Krisis Dunia Masih Berlanjut
Moeslem Silaen

MUDANEWS.COM – Keadaan yang demikian indonesia yang sejak tahun 2002 terus mengupayakan privatisasi dan komodifikasi pendidikan yang mengarah senada dengan kepentingan industri terus di arahkan. Program Link and Match yang sudah di adopsi oleh beberapa pendidikan formal berbasis vokasi ternyata masih belum mampu memenuhi kemauan utuh dari industri. Jenis pendidikan yang berbasis vokasi masih cukup sedikit diminati oleh kaum muda di indonesia. Pendidikan itu terus di masif kan dengan menjamurnya dan terintegrasinya pendidikan dengan beberapa kawasan industri yang ramai membuat pendidikan vokasi setingkat diploma dan SMK.

Kisruh Politik Borjuasi

Situasi politik indonesia sudah hangat dan memapar massa luas sejak pertarungan jokowi-prabowo pada pemilu 2014. Namun sebelum kita melihat lebih detail kekisruhan politik nasional, kita harus melihat bahwa kedua kelompok ini adalah sama-sama perwakilan borjuasi yang akan kembali melaksanakan program-program ekonomi kapitalisme. Adapun kemauan dari kelompok politik borjuasi saat ini tidak lebih pada kepentingan mendapat akses ekonomi yang lebih luas dari pada kelompok lain, sedangkan keduanya selalu bertemu dalam altar penumbalan rakyat kepada mulut TNC/MNC sebagai pemilik sistem kapitalisme. Beberapa laporan menunjukkan diantara kedua calon di sokong oleh konglomerasi tambang, perkebunan dan industri lainnya.

Kedua kelompok saat ini sedang menggunakan populisme sebagai senjata politik dengan anasir yang bisa kita lihat keduanya tidak memiliki dasar ideologis yang mapan. Jika di negara-negara eropa dan amerika latin kubu dapat terbelah dalam sayap kiri yang memiliki kecenderungan sosial demokratik dan sosialisme yang diwakili partai massa berbasiskan buruh dan sayap kanan yang rasial dan chauvinis diwakili partai massa konservatif dengan massa klas menengah yang kuat sentimen identitas, tetapi itu tidak kelihatan secara jelas di perpolitikan indonesia. Sehingga sangat kuatlah oligarki politik di indonesia ini.

Kubu koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang menyokong Jokowi-Maaruf dan kubu koalisi Merah Putih (KMP) tidak lebih dari sekumpulan aktor politik yang menggunakan peluang apa saja. Jika secara sekilas hari ini kita melihat KIH sebagai kelompok sekuler nan progresif juga tidak mencukupi syarat sebagai kelompok sosdem, segala isu di lahap, walaupun tidak menggunakan sentimen rasial namun masih menggunakan peluang politisasi agama dan rasial, dibeberapa daerah KIH menggunakan dukungan kalangan suku-suku. Dan menggandeng beberapa kekuatan konservatif yang mapan seperti PBNU, OKP reaksioner (PP, AMPI, FBR), eks Purnawirawan Militer, Eks alumni-alumni kampus dan relawan-relawan yang memiliki jaringan dengan kalangan profesional yang hari ini berada dalam jajaran KIH.

Tidak jauh berbeda dengan KMP, selain menggandeng partai-partai bercirikan “islam” tetapi juga menggaet sisa kekuatan Orde baru (diwakili partai anak-anak suharto) yang selama ini tidak mendapat “kekhususan” seperti era orde baru, KMP juga merangkul kekuatan fundamentalis seperti HTI dan ormas reaksioner yang beridentitas islam seperti FPI dan berbagai jaringannya. Praktek yang dilakukan oleh KMP memang tidak seperti KIH yang di pemilu 2014 menggunakan kekuatan Relawan yang cukup masif sampai ketingkat terbawah, namun dengan induksi organisasi-organisasi relegius yang dipengaruhi, KMP masif masuk ke elemen-elemen bawah sejak kalah pada tahun 2014.

Pemilu yang berbeda secara teknis dengan pemilu sebelumnya, karena dilakukan secara serentak pemungutan suara Capres, DPD, dan DPR. Dinamika politik yang terbangun adalah sentimen SARA. Kedua calon sama-sama mengeksploitasi isu-isu SARA dengan seksama. Namun politik indonesia tidak memiliki ideologi yang jelas selain Liberalisme/Kapitalisme terlihat dengan posisi Pemerintah dan oposisi yang sama-sama melanggengkan kebijakan Pasar bebas, Kebijakan Structural Adjusment Program (SAP), kebijakan privatisasi, dan kebijakan kapitalis lainnya. Tidak ada oposisi yang benar-benar menguat membawa kemauan rakyat namun yang terjadi adalah mobilisasi politik identitas.

Analisa yang bisa kita lihat adalah ditengah situasi global secara ekonomi tidak menemui kepastian, politik indonesia dibawa untuk kabur melihat kondisi ekonomi global yang sarat mempengaruhi kehidupan sosial rakyat indonesia. Pertumbuhan ekonomi global yang rendah butuh pemulihan dengan dinginnya iklim investasi, keringanan dan insentif ekonomi yang banyak dan pembangunan infrastruktur yang cepat dan tepat. Potensi riak-riak politik identitas sepertinya akan terus terjadi sampai memiliki kepastian ekonomi global, krisis ekonomi yang berkepanjangan tidak dapat di selamatkan dengan menguatnya politik kerakyatan yang akan melawan secara terbuka kepentingan dari Imperialis.

