Ketika Cinta Berat di Hajat
Net/ilustrasi

MUDANEWS.COM – Cinta saja tak cukup untuk mengikat seseorang supaya tetap ada di dalam hidupmu, kau harus berusaha untuk menghalalkan dengan cara menikahinya. Ya, pernikahan ialah wujud dari sebuah perasaan cinta. Baik cinta yang memang ada tanpa perlu dipaksa, atau cinta yang dipaksa ada setelah bersama. Pernikahan karena perjodohan, misalnya.

Di zaman sekarang, sah saja tidak cukup untuk mewujudkan perasaan pada awal perjalanan rumah tangga, ada yang dinamakan hajat (Bahasa Sunda) atau hajatan (KBBI). Hajat, kadang menjadi batu sandungan untuk bisa melewati fase pendekatan ke arah pernikahan. Karena apa? Ya, biaya untuk hajatan yang tak lagi murah, jika sang mempelai wanita meminta untuk membuat pesta meriah dan “WAH!” banyak yang akhirnya gagal dengan menyisakan kepedihan karena tidak sanggup oleh adanya tuntutan pesta.

Alasan untuk mengadakan pesta meriah biasanya untuk menunjukan siapa dirinya, atau bisa jadi siapa keluarganya. Gaya hidup menjadi tuntutan acara pesta pernikahan. Yang pasti tetap sah meski dengan mengadakal ijab qobul di kantor KUA dengan syukuran seadanya.

Tapi, jika hanya di KUA saja dengan dihadiri keluarga dan sedikit tetangga. Belum dikatan sudah menikah, sepertinya pikiran kebanyakan orang di zaman sekarang seperti itu. Menghamburkan modal besar hanya untuk pesta sehari. Dengan dangdut, dan dekorasi pelaminan ala kerajaan.

Jika dipikir kembali, apa gunanya sebuah pesta meriah? Terkadang jiwa kemisqinanku bergejolak ketika menyaksikan pesta meriah dengan musik dangdut yang menggema ke penjuru desa. Setelah semua selsai, senyap. Dan hutang, menjadi beban lain yang harus segera dilunasi. Apa karena gengsi? Hingga kadang harus mencari pinjaman ke sana ke mari dan tertawa.

Padahal bisa saya lihat dan perhatikan yang pesta meriah, dengan yang menikah tanpa pesta meriah tetap sama saja, tak ada perbedaan dalam menjalani kehidupan.

“Itu kan hak masing-masing pasangan, uang-uang saya, yang nikah saya. Ngapain Anda yang repot.” Iya iya ampun, maksud saya menulis ini hanya untuk merenungkan kembali tujuan dan manfaat yang bisa diambil dari semua itu apa. Gitu aja.

Lagian saya juga belum menikah, dan bukan orang yang ingin melaksanakan pesta meriah, uangnya mending dipake buat bikin rumah, atau modal usaha. Pesta nikahnya sederhana saja, kalo bisa cukup dengan modal satu juta. Hehe

Tapi, tiap kali kenal dengan perempuan, dan bahas ini. Kebanyakan engga pernah ada yang mau nerima hajatan dengan modal pas-pasan. “Malu atuh sama temen-temen, masa hajatan cukup pasang tenda biru saja.” ujarnya. “Ya sudah, nikahnya sama yang lain saja.” ucapku sambil pergi meninggalkannya seorang diri, “drama” 2019.

Penulis adalah Dede Humaedi