Kilasan Kecil Sebuah Kehidupan
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Pagi, ialah awal mula manusia terbangun dari mimpi. Meskipun ada yang terpaksa baru memulai tidur karena pekerjaan atau hal lain yang dilakukan malam hari. Setiap orang sibuk ke sana-ke mari mencari apa yang mereka cari, ada yang sibuk santai padahal pikiran tak pernah berhenti bekerja memilah suka dan duka. Kata-kata bertumpuk di sana, dari mulai apa yang akan dilakukan esok hari, sampai apa yang disesali pada hari sebelum ini.

Terkadang bahagia, terkadang menderita. Terkadang tersenyum namun dilain waktu, ia terpaksa menangis. Pergantian keadaan itu menjadi siklus yang saling berganti posisi.

Hari ini, ia rajin sekali beribadah di lain waktu ia pun punya celah untuk berbuat salah dan banyak orang menyangka pasti masuk neraka. Pagi tadi ia menyaksikan orang harus dibui karena kasus yang terjadi. Sore hari, ia sendiri yang terpaksa berada di posisi tersebut, dijemput paksa dengan todongan senjata.

Manusia terus berjalan di atas bumi sebelum nanti, seorang tukang menggali untuk menguburkan apa yang pernah disebut sebagai diri ini. Pentas pertunjukan di muka bumi masih saja berlanjut. Ada yang sibuk menindas dengan peperangan, ada pula yang mengalami nasib menderita kelaparan. Pemimpin-pemimpinnya mengadakan pesta meriah dan mewah, tak peduli berapa banyak darah dan air mata tumpah.

Entah di belahan bumi mana, atau bahkan tetangga, hari ini ada yang pergi dari dunia ini. Esok lusa, giliran kita yang berada di posisi mereka. Namun, sering kali kita lupa. Seolah kita akan abadi berada di dunia ini. Termasuk saya. Ada yang dilahirkan, ada yang dikuburkan. Hidup memang semacam antrian menunggu giliran.

Hari ini, balita masih belajar bicara. Kemudian menjadi pikun karena usia yang sudah tua. Di setiap hari banyak hal berubah, banyak hal berganti. Ada yang tertawa terbahak-bahak di depan layar hp dengan menu makanan lengkap di atas meja, ada pula yang menangis sendirian di kolong jembatan dan sangat kelaparan.

Menyaksikan televisi, yang korupsi sedang dadah-dadah di depan kamera. Di tempat lain, seorang pencuri tv dibakar hidup-hidup tanpa ampun oleh orang-orang yang mengaku berada di posisi paling benar.

Garuk-garuk kaki, mandi, gosok gigi sebelum pergi. Kemana akan tiba? Ujung dari semua hiruk-pikuk ini.

Yang lajang mulai memilah dan memilih untuk nikah. Kemudian punya anak, jadi ibu dan bapak, kakek dan nenek, meninggal. Ada yang berpisah sebelum menikah. Dan yang menikah sebelum akhirnya berpisah.

Emaks-emaks bekumpul di sebuah warung menggosipkan tetangganya yang kaya mendadak. Di sisi lain bapak-bapak ngasih makan ternak, ada yang memandikan burung dengan hanya memakai sarung.

Angin tetap behembus, hujan dan kemarau menjadi pergantian musim. Tanggal-tanggal berpindah, bulan ke bulan berganti. Jam di dinding terus berputar sebelum akhirnya terhenti karena habis baterai.

Anak-anak kecil bergembira bermain, sesekali menangis, sesekali meminta jajan dan tahu jika orang tuanya tak punya apapun untuk diberikan. Orang dewasa sibuk berkutat dengan skripsi. Ada yang putus asa, ada yang tetap tabah berusaha.

Ada yang bunuh diri, ada yang akhirnya bertaubat untuk bisa memperbaiki apa yang akan dilalui. Jalan panjang masih harus dilewati? Iyakah masih panjang, atau jangan-jangan hanya beberpa hari lagi kita berada di tempat ini, atau bahkan beberapa detik lagi, untuk kemudian berpindah ke dalam tanah.

Gelar palir bergengsi ialah Alm. Pulan bin bulan yang maninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah. Raungan singa semakin pelan, anjing galak berubah menjadi jinak. Alam murka menunjukan digdayanya. Bencana menjadi informasi yang sampai ke pelosok negeri.

Seorang ibu duduk merenung, kebingungan untuk apa yang bisa dimakan dan diberikan kepada anaknya, sedangkan suaminya telah lama pergi entah kemana. Seorang yang terlahir buta terus memapah langkahnya untuk sampai entah kemana. Yang lumpuh membuntuhkan uluran tangan orang tua dan saudara-saudaranya.

Di rumah sakit, banyak yang terkulai lemah tak berdaya, bahkan yang sebelumnya sempat gagah perkasa. Rintih kesakitan terdengar dari lorong sebuah kamar. Wajah-wajah lelah penunggu tampak dari sorotan matanya. Bergumam doa, lekas sembuh ya.

Di dunia maya, ada orang-orang sibuk saling caci-maki, ada yang promosi transaksi jual beli, jual diri. Ada yang pamer kemewahan, sampai belahan dada diumbar di berandanya. Tulisan-tulisan dengan ragam gaya bahasa berserakan di mana-mana. Dan salah satunya tulisan tak jelas ini.

Beragam wajah, beragam karakter. Beragam karya, beragam rupa dan pura-pura.

Rencana-rencana yang gagal. Janji-janji yang dibiarkan batal.

Terima kasih, sudah sempat-sempatnya membaca tulisan ini. Mungkin ada yang berkata dalam hatinya “ini tulisan, maksudnya apa ya?” kemudian menekan tombol “<” untuk kembali mencari bacaan, yang lebih menarik lagi.

2019

Penulis adalah Dede Humaedi