RS USU Operasi Cochlear Implan
Foto : Pasien (yang digendong) RS USU sukses operasi Cochlear Implant.

MUDANEWS.COM, Medan – Setelah pada 23 April 2017 dilaksanakan operasi pertama cochlear implan di Rumah Sakit Sumatera Utara (RS USU) yang berhasil dengan sukses terhadap pasien Nada Shaqila Ramadani (3), kali ini dilanjutkan dengan switch on atau proses mengaktifkan alat cochlear implan yang merupakan salah satu tahapan penting setelah dilakukan operasi pemasangan cochlear implan.

Pelaksanaan switch on dilaksanakan, Senin (15/5/2017) oleh tim dokter dari RS Universitas Sumatera Utara dan dibantu tim dari Kasoem Hearing and Speech Centre dan juga Cochlear Ltd.

Dr. Adlin Adnan Sp.THT-KL (K) yang juga Kepala Devisi Neuro Otologi THT pada FK USU yang menjadi salah seorang tim dokter mengatakan, proses switch on dilakukan biasanya setelah 2 sampai 3 minggu setelah operasi, dan biasanya setelah luka bekas operasi kering.

“Switch on sendiri adalah istilah untuk menyalakan alat yang telah dipasang untuk membuka akses suara melalui elektoda yang ada pada implan yang ditanam tersebut,” urainya.

Koklea sendiri adalah merupakan organ pendengaran yang berfungsi mengirim pesan ke syaraf pendengaran dan otak. Suara ditangkap daun telinga kemudian dikirim ke tulang pendengaran dan bergerak menuju koklea. Operasi koklea atau rumah siput merupakan tindakan menanam elektroda untuk organ pendengaran yang berisi saraf-saraf pendengaran yang terletak di telinga dalam. Elektroda inilah yang yang menggantikan fungsi koklea sebagai organ pendengaran. Operasi ini diperuntukkan bagi penderita tunarungu yang tidak tertolong dengan pemakaian alat bantu dengar biasa. Dengan demikian, Implan koklea dapat memperbaiki telinga bagian dalam secara maksimal sehingga memungkinkan pasien mampu mendengar dengan baik.

Prof. Dr. dr. Delfitri Munir, Sp.THT.KL(K), selaku ketua tim menambahkan, reaksi anak biasanya berbeda saat switch on. Ada yang menangis atau melihat kanan dan kiri.

“Ini adalah respon alami saat mampu mendengar berbagai macam suara di sekitar anak tersebut,”katanya.

Babak baru menuju akses mendengar baru saja dimulai setelah switch on, semua ini harus terus dilanjutkan dengan proses mapping dan habilitasi. Mapping adalah proses penyesuaian suara yang diterima oleh pengguna cochlear implan. Proses ini dilakukan oleh clinician yang sudah terlatih untuk melakukan mapping. Karena setiap pengguna cochlear implan memiliki settingan berbeda beda. Kegiatan ini akan dilakukan secara berkala dan juga untuk menyesuaikan fungsi alat yang harus sejalan dengan perkembangan bicara dan mendengar.

Setelah mapping, biasanya dilanjutkan dengan proses habilitasi, yang juga menjadi salah satu bagian penting untuk pengguna cochlear implant. Karena mereka akan melakukan pelatihan dengan AVT ( Auditori Verbal Therapy ) dengan terapis AVT yang telah berpengalaman. Ini adalah proses yang membutuhkan kerjasama yang kuat antara orang orang sekitar pengguna implan seperti orang tua, dan keluarga, yang menentukan keberhasilan pengguna implan untuk dapat mendengar secara maksimal.

Country Manager Cochlear Manager Alvin mengatakan, suatu kebanggaan bagi pihaknya dan tentu saja Kasoem Hearing Cochlear Indonesia sebagai bagian dari Cochlear Ltd yang merupakan perusahaan implan pertama dan terbesar di dunia.

“Melalui kolaborasi dengan RS USU ini menjadi momentum yang baik untuk masyarakat di Indonesia dan khususnya di wilayah Sumatera, untuk dapat memperoleh solusi pendengaran dan mendapatkan pelayanan terbaik dalam penanganan gangguan dengar yang dilakukan oleh tenaga profesional dan terstandarisasi serta ditunjang dengan peralatan diagnostik yang lengkap,” katanya.

Direktur RS USU dr. Azwan Hakmi Lubis, Sp.A MKes yang ditemui di ruang poli spesialis THT RS USU didampingi dr. Sake Juli Martina, Sp.FK, sebagai Direktur Diklat, Penelitian dan Kerjasama; Dr. dr. Nazaruddin Umar, Sp.An, KNA, sebagai Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan mengatakan, hal ini adalah momentum terbaik bagi RS USU setelah sebelumnya melakukan operasi Cochlear Implant pertama beberapa waktu lalu, yang dilanjutkan dengan proses switch on.

‘’Harapan baru untuk masyarakat Sumatera Utara khususnya Medan untuk mendapatkan pelayanan yang lengkap dan profesional,’’ harapnya.

Kedua orangtua Nada Shaqila Ramadani, Rahmat Hidayat dan Yonata Ulfa mengaku terharu dengan operasi anaknya dan dilanjutkan dengan switch on, sehingga diharapkannya anaknya dapat mendengar sebagaimana anak normal. Yonata mengatakan, anaknya diketahui mengalami gangguan fungsi pendengaran pada usia 6 bulan. Dan pada usia 15 bulan putri pertama mereka itu sudah memakai alat bantu pendengaran. Diharapkan dengan switch on atau proses mengaktifkan alat cochlear implant, putrid mereka dapat segera beraktifitas layaknya anak normal.

Cochlear Indonesia merupakan bagian dari Cochlear Ltd yang merupakan perusahaan implan pertama dan terbesar di dunia, didukung tenaga ahli dari institusi-institusi terbesar Australia dan merupakan salah satu negara dengan sistem pendidikan audiologi terbaik di dunia. Cochlear berdedikasi menghadirkan keajaiban suara, untuk memberikan solusi pendengaran bagi semua orang di seluruh dunia. Dengan dedikasi dan inovasi selama lebih dari 30 tahun sebagai solusi pendengaran, Cochlear telah menghubungkan kembali lebih dari 400.000 recipient di dunia, dengan keluarga, teman, dan komunitas mereka, di lebih dari 100 negara.

Di Indonesia, Cochlear telah hadir selama lebih dari 15 tahun, dan telah banyak membantu pasien gangguan pendengaran di seluruh Indonesia. Cochlear Indonesia bekerja sama dengan Kasoem Hearing and Speech Centre untuk menyediakan solusi pendengaran dengan teknologi implan koklea terkini bagi seluruh masyarakat Indonesia. Melalui kerjasama ini, diharapkan menjadi tonggak penting bagi kedua perusahaan dan dapat secara optimal membantu mengatasi permasalahan gangguan pendengaran di Indonesia. Berita Medan, Wahyu Panjaitan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here