Kebangkitan Ekonomi
Harmaini El-Harmawan (dua kanan) bersama KH Solahuddin Wahid (Gus Solah) di Pondok Pesantren Tebung Ireng, Jombang

MUDANEWS.COM, Jombang – Tema Silaturrahim Nasional “Kebangkitan Ekonomi Keumatan Berbasis Pesantren Sebagai Ikhtiar Mewujudkan Indonesia Berdikari” ini lahir dari diskusi panjang di kalangan penggiat Gerakan Daulat Desa (GDD), Pimpinan Pusat Jaringan Masyarakat Muslim Membangun (JM3), dan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Santri Indonesia (FOKSI) di Jakarta, yang kemudian bekerja sama secara khusus dengan Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur.

Betapa tidak, kebangkitan ekonomi keummatan, semakin hari dirasakan menjadi magnit penting dari arah perekonomian bangsa Indonesia masa depan, di tengah semakin merebaknya polarisasi ekonomi sekular-kapitalis dan ekonomi sosialis-komunis yang cenderung semakin mengkhawatirkan.

Fakta sejarah memperlihatkan bahwa ekonomi sekular-kapitalis dan sosialis-komunis sangat tidak cocok dengan tujuan Indonesia merdeka, khususnya semangat sila ke- 5 Pancasila; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ketidakcocokan yang menyebabkan, selama ini, dalam dinamika perpolitikan di Indonesia, ekonomi keummatan cenderung terombang ambing sekedar menjadi barang dagangan politik belaka.

Jika ditelisik ke belakang, tidak dapat dipungkiri, bahwa dalam era awal pergerakan kebangsaan di Indonesia, bahkan jauh hari sebelum kemerdekaan, berdirinya Syarikat Dagang Islam pada tahun 1905, diketahui menjadi fondasi berdirinya Gerakan Politik Syarikat Islam. Dari semangat membangun perekonomian ummat melalui Syarikat Dagang Islam inilah, para pendiri Nahdhatul Ulama (NU) yang pada akhirnya lahir tahun 1926, mendirikan Syarikatul Innan Nahdhatul Hujjan jauh hari sebelumnya, tepatnya pada tahun 1920. Artinya, embrio berdirinya NU tidak luput dari semangat kebangkitan ekonomi.

Di sisi lain, walaupun berperan sebagai lembaga pendidikan agama, Pondok Pesantren di Indonesia, acapkali menanamkan spirit melahirkan santri-santri yang mandiri ekonomi, sosial, dan budaya dengan semangat gotong royong. Spirit ini dinilai cenderung positif sebagai ikhtiar dalam mewujudkan cita Indonesia Berdikari.

Sejatinya, ekonomi keummatan merupakan solusi untuk mengatasi hajat hidup, hajat mandiri, dan hajat sejahtera rakyat Indonesia yang sebenarnya. Negara dan pemerintah menyebutnya sebagai ekonomi kerakyatan. Dua istilah yang kemudian dipandang sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Pada faktanya, pemerintah cenderung fokus membangun ekonomi kerakyatan dengan sungguh-sungguh. Lahirnya semangat “Membangun Indonesia dari Pinggir” dan “Membangun Sumber Daya Manusia Indonesia dari Desa” dibuktikan dengan keberpihakan APBN dan distribusinya ke berbagai belahan desa di Indonesia.

Mengingat Pondok Pesantren Tebu Ireng merupakan saksi sejarah berdirinya NU di Indonesia, para penggiat kegiatan Silaturrahim Nasional, mempelajari dengan seksama betapa pesantren ini dapat dijadikan sebagai role model Pusat Pergerakan Ekonomi Keumatan Berbasis Pesantren, sebab, meskipun posisinya berada di Jawa Timur, namun wilayah pendampingannya ternyata sudah sampai ke berbagai pelosok wilayah Indonesia.

Silaturrahim Nasional ini diisi dengan Dialog Solutif, dengan menghadirkan Bapak Ir. Mindo Sianipar (Anggota DPR RI Komisi IV). Ia adalah seorang penggiat Ekonomi Kerakyatan yang berpusat di Kabupaten Mojokerto sekitarnya melalui ragam kegiatan budi daya pertanian, peternakan, kelautan, dan perikanan yang sdh berpuluh puluh tahun lamanya menggerakkan ekonomi rakyat hampir diseluruh pelosok nusantara sebagai tugas yang diemban beliau dari partai politik beliau.

Selanjutnya, seyogyanya Bapak Saefullah Mashum, Ketua Umum JHQ-NU 2018-2023 dan Ketua Yayasan Gerakan Kebajikan Pancasila, yang secara khusus akan mendeskripsikan perkembangan pergerakan dan kebangkitan ekonomi ummat di lingkungan NU dan Pondok Pesantren hadir bersama kita, akan tetapi tugas mendadak beliau keArab Saudi membuat beliau tdk bs bersama sama dgn kita sembari memohon kemaafan dari kita semua. Dan yang teramat pentingnya, penyelenggara secara khusus juga menghadirkan KH Solahuddin Wahid (Gus Solah), sebagai Tokoh Senior di tubuh NU dan Pondok Pesantren di Indonesia sekaligus Pengasuh pondok pesantren Tebuireng.

Tujuan Silaturrahim Nasional ini, antara lain: pertama, membangun sinergitas dan membangkitkan kembali semangat gotong royong dalam bingkai pengembangan ekonomi keummatan. Kedua, mendorong peran pemerintah dalam keberpihakan pengembangan ekonomi keummatan. Ketiga, memperkuat pengembangan Sumber Daya Manusia dimulai dari Desa dan Pesantren. Keempat, memperkuat peran desa untuk mengelola diri sendiri secara mandiri melalui penguatan aliran dana APBN ke Desa dan Pesantren di Indonesia.

Sejauh ini, tujuan di atas mencoba membingkai ragam problematika dan peluang dalam menatap Kebangkitan Ekonomi Keummatan Berbasis Pesantren Sebagai Ikhtiar dalam Mewujudkan Indonesia Berdikari di masa depan.