Beristirahatlah Dulu Pak
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Dear : Pak Presiden

Pak, sungguh suatu anugerah yang besar bagi negeri ini ketika Allah mengaruniai pemimpin seperti Bapak. Bapak orang yang baik hati, sederhana dan tidak sombong berhasil memikat hati rakyat sehingga mereka dengan suka rela menyumbangkan suaranya kepada Bapak sampai Bapak berhasil duduk kursi empuk kekuasaan ini. Bapak telah dengan sungguh-sungguh mengabdikan tenaga, pikiran dan segenap kemampuan Bapak untuk negeri ini.

Tapi apa yang terjadi Pak? Rakyat Bapak ini sungguh tidak tahu diri. Mengapa mereka dengan lantang berteriak untuk ganti presiden? Padahal Bapak kurang apa?

Bapak mencintai petani, agar petani tidak lelah terus bekerja, Bapak imporkan beras. Bapak cinta penambak garam, agar mereka tidak sering panas-panasan, Bapak imporkan garam. Bapak mencintai petani tebu, agar mereka tidak penat bekerja, Bapak imporkan gula. Bapak mencintai para buruh, agar mereka tidak lelah bekerja, Bapak imporkan tenaga kerja. Bapak ini kurang baik apa lagi? Bapak hanya ingin melihat rakyat ini senang dengan menghambiskan waktunya bersantai-santai di rumah.

Menghadapi pemilihan presiden tahun depan, Bapak terlihat sangat kelelahan. Bapak harus berkampanye sehingga tidak bisa menghadiri pertemuan-pertemuan pemimpin internasional. Bapak harus menemui massa dalam suatu acara, walaupun banyak bangku kosong tidak terisi peserta saat acara itu. Dan satu hal yang sangat menyakitkan hati ini Pak, yaitu ketika ada warga yang ingin berfoto bersama Bapak tapi mengacungkan dua jari sebagai tanda dukungan terhadap lawan Bapak. Mereka itu sungguh ngelunjak Pak! Untung saja Bapak adalah orang yang sabar dan berjiwa besar. Tidak ada seorangpun yang masuk penjara karena menghina atau berlaku tidak sopan kepada Bapak. Bahkan ada anak cukong yang mengancam membunuh Bapak, hanya dianggap lucu-lucuan saja. Betapa mulianya hati Bapak.

Melihat antusiasme rakyat Bapak yang seperti sudah kebelet ingin mengganti presiden, ada baiknya Bapak kembali mempertimbangkan untuk dua periode. Saya takut Bapak kembali menjadi bulan-bulanan rakyat yang tidak tahu diri itu selama lima tahun ke depan, Pak.

Mungkin Bapak bisa pulang ke kampung halaman menikmati ketenangan bersama anak cucu. Bapak juga bisa mengajarkan ilmu kepada anak-anak Bapak. Jika sejarah telah mencatat tukang kayu jadi presiden, maka bisa saja sejarah juga mencatat tukang martabak atau tukang pisang jadi presiden.

Usia Bapak masih sangat muda. Mungkin Bapak bisa muncul lima atau sepuluh tahun ke depan untuk kembali merebut tampuk kekuasaan. Bapak tinggal bertanya “masih enak jaman ku to?”

Dalam jangka waktu lima atau sepuluh tahun beristirahat itu, Bapak bisa kursus pidato, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Sehingga ketika nanti Bapak muncul kembali ke permukaan, rakyat akan semakin takjub kepada Bapak. Rakyat pasti akan merindukan kembali kehidupan yang gemah ripah loh jinawi dibawah kepemimpinan Bapak.

Sebagai penutup, saya berdoa semoga Bapak sekeluarga selalu berada dalam lindungan Allah SWT, sehat dan bahagia ketika sudah pulang kampung tahun depan.

Wassalam.

Penulis adalah Nurhaidin