Hari ini kawasan yang sedang dibangun di indonesia sedang menunggu investasi masuk menggerogoti segala sumberdaya indonesia. Jawaban atas pasar didekat kawasan pasar adalah pilihan yang dibutuhkan saat ini oleh Imperialis maka situasi politik yang masih dapat terkendali dalam batas-batas tertentu butuh dipertahankan. Akan menjadi kontraproduktif bagi imperialis jika politik rakyat menemukan ritmenya yang akan mempengaruhi iklim investasi, tidak menguntungkan ketika rakyat memobilisasi tuntutan-tuntutan reformasi yang membutuhkan dana subsidi yang tidak sedikit dan akan mengganjal eksploitasi di negara ini. Dalam posisi inilah kita melihat bahwa situasi saat ini akan terus dipertahankan, agar rakyat hidup dalam siklus politik yang terbelakang sehingga tidak akan dapat melihat bahwa situasi saat ini sudah semakin terdesak bagi mereka. Bagi imperialis, biarlah rakyat terus hidup dalam ilusi identitas yang akan terus dijaga sampai pada batas tidak bertentangan pada kepentingan global yang sedang mengalami sakit parah ini.

Kepeloporan gerakan rakyat sebagai Jawaban

Situasi saat ini memang menunjukan ketidakmungkinan kebangkitan gerakan rakyat, tetapi tak perlu kecut dan rendah diri. Hilangnya momentum gerakan rakyat adalah evaluasi dalam diri gerakan rakyat itu sendiri yang tidak kunjung dapat mengorganisir kekuatan rakyat dalam satu gerbong yang kuat dan solid dalam mendobrak kebobrokan Kemunduran gerakan buruh. Elemen organisasi rakyat sangatlah banyak namun seakan kehabisan energi terus berjalan dalam ritme yang tegas menolak politik yang disetir oleh imperialis.

Praktik politik gerakan rakyat hari ini terbelah dalam beberapa persimpangan yang dapat di kelasifikasikan pada :

1. Kelompok yang membelejeti kebusukan elit politik borjuasi memilih absolutisme stratak politik ekstraparlemen.
2. Kelompok Go politik (seperti KSPI).
3. Kelompok yang secara taktik politik membangun alat politik alternative (Beberapa kelompok yang menginisiasi yaitu KPR dan KPRI)
4. Kelompok investasi politik, yang mewakili kelompok ini adalah partai hijau (seperti kelompok NGO lingkungan)
5. Kelompok yang memiliki niatan untuk membangun pemilu tandingan untuk mempengaruhi pemilu 2019 dengan membangun pemilu dari tingkatan daerah sampai nasional.

Semuanya memang dapat bertemu ketika mengusung isu normatif yang ada, akan tetapi tidak dapat sejalan dalam ruang yang lebih strategis dalam membangun politik alternatif, yaitu membangun tradisi politik tandingan, Organisasi politik tandingan, Pemilu tandingan dan tujuan politik tandingan yang tentu dan sistem ekonomi tandingan yaitu Sosialisme.

Begitupun di gerakan rakyat lain seperti Bem SI. Mereka cukup konsisten dalam mengevaluasi program jokowi. Di 2018 bem si sebagai aksi puncaknya mulai mempertegas posisinya yang mana diindikasikan dari kelompok-kelompok kami yang mewakili kepentingan PKS. Kedua ada Kelompok cipayung++, kelompok reformis yang cenderung bermain aman. Baru-baru ini mereka mengklain bahwa permen soal UKMPIB dengan catatan dalam satu payung deradikalisasi gerakan kiri dan fundamentalis sayap kanan. Ketiga dikelompok Demokratik, kelompok yang masih sedikit dan kebanyakan sebagai kelompok diskusi/komunitas. Sedangkan gerakan tani hampir secara keseluruhan dikendalikan oleh gerakan NGO yang menumpulkan kesadaran politik rakyat. Dan digerakan KMK/Pemuda hari ini kebanyakan di organisir oleh kelompok reaksioner, dan masih sedikit yang terjaring dalam organisasi rakyat yang bervisi politik kerakyatan. Dan jika dilihat dari sudut pandang gerakan buruh yang hari ini masuk mendukung KIH/KMP, beberapa kelompok buruh masih tidak memiliki kepercayaan diri dalam menentukan nasibnya sendiri dengan membangun alat politik alternatifnya. Beberapa berargumentasi tentang sulit dan beratnya menembus kebijakan pemilu saat ini yang menahan partisipasi politik rakyat.

Kenyataan yang memang harus diterima adalah belum cukup kuatnya kemunculannya sebuah gagasan dan organisasi alternatif dalam Usaha-usaha jangka pendek membangun gagasan alternative dengan merangkul dan mengajak perlawanan atas apa saja yang dirasakan rakyat, terutama keadaan abu-abu dari analisa politik praktis hari ini yang dianggap tidak memiliki tandingan selain kubu jokowi dan probowo. Mereka adalah pelanjut trah oligarki politik sebelumnya, tradisi mereka tidak berubah, tradisi melibatkan massa dalam politik masih dalam kerangka memenuhi kehendak bisnis dan kemauan modal internasional. Upaya pemblejetan yang radikal dan ilmiah menjadi peluru yang akan dilesatkan sehingga menyesakkan kepentingan penguasa hari ini.

Penulis adalah Moeslem Silaen