Eksistensi Dodol
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Sekali lagi saya katakan bahwa sejarah tidak dapat menjamin kemajuan sebuah kota. Apalagi jika pemerintah daerah tidak begitu memprioritaskan pelestarian kebudayaan dan peninggalan sejarah di kota itu. Dalam tulisan ini saya akan menulis mengenai sebuah asset sejarah dan ekonomi di Tanjung Pura yaitu tentang dodol.

Di Sumatera Utara ini, ada beberapa daerah yang memiliki makanan khas dodol di daerah mereka seperti Mandailing Natal, Serdang Bedagai, dan Langkat. Untuk daerah Langkat khususnya di Tanjung Pura sendiri, usaha dodol kemungkinan masuk sejak awal kemerdekaan. Belum diketahui siapa yang pertama kali membuka usaha dodol di Tanjung Pura namun usaha ini sangat membantu perekonomian masyarakat desa Paya Perupuk dan Pematang Tengah, serta separuh masyarakat Desa Serapuh. Desa-desa yang saya sebutkan tadi itu memang terkenal dengan penghasil dodol. Jika kita melewati jalan besar mau ke Aceh di Tanjung Pura akan terlihat kios-kios dodol yang persis berada di pinggir jalan. Penamaan dodol ini juga unik karena biasanya dodol itu dinamakan sesuai dengan penjual itu atau nama anak mereka yang dipercaya membawa keberuntungan dan berkah. Adapun dodol yang terkenal di Tanjung Pura adalah Dodol Ria, Dodol Pak UL, Dodol Rian, Dodol Isya, Dodo Supawi dan lain sebagainya. Tak hanya membuka kios di pinggir jalan depan rumah saja, para pengusaha dodol juga mengirim dodol mereka ke daerah luar provinsi seperti Aceh dan Riau.

Nah ada dua hal yang bisa direkomendasikan dari penulis untuk meningkatkan dan mempertahankan usaha dodol agar tidak tergerus zaman serta menjadi persaingan sehat antara usaha dodol yang besar dan yang kecil yaitu, Pertama, bahwa menurut penelitian penulis dari data Musrenbang Kecamatan Tanjung Pura Februari 2018 kemarin, tidak ada satu pun usulan dari pihak Desa dan Kecamatan yang mengusulkan kemajuan usaha dodol di Tanjung Pura. Ada apa ini ? menurut penulis karena mereka sudah nyaman dengan keadaan saat ini. Namun jika bertahan di level ‘nyaman’ itu sampai kapan, karena kita mengetahui Pemerintah Serdang Bedagai sangat mendukung usaha dodol di daerah mereka sehingga menjadi Icon daerah. Oleh karena itu penulis berharap pemerintah Desa dan Kecamatan setempat lebih peduli dan dapat mengusulkan cara-cara untuk meningkatkan kemajuan usaha dodol di Tanjung Pura agar perekonomian masyarakat lebih baik lagi.

Kedua, perlu adanya organisasi atau -saya sebut sebagai wadah untuk mempersatukan para pengusaha dodol itu. Saat ini belum ada wadah yang mempersatukan mereka sehingga cenderung main sendiri, maju sendiri tanpa memikirkan pengusaha dodol lain. Tujuan wadah ini adalah untuk mengorganisi dan menyatukan visi misi para pengusaha dodol itu agar dapat bekerja sama dan maju bersama. Manfaat lain adalah dengan adanya wadah tersebut maka Pemerintah Daerah juga lebih mudah membuat program dan bantuan dana untuk para pengusaha dodol lewat wadah tadi.

Itu tadi dua hal yang mesti diperhatikan baik oleh Pemerintah setempat maupun para pengusaha dodol di Tanjung Pura. Semoga dapat bermanfaat bagi kemajuan usaha dodol di Tanjung Pura sampai kapan pun.

Penulis adalah Aulia Rahman, M.Pd (Dosen STAI JM Tanjung Pura Langkat)