daerah dan bangsa hingga terwujudnya Indonesia yang sejahtera, makmur dan berkeadilan.

Pemikiran-pemikiran yang luar biasa maju tersebut tidak ia dapatkan secara instan. Hampir seluruh usianya ia habiskan untuk berpendidikan dan memberikan pendidikan kepada generasi muda penerus bangsa.

Selain disibukkan dengan menempuh pendidikan di Perguruan tinggi Dedi juga tidak mengenyampingkan kehidupan bersosial. Pada masa mahasiswa nya dulu hingga saat ini Dedi dikenal sebagai pribadi yang aktif mengikuti berbagai organisasi.

Mulai dari awal kuliah hingga saat sekarang ini banyak tempat belajar yang sudah Dedi lalui. Dedi Iskandar Batubara sempat diamanahkan sebagai Koordinator Nasional Persatuan Nasional Mahasiswa Administrasi Negara Se-Indonesia (PENASMA), pada saat amanah itu diemban oleh dedi, banyak pertemuan-pertemuan nasional yang dedi ikuti karena saat itu masih awal mulai reformasi. Pria yang aktif di Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) ini juga pernah diamanahkan sebagai Ketua Umum Ikatan Pelajar Al Washliyah Wilayah Sumatera Utara pada tahun 1997 sampai tahun 2006.

“Dunia organisasi tidak bisa saya pisahkan dari hidup saya, organisasi itu jugalah yang kemudian membentuk cara pandang saya soal dunia gerakan mahasiswa,”kata Dedi.

Menurut Dedi keseimbangan antara organisasi dan akademik harus tetap dijaga, karena dua hal itu tidak boleh terpisahkan dan harus berjalan bersamaan.

“Akademik dan organisasi tidak boleh dipisahkan, namun harus dapat diseimbangkan. Akademik itu tidak boleh ditinggalkan dan Organisasi itu juga tidak boleh dilepaskan, Antara organisasi dan juga Akademik keduanya itu harus selesai,”pesannya.

Dedi melanjutkan “Mahasiswa paripurna itu adalah mahasiswa yang selesai studynya dan selesai organisasinya, jadi teorinya ia dapat dibangku kuliah dan implementasintya ia dapatkan di Organisasi baik itu organisasi internal kampus maupun organisasi External kampus.

Menurut Dedi organisasi Itu adalah arena yang sangat baik untuk untuk membangun jati dirinya dan mengembangkan kreatifitas diri karena di organisasi terdapat ruang diskusi pematangan diri.

Tidak selesai sampai disitu, saat ini ia juga banyak mengikuti wadah untuk proses belajar. Senator DPD RI asal Sumatera Utara ini sekarang menjabat sebagai Ketua Wadah Remaja Islam Pengajian Akbar (WARISPA) Medan dan juga sebagai Pengurus Wilayah Persaudaraan Muslimin Indonesia (PW PARMUSI) umatera Utara dan masih banyak lagi.

Sebagai aktivis organisasi yang dibesarkan dalam dinamika kehidupan kelompok, Dedi selalu berusaha mengedepankan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Ayah tiga putri ini juga terkenal dengan gaya bicara yang ramah dan juga santun. Tumbuh dan besar dikalangan santri, moral Dedi terbentuk. Pembawaannya yang bersahabat, dalam beberapa kesempatan, ia selalu menebar senyum dan begitu ramah dengan orang yang berbicara dengannya. Ia ingin merangkul semaua kalangan.

Mayarakat yang multi etnis di Sumatera Utara, menurutnya adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri. Bukan dijadikan sebagai alat untuk memecah belah persatuan dan kesatuan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.[am]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here