Benih Padi IF 8, Ini Desakan BEM Unimal pada DISTAN Aceh
Muhammad Sabar

MUDANEWS.COM, Lhokseumawe – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Malikussaleh Lhokseumawe mendesak Dinas Pertanian provinsi Aceh agar segera melakukan uji laboratorium terhadap benih padi varieties IF8.

Hal tersebut sesuai dengan keterangan tertulisnya pada Sabtu (06/07/2019).

Menurut Wakil Ketua BEM Unimal mengatakan, ujian laboratorium itu guna untuk memenuhi aturan.

“Hal ini dilakukan untuk memenuhi perundang undangan yang berlaku tentang tanaman pangan,” ucap Muhammad Sabar, melalui pesan aplikasi WhatsApp, Sabtu malam (06/07) Sekira Pukul 21.24 WIB.

“Dan Dinas Pertanian jangan tumbalkan petani demi peluang bisnis gelapnya,” pungkasnya.

Ia juga menambahkan bahwa benih unggul akan meningkatkan produktivitas.

“Kami mengakui bahwa dengan hadirnya varietas unggul produktivitas tinggi dan dapat dinikmati oleh petani merupakan kegiatan mulia dalam meningkatkan kesejateraan petani,” tambah Sabar.

Namun demikian, apabila tidak mengikuti aturan yang berlaku, kegiatan mulia tersebut patut dikategorikan sebagai kegiatan kejahatan yang melanggar aturan, seperti peredaran benih padi varietas IF8 kepada masyarakat. Produksi dan peredaran benih tanaman harus mengacu kepada aturan perundangan yang berlaku.

Menurut Wakil BEM Unimal itu, ada acuan perundang-undangan yang perlu diperhatikan

“Acuan dalam produksi benih dan peredaran benih dari varietas unggul tanaman pangan yakni UU No 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, Permentan No 40 Tahun 2017 tentang Pelepasan Varietas Tanaman, serta Permentan No 12 Tahun 2018 tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Tanaman,” jelasnya.

Dan ia sekaligus merupakan kader HMI Lhokseumawe juga berharap, benih yang diproduksi AB2TI pimpinan Prof Dwi Andreas yang tidak bersertifikat dan tidak berlabel di Wilayah Aceh yang diproduksi dan diedarkan secara ilegal dan tanpa izin.
Dimana varietas padi if8 masuk ke aceh pada tahun 2017 dan diterima oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf bersama jajaran dinas pertanian sebagai perkenalan dan uji coba varietas baru, hasil panennya mencabai 11,6 ton per hektar.

Diketahui sebelumnya, beredar pemberitaan di media online, salah satunya media KOMPAS.com (28/06/2019) bahwasnya Prof Dwi Andreas mengatakan benih ini bukanlah dia yang menemukannya melainkan dari petani kecil di Karangayar tahun 2012 lalu, disini beliau hannya membantu untuk mendorong kawan-kawan petani saja. Dimana ingin di uji coba di beberapa kabupaten kota.

Pada dasar nya kita ketahui bahwa benih padi if 8 ini merupakan bibit dari luar aceh, dan hadir nya benih if 8 di aceh hannya sebagai uji coba, disini kami bem unimal menegaskan jangan jadikan ladang persawahan di aceh menjadi tempat uji coba benih baru, apa lagi benih ini berasal dari luar daerah, jelas suhu di bogor tempat produksi nya if 8 dengan di aceh itu sangan berbeda, di sini perlu adaptasi yang panjang. Jangan semerta merta bias menghasilkan panen yang tinggi pada panen yang pertama langsung disebarkan kepada masyarakat.

Perbedaan suhu itu sangat berpengaruh terhadap hadirnya penyakit ataupun virus untuk menyerang tanaman padi nantinya, tahun pertama dan kedua mungkin hasilnya maksimal, tapi tidak ada yang biasa menjamin pada produksi tahun selanjutnya akan mendapatkan hasil yang sama, disini sangan berpengaruh terhadap penyakit virus tanaman untuk menyerang jenis varieties padin lokal yang rentang virus terhadap hadirnya Janis varietas baru.

Sabar selaku aktivis perduli pertanian menekankan, jangan biarkan birahi penguasa menjadikan tanah Aceh tumbal.

“Jangan jadikan tanah subur aceh menjadi tumbal birahi penguasa untuk memuaskan nafsu penguasa dalam berbisnis. Disini kami juga mendesak pemerintah aceh dan dinas pertanian agar jangan jadikan penyebaran benih if8 ini segai ladang bisnis, jangan tumbalkan orang tua kami yang petani, jika memang benar benar ingin mensejahterakan petani bukan hannya sekedar bisnis saja maka segera lakukan riset penelitian laboratorium terhadap benih if8 untuk penerbikan sertifikasi benih,” tegas Muhammad Sabar.

“Telah terjadi pada tahun 2018 bahwa hama wereng batang coklat (WBC) menyerang tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Syamtalira Bayu, Kuta Makmur, Seunuddon, Tanah Jambo Aye, Baktiya, dan Kecamatan Langkahan, ini juga merupak factor lingkungan dan adaptasi padi lokal dan varietas padi dari luar aceh. Jangan sampai hal ini terulang kembali,” tutup Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Malikussaleh Lhokseumawe itu. Berita Lhokseumawe, Arwan